<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2606071805279753426</id><updated>2011-07-28T21:05:48.490-07:00</updated><title type='text'>Tarbiyah ilal Haq</title><subtitle type='html'>Menuju Kebersihan Hati dan Aqidah yang lurus</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Dhany</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06267143366179759089</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sy2ltTN_HwI/AAAAAAAAADI/ubrHlxmxRnw/S220/aku.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>49</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2606071805279753426.post-4205383991453369328</id><published>2010-08-12T10:12:00.000-07:00</published><updated>2010-08-12T10:14:40.512-07:00</updated><title type='text'>Kelezatan Ubudiyah di Bulan Penuh Berkah</title><content type='html'>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan merasakan lezatnya keimanan, orang yang merasa ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul.” (HR. Muslim dari al-Abbas bin Abdul Muthallib radhiyallahu’anhu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan Ramadhan adalah musim kebaikan, tatkala pintu-pintu surga dibuka dan semua pintu neraka ditutup. Di bulan ini Allah mewajibkan shaum atau shiyam Ramadhan. Sebuah ibadah yang sangat dicintai oleh Allah ta’ala. Dengan menjalani puasa selama sebulan ini seorang hamba dididik untuk mengendalikan dirinya, meninggalkan hal-hal yang disukai oleh nafsunya demi menggapai kecintaan dan keridhaan Rabbnya. Sebuah bentuk ibadah yang mencakup tiga sisi kesabaran; sabar dalam menjalankan ketaatan, sabar dalam menjauhi kemaksiatan, dan sabar dalam menerima takdir yang terasa menyakitkan. Dengan menahan lapar dan dahaga, semenjak terbit fajar di pagi buta hingga terbenamnya matahari di kala senja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berpuasa Ramadhan, maka seorang hamba berupaya menegakkan agamanya, melengkapi keimanannya, menggapai ampunan dan pahala dari Tuhannya, dan menempa diri untuk menjadi pribadi yang bertakwa; pribadi yang patuh kepada Rabbnya. Disamping itu, ternyata pada bulan Ramadhan masih terdapat ibadah-ibadah lainnya yang tidak khusus diperintahkan pada bulan ini saja, namun ia bersifat umum -di bulan apa pun- selama seorang hamba masih diberi usia dan mampu untuk menjalankannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpuasa, berarti menunaikan tugas hidup kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56). Puasa adalah ibadah yang kita diperintahkan untuk menunaikannya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian mudah-mudahan kalian menjadi orang yang bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 183)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa, ibadah yang sangat dicintai-Nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa Ramadhan adalah ibadah yang wajib ditunaikan, sedangkan ibadah yang wajib lebih dicintai daripada ibadah sunnah, apalagi puasa Ramadhan merupakan rukun Islam. Allah ta’ala berfirman dalam hadits qudsi, “Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu ibadah yang lebih Aku cintai daripada ibadah yang Aku wajibkan kepadanya…” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Islam dibangun di atas lima pilar; syahadat bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan sholat, menunaikan zakat, haji ke Baitullah, dan berpuasa Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa, sebuah ketetapan yang harus diterima&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah pantas bagi seorang yang beriman lelaki atau perempuan, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara lantas ada bagi mereka alternatif yang lainnya. Barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah tersesat dengan kesesatan yang amat nyata.” (QS. al-Ahzab: 36).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa, dapat menggugurkan dosa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia bergelimang dengan salah dan dosa, maka berkat rahmat dari-Nya Allah menjadikan ibadah yang agung ini sebagai salah satu sebab penghapusan dosa, namun hal ini khusus diberikan kepada hamba-Nya yang ikhlas dan mengikuti tuntunan dalam menjalankannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena dorongan iman dan mencari pahala maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah berlalu.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalat lima waktu, jum’at yang satu menuju jum’at yang lain, Ramadhan yang satu menuju Ramadhan yang lain, merupakan penghapus dosa yang terjadi di antaranya, selama perbuatan dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa, bukan sekedar menahan lapar dan dahaga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa itu bukan sekedar menahan dari makan dan minum, akan tetapi puasa yang sebenarnya ialah dengan menahan diri dari kesia-siaan dan perbuatan kotor.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan al-Hakim, sanadnya sahih dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhhu). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Betapa banyak orang yang berpuasa namun yang didapatkannya hanyalah lapar dan dahaga.” (HR. Ibnu Majah, ad-Darimi, Ahmad, al-Baihaqi, sanadnya sahih dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda mengenai ihsan, “Hendaknya kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihat-Nya, apabila kamu tidak sanggup -beribadah seolah-olah- melihat-Nya maka sesungguhnya Dia maha melihat dirimu.” (HR. Muslim dari Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus ikhlas dan sesuai tuntunan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya seluruh amalan dinilai berdasarkan niatnya. Dan setiap orang akan dibalas sesuai dengan apa yang diniatkannya. Maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya, niscaya hijrahnya akan sampai kepada Allah dan rasul-Nya. Namun, barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin diraihnya atau karena perempuan yang ingin dinikahinya, niscaya hijrahnya hanya akan memperoleh apa yang diniatkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang membuat-buat dalam urusan agama kami ini sesuatu yang bukan bagian darinya, niscaya hal itu tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpuasa dan berhari raya dengan patokan hilal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hilal adalah bulan sabit kecil yang tampak di awal bulan hijriyah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berpuasalah karena melihatnya -hilal- dan berhari rayalah karena melihatnya. Apabila ia -hilal Ramadhan- tertutup mendung maka genapkanlah bulan -sebelumnya, yaitu Sya’ban- menjadi tiga puluh hari.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu). Apabila hilal sudah tampak dengan persaksian minimal satu orang kemudian diterima dan ditetapkan oleh pihak yang berwenang di suatu negara, maka saat itulah kaum muslimin memulai puasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa ialah tatkala kalian bersama-sama puasa, demikian juga hari raya ialah ketika kalian bersama-sama berhari raya.” (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, sahih). Adapun untuk penetapan hari raya dibutuhkan minimal dua saksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berpuasa di hari yang diragukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari yang diragukan adalah tanggal tiga puluh bulan Sya’ban, dan terkadang ketika itu sudah tersebar berita tampaknya hilal di sebagian tempat namun belum ditetapkan oleh pihak yang berwenang bahwa  hari tersebut adalah awal puasa. Maka berpuasa pada hari itu adalah terlarang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa pada hari yang diragukan itu maka dia telah durhaka kepada Abul Qasim -yaitu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam-.” (HR. As-habus Sunan dengan sanad sahih dan Bukhari secara mu’allaq dari ‘Ammar bin Yasir radhiyallahu’anhuma).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musafir dan orang sakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila orang sakit -yang masih bisa diharapkan kesembuhannya- dan musafir tidak mendapati kesusahan dengan berpuasa maka puasa lebih utama, namun apabila ternyata dengan puasa justru semakin menyusahkan maka tidak puasa lebih utama. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Maka barangsiapa di antara kalian yang menderita sakit atau sedang menempuh perjalanan/safar hendaknya dia menggantinya di hari-hari yang lain.” (QS. al-Baqarah: 184). Suatu ketika Hamzah bin Amr al-Aslami pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai hukum puasa ketika safar, maka beliau menjawab, “Kalau kamu mau silahkan puasa, dan kalau kamu mau maka silahkan berbuka.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha). Berbuka ketika safar adalah keringanan/rukhshah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya hal itu adalah keringanan dari Allah, barangsiapa yang mengambilnya maka itu baik, dan barangsiapa yang ingin untuk berpuasa maka tidak ada dosa atasnya.” (HR. Muslim dari Hamzah bin Amr al-Aslami radhiyallahu’anhu). Puasa boleh saja selama hal itu tidak memberatkan si musafir. Karena apabila justru memberatkan maka semestinya dia berbuka. Oleh sebab itu di kesempatan yang lain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Bukan termasuk kebaikan berpuasa ketika safar.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Jabir radhiyallahu’anhu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan haidh dan nifas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila seorang perempuan mendapati haidh atau nifas pada suatu waktu dalam suatu hari, entah di awal siang atau di akhirnya maka dia harus berbuka -tidak meneruskan puasa- dan mengganti puasa di hari yang lain. Seandainya dia tetap berpuasa, maka puasanya tidak sah. Mu’adzah pernah bertanya kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Mengapa perempuan haidh mengqadha’ puasa namun tidak mengqadha’ sholat?”. Maka beliau menjawab, “Apakah kamu penganut Haruriyah (Khawarij)?!”. Aku berkata, “Bukan, aku hanya ingin bertanya.” Maka beliau berkata, “Dahulu kami mengalami hal itu dan kami hanya diperintahkan untuk mengqadha’ puasa namun kami tidak diperintahkan mengqadha’ sholat.” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu hamil dan menyusui&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu hamil dan menyusui apabila tidak sanggup/tidak kuat berpuasa atau mengkhawatirkan kesehatan bayi atau janinnya maka boleh tidak puasa dan cukup membayar fidyah berupa makanan yang cukup mengenyangkan untuk satu orang miskin sebagai ganti setiap hari yang ditinggalkannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla menggugurkan kewajiban puasa dan separuh sholat bagi musafir, dan juga menggugurkan kewajiban puasa bagi ibu hamil dan menyusui.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, hasan). Suatu ketika, Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma ditanya mengenai ibu hamil yang mengkhawatirkan kondisi janinnya jika dia tetap berpuasa, maka beliau menjawab, “Hendaknya dia berbuka dan memberi makan (fidyah) kepada orang miskin setiap harinya sebanyak satu mud gandum.” (HR. al-Baihaqi dengan sanad sahih). Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma juga berkata, “Ibu hamil dan menyusui berbuka dan tidak perlu mengqadha’.” (HR. ad-Daruquthni, sahih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakek-kakek dan nenek-nenek&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakek-kakek dan nenek-nenek atau orang yang menderita sakit parah dan sulit diharapkan sembuh maka tidak perlu puasa dan cukup memberikan makan bagi satu orang miskin sebagai ganti setiap hari puasa yang ditinggalkannya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Bagi orang-orang yang tidak mampu melakukan puasa itu hendaknya membayar fidyah berupa makanan bagi orang miskin.” (QS. al-Baqarah: 184). Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma berkata, “Ayat ini tidak dihapus hukumnya, akan tetapi ia masih berlaku bagi lelaki dan perempuan yang sudah tua renta dan tidak mampu lagi berpuasa sehingga mereka hanya perlu memberikan makan untuk satu orang miskin demi mengganti setiap hari yang ditinggalkannya.” (HR. Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak kecil dan orang gila&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kewajiban puasa ini pun gugur bagi anak kecil yang belum baligh ataupun orang gila. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pena diangkat dari tiga golongan; dari orang gila sampai dia sembuh, dari orang yang tertidur sampai dia bangun, dan dari anak kecil sampai dia ihtilam/mimpi basah.” (HR. Abu Dawud, sahih dari Aisyah radhiyallahu’anha)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembatal puasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makan, minum, muntah, dan berhubungan suami istri secara sengaja membatalkan puasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang lupa padahal dia sedang puasa kemudian makan dan minum maka hendaknya dia menyempurnakan puasanya, karena Allah lah yang memberi makan dan minum kepadanya.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu). Dalam lafal yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang membatalkan puasa pada suatu hari di bulan Ramadhan dalam keadaan lupa maka tidak ada qadha’ baginya dan tidak pula kaffarah/tebusan.” (HR. ad-Daruquthni, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, al-Hakim, sanadnya sahih dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang muntah secara tidak sengaja maka tidak ada qadha’ baginya, namun barangsiapa yang secara sengaja muntah maka hendaknya dia mengqadha’/menggantinya di hari yang lain.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, ad-Daruquthni sahih dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaffarah berhubungan suami istri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila seorang lelaki dengan sengaja melakukan hubungan suami istri di siang hari bulan Ramadhan maka dia wajib membayar kaffarah/tebusan dengan ketentuan sebagaimana dalam hadits berikut. Dikisahkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, suatu ketika ada seorang lelaki yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan melapor, “Wahai Rasulullah, aku binasa.” Beliau berkata, “Apa yang membuatmu binasa?”. Dia menjawab, “Aku telah berhubungan dengan istriku di -siang hari- bulan Ramadhan.” Maka Nabi mengatakan, “Apakah kamu mampu untuk memerdekakan seorang budak.” Dia menjawab, “Tidak.” Lalu beliau berkata, “Apakah kamu mampu berpuasa dua bulan berturut-turut?”. Maka dia menjawab, “Tidak.” Lalu beliau berkata, “Apakah kamu mampu memberikan makanan untuk enam puluh orang miskin?”. Dia menjawab, “Tidak.” Lantas beliau berkata, “Duduklah.” Kemudian dia duduk. Lalu setelah itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapat pemberian sekeranjang kurma. Kemudian Nabi bersabda, “Bersedekahlah dengannya!”. Maka lelaki itu menjawab, “Tidak ada orang di antara kedua lembah ini yang lebih miskin daripada kami.” Maka Nabi pun tertawa sampai tampak gigi taringnya, lalu beliau bersabda, “Ambil ini, dan beri makan keluargamu dengannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertekad puasa di malam harinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang tidak membulatkan tekad untuk berpuasa sebelum fajar/subuh maka tiada puasa baginya.” (HR. As-habus Sunan, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban, sanadnya sahih). Sementara, tekad atau niat itu tempatnya di dalam hati, sehingga tidak perlu diucapkan. Seandainya apa yang diucapkan menyelisihi apa yang di dalam hati, maka yang menjadi patokan adalah apa yang di dalam hati. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengajarkan untuk mengucapkan niat maka kita pun tidak usah mengucapkannya. Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan di dalam urusan agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauhilah penyimpangan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Hendaknya merasa takut orang-orang yang menyelisihi perintah/urusan rasul itu, sebab mereka nanti akan tertimpa fitnah/bencana atau menimpa mereka azab yang sangat pedih.” (QS. an-Nuur: 63). Imam Malik rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang menciptakan suatu bid’ah yang dia pandang sebagai kebaikan, maka sesungguhnya dia telah menuduh Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah mengkhianati risalah…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menuai berkah dengan makan sahur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Makan sahurlah, karena sesungguhnya di dalam santap sahur itu terkandung berkah.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pemisah antara puasa kita dengan puasa ahli kitab adalah makan sahur.” (HR. Muslim dari Amr bin al-’Ash radhiyallahu’anhu). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik hidangan sahur seorang mukmin adalah kurma.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Hibban, al-Baihaqi dengan sanad sahih dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Makan sahurlah, meskipun hanya dengan seteguk air.” (HR. Abu Ya’la dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, hasan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengakhirkan sahur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendaknya menunaikan sahur beberapa saat menjelang adzan dikumandangkan. Anas bin Malik radhiyallahu’anhu meriwayatkan dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu’anhu, dia berkata, “Dahulu kami pernah sahur bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian setelah itu beliau pun bangkit menuju sholat -Subuh berjama’ah, pent-.” Aku -Anas- berkata, “Berapa lama jarak antara adzan dan sahur?”. Dia (Zaid) menjawab, “Sekitar -lamanya waktu membaca- lima puluh ayat.” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batas akhir santap sahur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Silahkan makan dan minum sampai jelas bagimu perbedaan antara benang putih dengan benang hitam, yaitu terbitnya fajar.” (QS. al-Baqarah: 187). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menafsirkan, “Yang dimaksud dengannya adalah hitamnya malam dan putihnya siang.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Adi bin Hatim radhiyallahu’anhu). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Fajar itu ada dua. Adapun yang pertama, maka ia tidak menyebabkan tidak bolehnya makan (sahur) dan tidak menyebabkan bolehnya sholat (subuh). Sedangkan yang kedua menyebabkan tidak boleh lagi makan (sahur) dan membolehkan sholat (subuh).” (HR. Ibnu Khuzaimah, al-Hakim, ad-Daruquthni, al-Baihaqi, sanadnya sahih dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian sudah mendengar adzan sementara bejana (gelas atau sendok, pent) masih di tangannya maka janganlah dia letakkan sampai dia selesai menunaikan kebutuhannya dari bejana tersebut.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Jarir, al-Hakim, al-Baihaqi, Ahmad dengan sanad hasan dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu). Dalil-dalil ini menunjukkan dengan jelas bahwa batas akhir makan sahur adalah pada saat berkumandangnya adzan, yaitu ketika terbit fajar shodiq, bukan sepuluh menit sebelum adzan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua raka’at qabliyah subuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dua raka’at fajar -yaitu sebelum subuh, pent- adalah lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang tidak sempat melakukan sholat dua raka’at fajar maka hendaknya dia menunaikannya setelah matahari terbit.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Hibban, sahih dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu). Abu Hurairah radhiyallahu’anhu menceritakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya membaca dalam dua raka’at fajar (qabliyah subuh) ‘Qul yaa ayyuhal kafirun’ dan ‘Qul huwallahu ahad’.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sholat subuh berjama’ah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sholat yang paling berat bagi kaum munafikin adalah sholat ‘isyak dan subuh -berjama’ah-, seandainya mereka mengetahui pahala yang ada pada keduanya niscaya mereka akan mendatanginya meskipun harus sambil merangkak.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mendengar seruan adzan lantas tidak mendatanginya -sholat jama’ah- maka tiada sholat baginya, kecuali karena ada udzur yang menghalanginya.” (HR. Ibnu Majah, al-Hakim, al-Baihaqi, sahih dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian larang istri-istri kalian untuk berangkat ke masjid, namun sebenarnya rumah-rumah mereka itu lebih baik bagi mereka -untuk sholat di sana, pent-.” (HR. Abu Dawud, Ahmad, sahih dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luruskan shof!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Luruskan shof-shof kalian, sesungguhnya lurusnya shof adalah bagian dari kesempurnaan sholat.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dzikir setelah subuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummu Salamah radhiyallahu’anha menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengucapkan doa setelah salam dari menunaikan sholat Subuh, ‘Allahumma inni as’aluka ‘ilman nafi’an wa rizqan thayyiban wa ‘amalan mutabbalan’ (Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezki yang baik, dan amal yang diterima) (HR. Ibnu Majah dan Ahmad, sahih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manfaatkan waktu sebaik mungkin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Demi waktu, sesungguhnya semua orang benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati untuk menetapi kesabaran.” (QS. al-’Ashr: 1-3). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada dua buah nikmat yang banyak orang tertipu dalam menyikapinya; yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbanyak dzikir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku pun akan mengingat kalian, dan bersyukurlah kepada-Ku serta janganlah kalian kufur/ingkar.” (QS. al-Baqarah: 152). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, ingatlah Allah dengan sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (QS. al-Ahzab: 41-42). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Dzikir bagi hati laksana air bagi ikan, maka apakah yang terjadi pada seekor ikan tatkala ia dipisahkan dari air?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan tinggalkan sholat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya batas antara seseorang dengan kemusyrikan dan kekafiran adalah meninggalkan sholat.” (HR. Muslim dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu’anhuma). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perjanjian antara kami dengan mereka adalah sholat, barangsiapa yang meninggalkannya sungguh dia telah kafir.” (HR. Ibnu Majah, Nasa’i, Tirmidzi, sahih dari Buraidah radhiyallahu’anhu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaga lisan dan anggota badan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya dia berkata baik atau diam saja.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Salah satu ciri kebaikan Islam seseorang adalah dia meninggalkan hal-hal yang tidak penting baginya.” (HR. Tirmidzi, dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, hasan). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila pada suatu hari salah seorang dari kalian sedang berpuasa, janganlah dia berkata-kata kotor, berteriak-teriak ataupun betindak dungu. Kalaupun ada orang yang mencaci-maki dirinya hendaklah dia katakan kepadanya; Saya ini sedang puasa.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetap jaga pandangan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, itu semua akan dimintai pertanggungjawabannya.” (QS. al-Israa’: 36). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah kepada para lelaki yang beriman; Hendaknya mereka menundukkan pandangan mereka serta menjaga kemaluan mereka, hal itu pasti lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah maha teliti terhadap apa pun yang mereka lakukan.” (QS. an-Nuur: 30). Allah ta’ala juga berfirman kepada kaum perempuan (yang artinya), “Hendaklah kalian tetap di rumah kalian dan janganlah kalian berdandan -mengumbar aurat, pent- seperti halnya cara dandan kaum jahiliyah yang pertama…” (QS. al-Ahzab: 33)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauhi musik dan nyanyian!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya akan ada di antara umatku sekelompok orang yang menghalalkan kemaluan (zina), sutera, khamr, dan ma’azif (alat-alat musik).” (HR. Bukhari secara mu’allaq dengan nada tegas, sahih dari Abu Amir atau Abu Malik al-Asy’ari radhiyallahu’anhu). Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Nyanyian akan menumbuhkan kemunafikan di dalam hati.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saatnya untuk menghentikan rokok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak sempurna keimanan salah seorang dari kalian sampai dia menyukai bagi saudaranya apa (kebaikan) yang disukainya bagi dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak boleh mendatangkan bahaya, secara sengaja ataupun tidak sengaja.” (HR. Ibnu Majah, ad-Daruquthni, sahih dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu’anhu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan pelit!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Harta tidak akan berkurang karena sedekah. Tidaklah seorang hamba memaafkan melainkan Allah akan tambahkan kemuliaan baginya. Dan tidaklah seorang pun yang bersikap tawadhu’/rendah hati melainkan pasti akan ditinggikan kedudukannya oleh Allah ta’ala.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera berbuka jika sudah tiba saatnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang-orang -umat Islam- akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka senantiasa menyegerakan berbuka.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu’anhu). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila malam telah datang dari arah sana dan siang telah pergi dari arah sana dan matahari pun sudah tenggelam maka orang yang berpuasa sudah -boleh- berbuka.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Umar radhiyallahu’anhu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doa sebelum berbuka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma menceritakan bahwa, “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila hendak berbuka maka beliau membaca doa, ‘Dzahabadh dhama’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah’ (akan hilang dahaga, terbasahi kerongkongan, dan pahala pun didapatkan dengan izin Allah).” (HR. Abu Dawud, hasan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makan dengan tangan kanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar bin Abu Salamah radhiyallahu’anhu berkata: Dahulu sewaktu kecil aku diasuh oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, suatu saat tanganku berkeliaran di atas tempat hidangan, maka beliau berkata kepadaku, “Hai nak! Sebutlah nama Allah (baca bismillah), makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang dekat denganmu.” Umar berkata, “Semenjak itu maka cara makanku adalah selalu seperti itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menirukan bacaan mu’adzin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian mendengar seruan (adzan) maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkan mu’adzin.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu’anhu). Adapun bacaan al-Hai’alatain -yaitu hayya ‘alash sholah dan hayya ‘alal falah- maka diganti dengan laa haula wa laa quwwata illa billaah (HR. Muslim dari Umar radhiyallahu’anhu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sholat tahiyyatul masjid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian masuk masjid maka janganlah dia duduk sampai dia melakukan sholat dua raka’at.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Qatadah radhiyallahu’anhu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sholat sunnah di antara adzan dan iqomah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap di antara dua adzan -maksudnya antara adzan dan iqomah- ada sholat. Setiap di antara dua adzan ada sholat.” Kemudian pada ketiga kalinya beliau berkata, “Bagi yang mau melakukannya.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mughaffal radhiyallahu’anhu). Namun, apabila iqomah sudah dikumandangkan dan imam pun sudah siap maka sholat sunnah tersebut hendaknya segera diselesaikan jika tinggal sedikit atau diputus. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila sholat sudah akan didirikan (iqomah sudah dikumandangkan) maka tidak ada lagi sholat selain sholat wajib.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalat sunnah rawatib&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma berkata, “Aku menghafal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sepuluh raka’at; dua raka’at sebelum zhuhur, dua raka’at sesudahnya, dua raka’at setelah maghrib, dua raka’at setelah ‘isyak, dan dua raka’at sebelum sholat subuh…” (HR. Bukhari). Aisyah radhiyallahu’anha berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan sholat empat raka’at sebelum zhuhur dan dua raka’at sebelum subuh.” (HR. Bukhari). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang melakukan sholat-sunnah- dua belas raka’at setiap sehari semalam niscaya akan dibangunkan untuknya sebuah rumah di surga.” (HR. Muslim dari Ummu Habibah radhiyallahu’anha)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdoa antara adzan dan iqomah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan tertolak doa yang dipanjatkan di antara adzan dan iqomah.” (HR. Nasa’i dan dinyatakan sahih oleh Ibnu Khuzaimah dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan tergesa-gesa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian telah mendengar iqomah maka berjalanlah menuju sholat dan tetaplah kalian bersikap tenang dan sopan. Jangan terburu-buru, apa yang kalian dapati maka sholatlah -sebagaimana imam- dan apa yang terluput maka sempurnakanlah -sesudah imam selesai-.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila hidangan sore telah tersaji maka dahulukan menikmatinya sebelum kalian sholat maghrib.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doa keluar masjid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fathimah menceritakan bahwa dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila akan masuk masjid maka beliau membaca doa, ‘Bismillah, wassalamu ‘ala rasulillah. Allahummaghfirli dzunubi, waftahli abwaba rahmatik’ (dengan menyebut nama Allah dan semoga keselamatan tercurah kepada Rasulullah. Ya Allah, ampunilah dosaku dan bukakan untukku pintu-pintu rahmat-Mu). Adapun apabila hendak keluar maka beliau membaca ‘Bismillah, wassalamu ‘ala rasulillah. Allahummaghfirli dzunubi, waftahli abwaba fadhlik’ (dengan menyebut nama Allah dan semoga keselamatan tercurah kepada Rasulullah. Ya Allah, ampunilah dosaku dan bukakan untukku pintu-pintu karunia-Mu) (HR. Ibnu Majah, sahih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doa masuk masjid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu’anhuma berkata, “Kebiasaan beliau -Nabi- apabila hendak masuk masjid maka beliau membaca A’uudzu billaahil ‘azhim wa biwajhihil kariim wa sulthanihil qadiim minasy syaithaanir rajiim (Aku berlindung kepada Allah yang maha agung dan dengan wajah-Nya yang mulia serta kekuasaan-Nya yang ada semenjak dulu kala, dari godaan syaithan yang terkutuk).” (HR. Abu Dawud, sahih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila terlambat sholat jama’ah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian mendatangi sholat -berjama’ah- sedangkan imam sedang berada dalam suatu keadaan/posisi maka lakukanlah sebagaimana yang dilakukan oleh sang imam.” (HR. Tirmidzi dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu, sahih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sholat Tarawih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sholat yang paling utama setelah sholat wajib adalah sholat malam.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menegakkan sholat malam di bulan Ramadhan karena dorongan iman dan mencari pahala niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah berlalu.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu). Aisyah radhiyallahu’anha berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah di bulan Ramadhan ataupun di bulan yang lainnya lebih dari sebelas raka’at…” (HR. Bukhari dan Muslim). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sholat malam itu dua-dua (salam setiap 2 roka’at, pent)…” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya apabila seseorang sholat -tarawih, pent- bersama imam sampai selesai maka dihitung baginya pahala sholat semalam suntuk.” (HR. Abu Dawud dan Nasa’i dari Abu Dzarr radhiyallahu’anhu, sahih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbanyak membaca al-Qur’an&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari dari Utsman bin Affan radhiyallahu’anhu). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah akan mengangkat kedudukan sebagian kaum karena Kitab ini dan akan merendahkan sebagian yang lain karena Kitab ini pula.” (HR. Muslim dari Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pahami kandungan al-Qur’an&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki menjadi baik oleh Allah, maka akan dipahamkan dalam urusan agama.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Mu’awiyah bin Abu Sufyan radhiyallahu’anhu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hisablah dirimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengucapkan sesuatu yang kalian sendiri tidak mengerjakannya. Amat besar kemurkaan di sisi Allah kalian mengucapkan sesuatu yang kalian sendiri tidak mengerjakannya.” (QS. ash-Shaff: 2-3). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan bergeser dua telapak kaki anak Adam pada hari kiamat hingga ditanyakan kepadanya mengenai empat perkara..” Salah satunya beliau sebutkan, “Tentang ilmunya, apa yang sudah dia amalkan dengannya.” (HR. Tirmidzi, dari Abu Barzah al-Aslami radhiyallahu’anhu hasan sahih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dzikir sebelum tidur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu menceritakan bahwa suatu ketika istrinya Fathimah -radhiyallahu’anha- meminta diberikan pembantu kepada ayahnya yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka beliau bersabda, “Maukah ku tunjukkan kepadamu sesuatu yang lebih baik bagimu daripada pembantu. Apabila kamu hendak berbaring ke tempat tidur bacalah tasbih -Subhanallah- tiga puluh tiga kali, bacalah tahmid -Alhamdulillah- tiga puluh tiga kali, dan bacalah takbir -Allahu akbar- tiga puluh tiga kali.” Ali pun berkata, “Aku tidak pernah meninggalkannya semenjak aku mendengarnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjuangan di sepuluh hari terakhir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aisyah radhiyallahu’anha berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersungguh-sungguh -dalam beribadah- pada sepuluh hari terakhir -Ramadhan- lebih daripada kesungguhan beliau pada hari-hari yang lainnya.” (HR. Muslim). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Carilah lailatul qadar (malam kemuliaan) pada [malam ganjil] sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunaikan zakat fithri di akhir Ramadhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk menunaikan zakat Ramadhan seukuran satu sho’ makanan, dari anak kecil, orang tua, orang merdeka maupun budak.” (HR. Ibnu Khuzaimah, sahih). Abdul Warits bertanya kepada Ayyub [salah seorang murid Ibnu Umar], “Kapan Ibnu Umar biasa menyerahkan sho’ -zakatnya-?”. Dia -Ayyub- menjawab, “Ketika amil (petugas khusus) sudah duduk -membuka layanan-.” Aku -Abdul Warits- berkata, “Lalu kapan amil itu mulai bertugas?”. Ayyub menjawab, “Sebelum -iedul- fithri sehari atau dua hari.” (HR. Ibnu Khuzaimah). Dan zakat ini disalurkan kepada orang-orang miskin, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “… ia merupakan bahan makanan untuk orang-orang miskin…” (HR. Ibnu Majah, Abu Dawud dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma, hasan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah sebagian rangkaian ibadah wajib maupun sunnah yang bisa ditunaikan di bulan Ramadhan. Semoga Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang melimpahkan kepada kita ilmu yang bermanfaat, memberikan taufik kepada kita untuk mengamalkannya, dan mengampuni segala dosa dan kesalahan kita. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2606071805279753426-4205383991453369328?l=tarbiyahilalhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/feeds/4205383991453369328/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/08/kelezatan-ubudiyah-di-bulan-penuh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/4205383991453369328'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/4205383991453369328'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/08/kelezatan-ubudiyah-di-bulan-penuh.html' title='Kelezatan Ubudiyah di Bulan Penuh Berkah'/><author><name>Dhany</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06267143366179759089</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sy2ltTN_HwI/AAAAAAAAADI/ubrHlxmxRnw/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2606071805279753426.post-4432745947847853003</id><published>2010-08-10T08:21:00.000-07:00</published><updated>2010-08-10T08:22:44.944-07:00</updated><title type='text'>Kesehatan Puasa, Mengurangi Kolesterol, Asam Urat, Gula darah dan lain sebagainya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/TGFuv7x_WiI/AAAAAAAAAIw/yyq_vlG8y0A/s1600/copy-of-produk-pangan-hewani.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 223px; height: 203px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/TGFuv7x_WiI/AAAAAAAAAIw/yyq_vlG8y0A/s400/copy-of-produk-pangan-hewani.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5503801989403728418" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk merubah kualitas seseorang dari Iman menjadi Takwa dibutuhkan 3 tahap. Masing-masing sekitar 10 hari. Rasulullah mengatakan bahwa puasa Ramadhan selama sebulan itu dibagi menjadi 3 tahap. Yaitu, sepuluh hari pertama berisi Rahmat. Sepuluh hari kedua berisi Ampunan alias Maghfirah. Dan sepuluh hari terakhir berisi dengan Nikmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks ‘penyembuhan’ yang kita bahas di depan, 3 tahap proses ini menemukan kesamaannya. Yaitu, proses detoksifikasi alias penggelontoran racun, proses rejuvenasi atau peremajaan, dan proses stabilisasi atau pemantapan kondisi. Hal ini bisa bermakna lahiriah maupun batiniah sekaligus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara lahiriah, tiga tahapan dalam puasa Ramadhan itu menggambarkan terjadinya proses penyeimbangan kondisi kesehatan tubuh seseorang. Saya pernah mengadakan pengamatan sederhana terhariap sejumlah kawan-kawan yang berpuasa pada bulan Ramadhan tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum memasuki puasa Ramadhan, kami beberapa orang termasuk saya melakukan check kesehatan di laboratorium untuk mengukur kadar asam urat, kolesterol, gula darah dan SGOT/SGPT Kami ingin membandingkan kondisinya dengan setelah melakukan puasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka yang terjadi sungguh menarik untuk dicermati. Dan saya ingin melakukan pendalaman lebih lanjut tentang efek puasa Ramadhan terhariap kondisi kesehatan seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun secara umum, tiga tahapan puasa di atas memang terjadi. Dalam pengamatan itu, saya menemukan kesimpulan bahwa 10 hari pertama, kondisi kesehatan kami mengalami proses detoksifikasi alias penggelontoran racun besar besaran. Prosesnya memang bisa berbeda beda pada setiap orang. Namun secara umum terjadi penurunan kadar kolesterol, asam urat, gula darah dan SGOT/ SGPT secara dramatis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, di antara kami ada yang sebelum puasa itu memiliki kadar kolesterol sangat tinggi. Kadar kolesterol total 245 (normalnya di bawah 200 mg/dl), HDL cuma 42 (normalnya di atas 55 mg/dl), LDL mencapai kadar ‘tak terhitung’ (normalnya lebih kecil dari 150 mg/ dl), dan TG sebesar 513 (normalnya 150 mg/dl).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berpuasa selama 10 hari pertama, kami melakukan cek ulang ke lab. Hasilnya sungguh menarik. Kolesterol totalnya turun menjadi 216. HDL yang terlalu rendah meningkat menjadi 55. LDL yang terlalu tinggi (tidak terhitung) menjadi normal kembali sebesar 111. Dan Trigliserida yang 513 turun menjadi 249.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses detoksifikasi yang terjadi selama puasa 10 hari pertama itu ternyata sangat signifikan. Padahal, biasanya dalam kondisi tidak puasa, penurunan sebesar itu dilakukan dalam waktu 4 minggu menggunakan obat-obatan penurun kadar kolesterol. Itu pun harganya tergolong tidak murah. Lewat puasa, bisa dilakukan hanya dalam waktu 10 hari tanpa menggunakan obat sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badan melakukan fungsinya untuk melakukan penyeimbangan secara alamiah dengan sangat efektif pada saat kita berpuasa. Yang terlalu tinggi diturunkan. Dan yang terlalu rendah ditinggikan, secara otomatis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat proses detoksifikasi itu biasanya kita merasakan kondisi yang kurang mengenakkan badan. Ada yang merasa lemas. Ada juga yang merasa. Pusing-pusing dan demam ringan. Atau, kadang dibarengi dengan diare ringan serta air kencing yang keruh. Semua itu normal saja, karena sedang terjadi penggelontoran racun secara besar-besaran dalam tubuh kita. Gejala-gejala itu biasanya hilang dalam waktu beberapa hari, setelah badan kita beradaptasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 10 hari kedua, proses penggelontoran itu terus berlanjut. Tapi dengan kecepatan yang lebih rendah. Penggelontoran besar besaran hanya terjadi pada 10 hari pertama. Dan bersamaan dengan detoksifikasi berkecepatan rendah itu, mulai terjadi peremajaan pada bagian-bagian yang mengalami kerusakan. Sistem tubuh mulai mengarah pada keseimbangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cek laboratorium menunjukkan kecepatan penurunan semakin melambat. Pada hari ke 21, hasil lab memperlihatkan semua kadar kolesterol berangsur-angsur normal. Kolesterol total mencapai angka cukup ideal 182 mg/dl. Sedangkan HDL konstan pada 55 mg/dl. LDL semakin rendah mencapai 96 mg/dI. Dan Trigliserida menjadi 148 mg/dl.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain kolesterol, ternyata asam urat juga mengalami penyeimbangan kembali. Sebelum puasa, kadarnya 7,7 (normalnya di bawah 7 untuk laki laki). Ternyata dalam 10 hari pertama pada orang yang sama asam uratnya turun menjadi 6,6. Dan pada hari ke 21 asam urat turun lagi menjadi 6,2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 10 hari terakhir, kondisinya menuju pada keadaan seimbang. Ada penurunan namun semakin rendah kecepatannya. Yang menarik, ternyata berat badan juga mengalami proses yang seirama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 10 hari pertama, berat badan mengalami penurunan cukup besar. Diperoleh data, bahwa sebelum puasa berat badan mencapai 70 kg. Ternyata, di hari ke 11 berat badannya turun sebanyak 3 kg menjadi 67 kg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari ke 21, terukur berat badannya terus mengalami penurunan meskipun tidak sebesar periode pertama. la mengalami penurunan sekitar 1,5 kg menjadi 65,5 kg. Dan yang menarik, penurunan berat badan itu tidak berlangsung pada periode ketiga. Saat hari terakhir puasa, berat badannya justru naik kembali menjadi 66,5 kg. Sebuah berat badan ideal, karena ia memiliki postur dengan tinggi badan 169 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata benar ungkapan Rasulullah saw bahwa dalam bulan Ramadhan itu kita bakal mengalami 3 tahap proses menuju keseimbangan kondisi secara alamiah. Tahap pertama rahmat, karena Allah membersihkan badan kita dari racun-racun yang membahayakan kesehatan lewat proses detoksifikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap yang kedua adalah maghfirah atau ampunan. Dalam 10 hari kedua itu Allah benar-benar memberikan ampunan kepada hambaNya yang berpuasa dengan mengembalikan kondisi badan yang tadinya mengandung banyak sampah metabolisme menjadi bersih. Dan kemudian meremajakan kembali bagian-bagian yang rusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pada tahap ketiga, Allah menurunkan nikmatnya kepada orang-orang yang berpuasa dengan baik. Di tahap ketiga itu, badan kita berangsur-angsur menuju keseimbangan alamiahnya. Bahkan, berat badan yang tadinya mengalami penurunan, di tahap ini justru mengalami kenaikannya kembali untuk menuju kondisi normalnya. Maha benar Allah dengan segala firmanNya, sebagaimana disampaikan oleh RasulNya …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain berdampak secara lahiriah, tahapan puasa dalam bulan Ramadhan itu juga tampak dalam aktivitas yang bersifat batiniah. Pada skala batiniah, tahapan puasa memberikan motivasi yang besar kepada orang-orang yang sedang menjalankan puasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahapan itu ada kaitannya dengan sabda nabi “barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan dengan Iman dan penuh perhitungan, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang lalu maupun yang akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabda nabi ini mengarahkan kita agar tidak sembarangan dalam berpuasa. Ada dua hal yang dipersyaratkan, imanan dan wahtisaban. Yaitu ‘memahami’ dan ‘selalu mengevaluasi pelaksanaannya’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, berkaitan dengan itu, kita mengevaluasinya dalam 3 tahapan, masing-masing 10 hari. Sebab efek puasa memang tidak langsung dirasakan hari itu juga, melainkan butuh tenggang waktu untuk mengukur dampaknya. Sebagaimana yang terlihat secara lahiriah, kurun waktu 10 hari itu juga telah memperlihatkan dampaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sepuluh hari pertama, sebagaimana dampak lahiriyahnya, puasa kita akan menggelontor berbagai macam penyakit hati. Apakah penyakit hati yang bakal tergelontor? Banyak. Di antaranya adalah suka berbohong, sering menipu, pemarah, pembenci, sulit memaafkan, serakah, sombong, riya’, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kondisi ini jika kita bisa ‘menghancurkan’ penyakit penyakit batiniah itu, maka dampaknya sungguh akan baik buat kebersihan dan kelembutan hati. Bahwa hati yang berpenyakit akan mendorong kualitas hati itu menjadi semakin jelek dengan cara mengeras, membatu, tertutup dan dikunci mati oleh Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, dengan puasa, sebenarnya kita sedang memproses hati kita agar semakin melembut. Caranya, begitulah, pada tahap pertama mesti bisa melenyapkan berbagai macam penyakit hati. Usahakan agar selama 10 hari pertama itu kita tidak ‘mengamalkan’ penyakit hati sama sekali. Puasa batiniah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan marah. Jangan berbohong. Jangan membenci. Jangan menipu. Jangan iri dan dengki. Jangan sombong. Jangan berkata yang tidak berguna. Bahkan, untuk ‘berpikir’ jelek pun jangan! Dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendalikan sifat-sifat ini dengan kefahaman bahwa ini memang sifat yang merugikan siapa saja. Dan kemudian evaluasi terus, bahwa dari ke hari kemampuan kita mengendalikannya adalah semakin besar. Maka kalau kita bisa mengendalikannya selama 10 hari pertama, insya Allah kita bakal menerima rahmatNya, berupa, kondisi batiniah yang melembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja kita begitu mudahnya untuk tidak marah. Begitu mudahnya untuk tidak berbohong. Begitu mudahnya untuk tidak dengki, iri dan sombong. Serta berbagai macam penyakit hati yang dilarang oleh Allah dan RasulNya. Ya, kita telah ketularan RahmatNya rasa mengasihi dan menyayangi orang lain dan siapapun di sekitar kita dengan sepenuh keikhlasan. Itulah 10 hari pertama dimana Allah menurunkan Rahmat bagi orang-orang yang baik puasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepuluh hari ke 2 adalah ketika Allah menurunkan ampunanNya kepada hamba-hamba yang berpuasa. Ketika seseorang bisa mengendalikan dirinya untuk tidak berbuat jelek, tidak berkata buruk, dan tidak berpikiran jahat, maka sungguh ia telah memperoleh ampunan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, ampunan itu bukan hanya sekarang saja, melainkan juga ‘dosa-dosanya’ di masa datang. Karena, sesungguhnya dia tidak akan berbuat dosa lagi lewat pikiran, ucapan, dan perbuatannya. la telah menjadi orang yang mampu mengendalikan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepuluh hari yang ke 3, adalah saat-saat Allah mengkaruniakan Nikmat. Ya, betapa nikmatnya orang-orang yang telah mampu mengendalikan diri dengan baik. Selama 20 hari pertama dia telah mampu melatih dan membiasakan dirinya untuk tidak melakukan dosa-dosa yang membuat hatinya jadi ‘keruh’ dan mengeras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka di sepuluh hari terakhir dia akan memetik kenikmatan. Apakah kenikmatan? Selama ini orang berpikir bahwa kenikmatan adalah terlaksananya segala keinginan yang menjadi cita-citanya. Padahal, definisi itu sangatlah rapuh. Mana mungkin ada orang yang terpuaskan atas keinginan-keinginannya. Apalagi, jika ia sangat menggebu-gebu dalam mencapai keinginannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia bagaikan mengejar fatamorgana. Seperti indah ketika masih jauh, tapi begitu didekati ternyata tidak seperti yang dia bayangkan. Begitulah manusia dalam mengejar kenikmatan. Ternyata, kebanyakan nikmat yang kita kejar adalah semu belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Allah mengajarkan kepada kita tentang kenikmatan itu. Bahwa kenikmatan yang sesungguhnya hanya bisa didapatkan lewat keimanan, sebagaimana Dia firmankan berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu.” (QS. Ash Shaffat (37) : 148)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah keimanan? Sekali lagi, keimanan adalah kefahaman yang mengarah kepada keyakinan. Dan lebih khusus lagi, keyakinan itu terkait dengan kefahaman tentang Allah dengan segala sunnatullahNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenikmatan hakiki adalah kenikmatan yang diperoleh lewat kefahaman. Bukan karena emosi alias hawa nafsu belaka. Kenikmatan yang didasarkan pada hawa nafsu secara emosional adalah kenikmatan yang semu. Bahkan, memiliki potensi untuk merusak sebagaimana telah kita bahas sebelumnya: “kalau hawa nafsu di jadikan ukuran kebenaran maka rusaklah langit dan bumi dan segala isinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, jika kita ingin memperoleh nikmat yang hakiki kita mesti memperolehnya secara iman lewat pendekatan akal. Bahwa kenikmatan adalah sebentuk manfaat yang terkait dengan kemampuan kita mengendalikan diri karena Allah semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kaitannya dengan puasa ini, maka di tahap 10 hari ke tiga itu, seseorang yang berpuasa, memang mulai bisa ‘menundukkan’ hawa nafsunya. Akalnya berfungsi lebih dominan dibandingkan kehendak emosionalnya. Dan lebih dari itu semua, ia melakukannya karena Allah semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah kunci kenikmatan yang dijanjikan Allah kepada hamba hamba yang berpuasa pada etape 10 hari ke tiga. Setelah melewati masa ‘penggelontoran’ penyakit hati, dan masa ‘pengampunan’ dosa-dosa, maka orang yang berpuasa bakal merasakan betapa nikmatnya menjalani ibadah itu di akhir akhir Ramadhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;la telah menemukan keseimbangan antara lahir dan batinnya. Antara fisik dan jiwanya. Maka, pada sepuluh hari terakhir itu seseorang yang berpuasa masuk ke tahapan spiritual. la sedang berproses untuk ‘bertemu’ Allah di dalam ibadah puasanya yang semakin intens.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sepuluh hari terakhir itu biasanya Rasulullah saw meningkatkan ibadahnya lebih hebat baik secara kualitas maupun kuantitas. Beliau biasanya masuk ke masjid untuk melakukan Itikaf, berkonsentrasi sepenuhnya dalam ibadah-ibadah yang semakin banyak dan khusyu untuk mencapai ‘puncak’ efek puasa. Inilah saat-saat terakhir yang sangat menentukan berhasil tidaknya puasa Ramadhan kita menjadi orang yang bertakwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sepuluh hari terakhir itu juga Allah menyediakan malam yang penuh barokah yaitu Lailat al Qadar. Yaitu malam yang digambarkan memiliki nilai sangat tinggi, lebih hebat dari 1000 bulan. Lebih jauh akan kita bahas di bagian berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, orang-orang yang bisa menjalani puasanya di sepuluh hari terakhir dengan baik, ia bakal menemui Lailat al Qadar yang penuh kenikmatan. Bukan hanya pada saat puasa Ramadhan, melainkan ia akan memperoleh pencerahan sepanjang hidupnya sehingga menjadi orang yang bertakwa orang yang dijamin Allah dengan berbagai kenikmatan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2606071805279753426-4432745947847853003?l=tarbiyahilalhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/feeds/4432745947847853003/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/08/kesehatan-puasa-mengurangi-kolesterol.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/4432745947847853003'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/4432745947847853003'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/08/kesehatan-puasa-mengurangi-kolesterol.html' title='Kesehatan Puasa, Mengurangi Kolesterol, Asam Urat, Gula darah dan lain sebagainya'/><author><name>Dhany</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06267143366179759089</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sy2ltTN_HwI/AAAAAAAAADI/ubrHlxmxRnw/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/TGFuv7x_WiI/AAAAAAAAAIw/yyq_vlG8y0A/s72-c/copy-of-produk-pangan-hewani.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2606071805279753426.post-4776563622662998638</id><published>2010-08-10T08:18:00.000-07:00</published><updated>2010-08-10T08:19:50.392-07:00</updated><title type='text'>PUASA DAN KESEHATAN</title><content type='html'>1. PUASA DAN KESEHATAN dr. Dedi Susila&lt;br /&gt;   2. KESEHATAN DALAM ISLAM&lt;br /&gt;          * Health : a blessing from Allah : (al-Hadits) &lt;br /&gt;                o “ There are two blessings which people do not appreciate : Health and leisure” &lt;br /&gt;                o “ No blessing other than faith is better than health” &lt;br /&gt;          * Sehat (WHO) : “Health is a state of complete physical, mental and social well being, not merely the absence of diseases or infirmity &lt;br /&gt;          * Makna dan dimensi kesehatan dalam Islam : &lt;br /&gt;                o Pengertian integral kesehatan meliputi : &lt;br /&gt;                      + Kesehatan tubuh (body health) &lt;br /&gt;                      + Kesehatan mental (mental health) &lt;br /&gt;                      + Kesehatan moral (moral health) &lt;br /&gt;                      + Kesehatan spiritual (spiritual health) &lt;br /&gt;                o Kesehatan dipengaruhi tiga jenis faktor : (faktor konstitusional, faktor lingkungan, faktor perilaku) &lt;br /&gt;                o Dua tujuan pengobatan : Menghambat penyakit, memelihara dan mempromosikan kesehatan &lt;br /&gt;   3. PUASA DAN KESEHATAN BADAN&lt;br /&gt;          * Puasa bulan ramadhan biasanya 14 jam sehari sampai 29-30 hari &lt;br /&gt;          * Penelitian mirip puasa dilakukan FG. Benedict th 1915 thd puasawan malta.(merekan merasa sehat &amp; bergairah) &lt;br /&gt;          * Dr. Alan colt dari USA , manfaat puasa : &lt;br /&gt;                o Fisik lebih baik, &lt;br /&gt;                o batin atau rohani terasa bersih, &lt;br /&gt;                o Tekanan darah dan kadar kolesterol terkontrol, &lt;br /&gt;                o nafsu sexual terjkendali &lt;br /&gt;                o Mengendurkan ketegangan &lt;br /&gt;                o Menajamkan perasaan &lt;br /&gt;                o Mampu menguasai diri &lt;br /&gt;                o Menghambat proses penuaan &lt;br /&gt;                o Meningkatkan daya tahan tubuh &lt;br /&gt;          * Penemuan ini didukung Dr. Yuri Nikolayef dari Rusia : “Dgn berpuasa kemampuan fisik mjd lebih muda, baik fisik /mental &lt;br /&gt;   4. PUASA DAN KESEHATAN BADAN&lt;br /&gt;          * Berpuasalah kamu supaya kamu sehat (Hadist) &lt;br /&gt;          * “ Dan makan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tdk menyukai orang yg berlebih-lebihan” (QS. 7 :31) &lt;br /&gt;          * Kami(adalah umat) yg makan hanya bila kami merasa lapar, dan bila makan, kami tiadalah sampai kenyang (Al-Hadist) &lt;br /&gt;          * Perut ini adalah rumah segala penyakit dan penjagaan atas makanan adalah permulaan pengobatan. Permulaan segala penyakit adalah mengisi perut berlebih-lebihan (Al-Hadist) &lt;br /&gt;   5. PUASA DAN KESEHATAN MENTAL&lt;br /&gt;          * Puasa juga perjuangan menahan emosi dan mengendalikan seluruh organ tubuh dari melakukan hal yg dimurkai Allah &lt;br /&gt;          * Rasul mangatakan “ Innii shooimun” &lt;br /&gt;          * Puasa, melatih kesabaran dan menjadikan hidup bermakna. Rasulullah bersabda :”Puasa adalah separoh kesabaran” (HR At Tirmidziy). &lt;br /&gt;          * Marah akan meningkatkan hormon katekolamin , hormon ini akan memacu jtg, menegangkan otot, menaikkan tensi dimana hal ini akan mempercepat penuaan &lt;br /&gt;          * EQ (emotional quotion) lebih menentukan keberhasilan hidup &lt;br /&gt;          * Puasa obat dari problem cemas dan putus asa &lt;br /&gt;          * “ Ingatlah ! Hanya dengan mengingat Allah SWT sajalah hati itu akan menjadi tenang “ &lt;br /&gt;   6. Puasa dan Produktivitas Sosial&lt;br /&gt;          * Hadist : “Sebaik-baik manusia, adalah yg terbanyak memberikan manfaat pada manusia” &lt;br /&gt;          * Memperbaiki aspek sosial dari banyak sisi : &lt;br /&gt;                o Rasa lapar, meningkatkan kepekaan &lt;br /&gt;                o Kedisiplinan puasa merasa diawasi oleh Allah &lt;br /&gt;                o Rangsangan ibadah sunnah, membuat lebih dekat kepada Allah &lt;br /&gt;                o Zakat fitrah memantapkan kepedulian thd sesama &lt;br /&gt;          * “ Apabila orang-orang mengetahui nilai lebih Ramadhan, mereka akan berharap agar semua bulan dijadikan sebagai bulan Ramadhan.” (HR. Ibnu Huzaimah). &lt;br /&gt;   7. TIPS SEHAT PUASA RAMADHAN&lt;br /&gt;          * Lakukan pemanasan dengan puasa sunnah sya’ban &lt;br /&gt;          * Kuatkan niat dan doa memohon pertolongan Allah SWT &lt;br /&gt;          * Usahakan makan sahur satu jam menjelang imsya’ &lt;br /&gt;          * Lengkapi menu makanan memenuhi gizi empat sehat lima sempurna &lt;br /&gt;          * Segerakan berbuka pada waktu maghrib, dengan makan kurma atau makanan yang manis (misal : kolak,kue) &lt;br /&gt;          * Berhentilah makan sebelum kenyang, lanjutkan makan setelah sholat tarawih. &lt;br /&gt;   8.&lt;br /&gt;          * Lakukanlah aktivitas anda seperti biasa dan rasakan manfaatkan puasa bagi tubuh anda. Rasa lapar mendorong pemakaian zat lemak yang menumpuk di jaringan tubuh sehingga anda menjadi lebih sehat, nafsu / jiwa lebih terkendali dan menghambat proses penuaan. &lt;br /&gt;          * Ibu hamil / menyusui gizi harus terpenuhi (konsultasi dengan dokter) &lt;br /&gt;          * Jangan lupa minum obat sesuai anjuran dokter. &lt;br /&gt;          * Boleh melakukan :Injeksi / suntikan, Menetes-kan obat mata, Donor darah, Sikat gigi/ berku-mur (makruh), Menelan ludah sendiri &lt;br /&gt;   9. PUASA &amp; SAKIT MAAG&lt;br /&gt;          * Hindari jenis makanan yang pedas dan asam baik saat sahur dan berbuka &lt;br /&gt;          * Jangan terlalu kenyang waktu berbuka , tambahkan setelah sholat taraweh dan menjelang tidur &lt;br /&gt;          * Obat maag bisa diminum setelah berbuka , akan tidur dan setelah sahur. &lt;br /&gt;          * Tenangkan jiwa dan jauhi stres &lt;br /&gt;  10. PUASA &amp; DIABETES (KENCING MANIS)&lt;br /&gt;          * Kalori pria 1900 Kcal / hari, wanita 1500 Kcal / hari &lt;br /&gt;          * Jadwal diet : &lt;br /&gt;                o Buka puasa 18.00 makan utama (1) &lt;br /&gt;                o Sesudah taraweh 20.00 makan utama (2) &lt;br /&gt;                o Sesudah tidur malam 22.00 makan kecil (1) &lt;br /&gt;                o Sahur 03.00 makan utama (3) &lt;br /&gt;                o Sebelum Imsya 03.30 makan kecil (2) &lt;br /&gt;  11.&lt;br /&gt;          * Jadwal obat : &lt;br /&gt;          * Pil penurun glukosa : sebelum berbuka puasa (makan utama) dan sebelum makan utama kedua , jangan diminum saat sahur &lt;br /&gt;          * Olahraga setelah sholat taraweh &lt;br /&gt;          * Insulin dosis &lt; 20 – 30 unit / hari : sebelum berbuka. &lt;br /&gt;  12. PUASA &amp; GINJAL&lt;br /&gt;          * Penderita batu ginjal dan asam urat harus minum banyak, kalau kumat harus diobati dulu sampai sembuh &lt;br /&gt;          * Penderita gagal ginjal kronik dilarang berpuasa. &lt;br /&gt;          * Penderita gagal ginjal terminal dengan hemodialisis (HD) boleh berpuasa&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2606071805279753426-4776563622662998638?l=tarbiyahilalhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/feeds/4776563622662998638/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/08/puasa-dan-kesehatan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/4776563622662998638'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/4776563622662998638'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/08/puasa-dan-kesehatan.html' title='PUASA DAN KESEHATAN'/><author><name>Dhany</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06267143366179759089</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sy2ltTN_HwI/AAAAAAAAADI/ubrHlxmxRnw/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2606071805279753426.post-1296205148259467093</id><published>2010-08-10T08:16:00.001-07:00</published><updated>2010-08-10T08:17:23.058-07:00</updated><title type='text'>Manfaat Puasa Untuk Kesehatan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/TGFteBJ0mWI/AAAAAAAAAIo/Rq2F2_uSEGM/s1600/rambu_puasa-300x282.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 282px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/TGFteBJ0mWI/AAAAAAAAAIo/Rq2F2_uSEGM/s400/rambu_puasa-300x282.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5503800582096591202" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kesehatan merupakan nikmat yang tidak dapat dinilai dengan harta benda. Untuk menjaga kesehatan, tubuh perlu diberikan kesempatan untuk istirahat. Puasa, yang mensyaratkan untuk tidak makan, minum, dan melakukan perbuatan-perbuatan lain yang membatalkan puasa dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari sangat bermanfaat untuk menjaga kesehatan jasmani dan rohani.&lt;br /&gt;Puasa dapat mencegah penyakit yang timbul karena pola makan yang berlebihan. Makanan yang berlebihan gizi belum tentu baik untuk kesehatan seseorang. Kelebihan gizi atau overnutrisi mengakibatkan kegemukan yang dapat menimbulkan penyakit degeneratif seperti kolesterol dan trigliserida tinggi, jantung koroner, kencing manis (diabetes mellitus), dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaruh mekanisme puasa terhadap kesehatan jasmani meliputi berbagai aspek kesehatan, diantaranya yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Memberikan kesempatan istirahat kepada alat pencernaan,&lt;br /&gt;      Pada hari-hari ketika tidak sedang berpuasa, alat pencernaan di dalam tubuh bekerja keras, oleh karena itu sudah sepantasnya alat pencernaan diberi istirahat.&lt;br /&gt;    * Membersihkan tubuh dari racun dan kotoran (detoksifikasi). Dengan puasa, berarti membatasi kalori yang masuk dalam tubuh kita sehingga menghasilkan enzim antioksidan yang dapat membersihkan zat-zat yang bersifat racun dan karsinogen dan mengeluarkannya dari dalam tubuh.&lt;br /&gt;    * Menambah jumlah sel darah putih. Sel darah putih berfungsi untuk menangkal serangan penyakit sehingga dengan penambahan sel darah putih secara otomatis dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh.&lt;br /&gt;    * Menyeimbangkan kadar asam dan basa dalam tubuh,&lt;br /&gt;    * Memperbaiki fungsi hormon, meremajakan sel-sel tubuh,&lt;br /&gt;    * Meningkatkan fungsi organ tubuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disunahkan agar berbuka puasa diawali dengan makan buah kurma, atau dengan buah-buahan dan minuman yang manis seperti madu. Ajaran ini mengandung makna kesehatan karena buah-buahan dan minuman yang manis merupakan bahan bakar siap pakai yang dapat segera diserap oleh tubuh untuk memulihkan tenaga setelah seharian tubuh tidak disuplai oleh makanan dan minuman. Glukosa yang terkandung di dalam buah-buahan dan minuman yang manis merupakan sumber energi utama bagi sel-sel tubuh. Glukosa efektif dibutuhkan ketika tubuh memerlukan masukan energi yang diperlukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anjuran sahur bukan semata-mata untuk mendapatkan tenaga yang prima selama menunaikan ibadah puasa, melainkan juga mengandung makna bahwa puasa perlu persiapan agar selama berpuasa produktivitas kerja dan aktivitas sehari-hari tidak terganggu.&lt;br /&gt;Pada waktu buka puasa dan sahur suplai gizi perlu diusahakan memenuhi unsur-unsur yang dibutuhkan tubuh, meliputi enam jenis zat gizi yaitu karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan air. Pentingnya keseimbangan gizi sering kurang disadari karena hasilnya tidak terlihat langsung. Seseorang yang kekurangan zat gizi tertentu sama bahayanya dengan mereka yang kelebihan gizi tertentu. Makan yang seimbang baik dalam porsi maupun gizi akan mempengaruhi susunan saraf pusat dan kondisi biokimia tubuh. Makan yang seimbang adalah makan yang tidak kekurangan tetapi juga tidak berlebihan, yang disesuaikan dengan usia, kualitas dan kuantitas gerak serta kondisi tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada beberapa orang, pada saat puasa mempunyai keluhan seperti merasa lemas dan lesu atau stamina menurun, juga gangguan pencernaan seperti perut kembung dan gangguan lambung. Beberapa bahan pangan tertentu seperti madu, jahe, kencur, temu lawak, dan bahan-bahan lainnya dapat digunakan untuk mengatasi stamina menurun, kembung, dan gangguan lambung pada saat puasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut beberapa bahan alami yang dapat digunakan agar puasa tetap fit dan segar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.MADU&lt;br /&gt;Khasiat : meningkatkan stamina serta mempertahankan stabilitias tubuh agar tetap sehat dan bugar, melancarkan proses metabolisme, untuk kecantikan dan awet muda, mencegah gangguan pencernaan, dan lain-lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.KURMA&lt;br /&gt;Khasiat : meningkatkan stamina dan energi, mencegah &amp; mengatasi anemia (kurang darah), melancarkan pembuangan, sebagai penenang (merileksasi sel otot tubuh yang tegang), mencegah pendarahan rahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.JAHE (Zingiber officinale Rosc.)&lt;br /&gt;Khasiat : meningkatkan stamina, mengatasi perut kembung, masuk angin, mual, muntah, sakit kepala, pusing, demam, dan lain-lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.TEMU LAWAK (Curcuma xanthorrhiza)&lt;br /&gt;Khasiat : kolesterol tinggi, meningkatkan stamina tubuh/tonikum, kurang darah, radang lambung/maag, perut kembung, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.KENCUR (Kaempferia galanga)&lt;br /&gt;Khasiat : meningkatkan stamina tubuh, menghilangkan bau mulut, radang lambung, kembung, mual, muntah, masuk angin, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.Ubi Jalar Merah (Ipomoea batatas)&lt;br /&gt;Khasiat : perut kembung, peluruh kentut, masuk angin, gangguan lambung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.KUNYIT (Curcuma domestica Val.)&lt;br /&gt;Khasiat /efek ; radang lambung, memperlancar pengeluaran empedu sehingga mengurangi perut kembung, mual, dan rasa begah di perut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.KAPULAGA (Amomum cardamomum)&lt;br /&gt;Khasiat : untuk radang lambung, mual, muntah-muntah, perut sebah dan kembung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.Kayu Manis (Cinnamomum burmanii)&lt;br /&gt;Khasiat : untuk radang lambung, mual, muntah-muntah, perut sebah dan kembung.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2606071805279753426-1296205148259467093?l=tarbiyahilalhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/feeds/1296205148259467093/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/08/manfaat-puasa-untuk-kesehatan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/1296205148259467093'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/1296205148259467093'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/08/manfaat-puasa-untuk-kesehatan.html' title='Manfaat Puasa Untuk Kesehatan'/><author><name>Dhany</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06267143366179759089</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sy2ltTN_HwI/AAAAAAAAADI/ubrHlxmxRnw/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/TGFteBJ0mWI/AAAAAAAAAIo/Rq2F2_uSEGM/s72-c/rambu_puasa-300x282.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2606071805279753426.post-7992852656257236288</id><published>2010-08-10T08:13:00.001-07:00</published><updated>2010-08-10T08:13:51.742-07:00</updated><title type='text'>HIKMAH PUASA  DALAM TINJAUAN AGAMA DAN ILMU PENGETAHUAN</title><content type='html'>Manusia merupakan makhluk yang tertinggi derajatnya, oleh karena itu manusia diutus oleh Allah untuk menjadi khalifah di muka bumi. Sebagai makhluk yang tertinggi yang membedakan antara manusia dengan makhluk Allah yang lain adalah manusia dikaruniai oleh Allah dengan akal sedangkan makhluk Allah yang lain tidak. Dengan akalnya ini manusia berusaha sejauh mungkin untuk mengupas rahasia-rahasia alam karena alam semesta ini diciptakan oleh Allah dan tak akan lepas dari tujuannya untuk memenuhi kebutuhan makhluknya. Hal ini ditegaskan oleh Allah di dalam salah satu firman-Nya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini (langit dan bumi) dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa api neraka"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(QS. Ali Imran : 191)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat inilah yang membuat orang mulai berpikir untuk mencari hikmah dan manfaat yang terkandung dalam setiap perintah maupun larangan Allah diantaranya adalah hikmah yang tersembunyi dari kewajiban menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan yang diperintahkan oleh Allah khusus kepada orang-orang yang beriman. Hal ini seperti disebutkan di dalam firman Allah yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(QS. Al Baqarah : 183)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah barang tentu hikmah puasa tersebut sangat banyak baik untuk kepentingan pribadi maupun untuk kepentingan umat (masyarakat) pada umumnya. Diantara hikmah-hikmah tersebut yang terpenting dan mampu dijangkau oleh akal pikiran manusia sampai saat ini antara lain :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Memelihara kesehatan jasmani (Badaniyah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah menjadi kesepakatan para ahli medis, bahwa hampir semua penyakit bersumber pada makanan dan minuman yang mempengaruhi organ-organ pencernaan di dalam perut. Maka sudah sewajarnyalah jika dengan berpuasa organ-organ pencernaan di dalam perut yang selama ini terus bekerja mencerna dan mengolah makanan untuk sementara diistirahatkan mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari selama satu bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berpuasa ini maka ibarat mesin, organ-organ pencernaan tersebut diservis dan dibersihkan, sehingga setelah menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan Insya Allah kita menjadi sehat baik secara jasmani maupun secara rohani. Hal ini memang sudah disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam salah satu haditsnya yang diriwayatkan oleh Ibnu Suny dan Abu Nu’aim yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berpuasalah maka kamu akan sehat"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(HR. Ibnu Suny dan Abu Nu’aim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga dalam hadits yang lain dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagi tiap-tiap sesuatu itu ada pembersihnya dan pembersih badan kasar (jasad) ialah puasa"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(HR. Ibnu Majah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penelitian ilmiah, kebenaran hadis ini terbukti antara lain :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Fasten Institute (Lembaga Puasa) di Jerman menggunakan puasa untuk menyembuhkan penyakit yang sudah tidak dapat diobati lagi dengan penemuan-penemuan ilmiah dibidang kedokteran. Metode ini juga dikenal dengan istilah "diet" yang berarti menahan / berpantang untuk makanan-makanan tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dr. Abdul Aziz Ismail dalam bukunya yang berjudul "Al Islam wat Tibbul Hadits" menjelaskan bahwa puasa adalah obat dari bermacam-macam penyakit diantaranya kencing manis (diabetes), darah tinggi, ginjal, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Dr. Alexis Carel seorang dokter internasional dan pernah memperoleh penghargaan nobel dalam bidang kedokteran menegaskan bahwa dengan berpuasa dapat membersihkan pernafasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Mac Fadon seorang dokter bangsa Amerika sukses mengobati pasiennya dengan anjuran berpuasa setelah gagal menggunakan obat-obat ilmiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Membersihkan rohani dari sifat-sifat hewani menuju kepada sifat-sifat malaikat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini ditandai dengan kemampuan orang berpuasa untuk meninggalkan sifat-sifat hewani seperti makan, minum (di siang hari). Mampu menjaga panca indera dari perbuatan-perbuatan maksiat dan memusatkan pikiran dan perasaan untuk berzikir kepada Allah (Zikrullah). Hal ini merupakan manifestasi (perwujudan) dari sifat-sifat malaikat, sebab malaikat merupakan makhluk yang paling dekat dengan Allah, selalu berzikir kepada Allah, selalu bersih, dan doanya selalu diterima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian maka wajarlah bagi orang yang berpuasa mendapatkan fasilitas dari Allah yaitu dipersamakan dengan malaikat. Hal ini diperkuat oleh sabda Rasulullah dalam salah satu haditsnya yang diriwayatkan oleh Turmudzi yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada tiga golongan yang tidak ditolak doa mereka yaitu orang yang berpuasa sampai ia berbuka, kepala negara yang adil, dan orang yang teraniaya"(HR. Turmudzi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga dalam hadits lain dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘As, Rasulullah SAW bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya orang yang berpuasa diwaktu ia berbuka tersedia doa yang makbul"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(HR. Ibnu Majah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping itu hikmah yang terpenting dari berpuasa adalah diampuni dosanya oleh Allah SWT sehingga jiwanya menjadi bersih dan akan dimasukkan ke dalam surga oleh Allah SWT. Hal ini diperkuat dengan hadits Nabi yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Barang siapa berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan perhitungannya (mengharapkan keridla’an Allah) maka diampunilah dosa-dosanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(HR. Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga dari hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Sahl r.a dari Nabi SAW beliau bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya di dalam surga ada sebuah pintu yang disebut dengan Rayyan. Pada hari kiamat orang-orang yang berpuasa akan masuk surga dari pintu itu. Tidak seorangpun masuk dari pintu itu selain mereka. (Mereka) dipanggil : Mana orang yang berpuasa ? Lalu mereka berdiri. Setelah mereka itu masuk, pintu segera dikunci, maka tidak seorangpun lagi yang dapat masuk"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(HR. Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian maka dapatlah disimpulkan bahwa berpuasa membawa manfaat yang sangat besar bagi manusia baik sebagai makhluk pribadi maupun makhluk sosial. Sehingga setelah seseorang selesai menjalankan ibadah puasa di Bulan Suci Ramadhan diharapkan ia menjadi bersih dan sehat baik jasmani maupun rohani dan kembali suci bagai bayi yang baru lahir. Amiin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- M. Noor Matdawam, Ibadah puasa dan amalan-amalan di Bulan Suci Ramadhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- M Noor Matdawam, Pembinaan dan Pemantapan Dasar Agama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Maftuh Ahnan, Mutiara Hadits Shahih Bukhari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Al Qur’an&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2606071805279753426-7992852656257236288?l=tarbiyahilalhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/feeds/7992852656257236288/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/08/hikmah-puasa-dalam-tinjauan-agama-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/7992852656257236288'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/7992852656257236288'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/08/hikmah-puasa-dalam-tinjauan-agama-dan.html' title='HIKMAH PUASA  DALAM TINJAUAN AGAMA DAN ILMU PENGETAHUAN'/><author><name>Dhany</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06267143366179759089</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sy2ltTN_HwI/AAAAAAAAADI/ubrHlxmxRnw/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2606071805279753426.post-1272898226835837611</id><published>2010-08-10T08:12:00.001-07:00</published><updated>2010-08-10T08:12:43.516-07:00</updated><title type='text'>HIKMAH PUASA RAMADHAN</title><content type='html'>"Wahai orang-orang yang beriman ! Diwajibkan kepada kamu puasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu,supaya kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa." (S.al-Baqarah:183)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PUASA menurut syariat ialah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa (seperti makan, minum, hubungan kelamin, dan sebagainya) semenjak terbit fajar sampai terbenamnya matahari,dengan disertai niat ibadah kepada Allah,karena mengharapkan redho-Nya dan menyiapkan diri guna meningkatkan Taqwa kepada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RAMAHDAH bulan yang banyak mengandung Hikmah didalamnya.Alangkah gembiranya hati mereka yang beriman dengan kedatangan bulan Ramadhan. Bukan sahaja telah diarahkan menunaikan Ibadah selama sebulan penuh dengan balasan pahala yang berlipat ganda,malah dibulan Ramadhan Allah telah menurunkan kitab suci al-Quranulkarim,yang menjadi petunjuk bagi seluruh manusia dan untuk membedakan yang benar dengan yang salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa Ramadhan akan membersihkan rohani kita dengan menanamkan perasaan kesabaran, kasih sayang, pemurah, berkata benar, ikhlas, disiplin, terthindar dari sifat tamak dan rakus, percaya pada diri sendiri, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun makanan dan minuman itu halal, kita mengawal diri kita untuk tidak makan dan minum dari semenjak fajar hingga terbenamnya matahari,karena mematuhi perintah Allah.Walaupun isteri kita sendiri, kita tidak mencampurinya diketika masa berpuasa demi mematuhi perintah Allah s.w.t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat puasa itu dimulai dengan firman Allah:"Wahai orang-orang yang beriman" dan disudahi dengan:" Mudah-mudahan kamu menjadi orang yang bertaqwa."Jadi jelaslah bagi kita puasa Ramadhan berdasarkan keimanan dan ketaqwaan.Untuk menjadi orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah kita diberi kesempatan selama sebulan Ramadhan,melatih diri kita,menahan hawa nafsu kita dari makan dan minum,mencampuri isteri,menahan diri dari perkataan dan perbuatan yang sia-sia,seperti berkata bohong, membuat fitnah dan tipu daya, merasa dengki dan khianat, memecah belah persatuan ummat, dan berbagai perbuatan jahat lainnya.Rasullah s.a.w.bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukanlah puasa itu hanya sekedar menghentikan makan dan minum tetapi puasa itu ialah menghentikan omong-omong kosong dan kata-kata kotor."&lt;br /&gt;(H.R.Ibnu Khuzaimah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntunglah mereka yang dapat berpuasa selama bulan Ramadhan, karena puasa itu bukan sahaja dapat membersihkan Rohani manusia juga akan membersihkan Jasmani manusia itu sendiri, puasa sebagai alat penyembuh yang baik. Semua alat pada tubuh kita senantiasa digunakan, boleh dikatakan alat-alat itu tidak berehat selama 24 jam. Alhamdulillah dengan berpuasa kita dapat merehatkan alat pencernaan kita lebih kurang selama 12 jam setiap harinya. Oleh karena itu dengan berpuasa, organ dalam tubuh kita dapat bekerja dengan lebih teratur dan berkesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diingat ibadah puasa Ramadhan akan membawa faaedah bagi kesehatan&lt;br /&gt;rohani dan jasmani kita bila ditunaikan mengikut panduan yang telah ditetapkan, jika tidak maka hasilnya tidaklah seberapa malah mungkin ibadah puasa kita sia-sia sahaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman yang maksudnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Makan dan minumlah kamu dan janganlah berlebih-lebihan sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." (s.al-A'raf:31)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi s.a.w.juga bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita ini adalah kaum yang makan bila lapar, dan makan tidak kenyang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh kita memerlukan makanan yang bergizi mengikut keperluan tubuh kita. Jika kita makan berlebih-lebihan sudah tentu ia akan membawa muzarat kepada kesehatan kita. Boleh menyebabkan badan menjadi gemuk, dengan mengakibatkan kepada sakit jantung, darah tinggi, penyakit kencing manis, dan berbagai penyakit lainnya. Oleh itu makanlah secara sederhana, terutama sekali ketika berbuka, mudah-mudahan Puasa dibulan Ramadhan akan membawa kesehatan bagi rohani dan jasmani kita. Insy Allah kita akan bertemu kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman yang maksudnya: "Pada bulan Ramadhan diturunkan al-Quran&lt;br /&gt;pimpinan untuk manusia dan penjelasan keterangan dari pimpinan kebenaran&lt;br /&gt;itu, dan yang memisahkan antara kebenaran dan kebathilan. Barangsiapa menyaksikan (bulan) Ramadhan, hendaklah ia mengerjakan puasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(s.al-Baqarah:185)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2606071805279753426-1272898226835837611?l=tarbiyahilalhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/feeds/1272898226835837611/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/08/hikmah-puasa-ramadhan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/1272898226835837611'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/1272898226835837611'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/08/hikmah-puasa-ramadhan.html' title='HIKMAH PUASA RAMADHAN'/><author><name>Dhany</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06267143366179759089</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sy2ltTN_HwI/AAAAAAAAADI/ubrHlxmxRnw/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2606071805279753426.post-1484897248032147461</id><published>2010-08-10T07:42:00.000-07:00</published><updated>2010-08-10T07:43:00.252-07:00</updated><title type='text'>KITAB RUJUKAN SYI'AH</title><content type='html'>Salah satu kitab rujukan utama syiah adalah Biharul Anwar, ditulis oleh ulama syiah kawakan bernama Al Majlisi, siapa dia? simak selengkapnya&lt;br /&gt;Nama Majlisi tidak dapat dipisahkan dari daulah safawiyyah, begitu juga namanya melekat dengan kitab yang disusunnya, yaitu Biharul Anwar. Beginilah kira-kira ringkasan pembahasan kita tentang ulama syiah paling terkenal pada masa daulah safawiyyah dan kitabnya yang terkenal, Biharul Anwar fi ahaditsinnabiy wal aimmatil athar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinasti Safawiy, berdiri di wilayah yang saat ini bernama Iran tahun 907 H/ 1502 M, secara resmi memeluk mazhab syiah imamiyah. Dinasti ini mewajibkan penduduknya memeluk mazhab syiah dengan menggunakan kekuatan. Juga pemerintahan safawi berusaha untuk menyebarkan mazhab syiah di wilayah pemerintahannya juga melebar ke wilayah kanan kirinya. Demi kelancaran misinya ini, dinasti safawi mengucurkan biaya yang tidak sedikit untuk membiayai gerakan penulisan kitab dan penterjemahan. Bahkan sampai memanggil ulama syiah dari luar wilayah safawi khususnya dari wilayah gunung amil di lebanon, untuk mendukung penyebaran ajaran syiah serta menggencarkan gerakan penulisan kitab-kitab syiah. Pada masa itu ulama syiah memiliki kedudukan istimewa. Di antaranaya adalah Majlisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Baqir bin Muhammad Taqiy Al Majlisi lahir tahun 1037 H/ 1627 M di kota Isfahan, yang saat itu menjadi ibukota pemerintahan dinasti safawi. Muhammad Baqir dikenal sebagai Majlisi kedua, sementara ayahnya dikenal sebagai Majlisi pertama, atau satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syiah menganggap Majlisi sebagai salah satu ulama yang dihormati dan diagungkan. Dia dianggap sebagai salah satu ulama yang menguasai dan menjaga mazhab syiah. Bahkan dia dianggap sebagai penjaga dinasti safawi, yang setelah Majlisi wafat mengalami kehancuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis kitab Marja'iyyah Diniyah wa Maraji'ul imamiyah menceritakan biografi Majlisi pada hal 58 : Majlisi adalah ulama yang didengar ucapannya oleh raja-raja dinasti safawi di asfahan, yang saat itu menjadi pusat emerintahan Iran. Sebagai ulama yang dihormati, Majlisi menangani sendiri permohonan banding dan segala macam urusan peradilan, serta ikut mengawasi pelaksanaan hukum pidana Islam. Muhaddits Nuri berkata dalam kitabnya Darussalam : tidak ada dalam Islam seorang yang menyebarkan mazhab sebagaimana Majlisi, yang menulis begitu banyak kitab yang tersebar di mana-mana… Majlisi memiliki peran yang besar dalam penyebaran mazhab syiah imamiyah, sampai sampai Abdul Aziz Dahlawi, salah seorang ulama ahlussunnah yang mengarang kitab "Tuhfah Itsna Asyriyyah fi Rod Ala Iamiyah" berkata : jika ajaran syiah ini disebut sebagai ajaran Majlisi, maka tidaklah keliru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang peran Majlisi dalam pemerintahan dinasti safawiyah, pengarang kitab Al Hijrah Al Amiliyah ila Iran pada halaman 195 menukil dari kitab sejarah Iran yang menulis tentang Majlisi, sosok yang tidak duduk di singgasana, tapi dengan kecerdikannya dapat menguasai keadaan di tengah keadaan sulit yang menimpa iran saat itu. Saat itu Afghanistan mengancam akan menginvasi iran, berusaha memanfaatkan lemahnya kepemimpinan shah husein I. Majlisi dapat mempertahankan pemerintahan hingga setelah dia wafat, Afghanistan baru dapat menyerang iran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majlisi disebut Syaikh Dinasti Safawi, yang didengar seluruh pendapatnya oleh pemerintah. Dia hidup mewah di masa akhir dinasti safawi. Dia dikenal fanatik terhadap mazhab syiah dan berhasil membujuk pemerintah agar menindas seluruh rakyat yang tidak semazhab dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Majlisi selalu menyanjung puja raja-raja dinasti safawi, sebuah perbuatan yang tidak semestinya dilakukan oleh ulama sekelas Majlisi yang memiliki kedudukan tinggi saat itu. Majlisi membuat pujian-pujian itu walaupun raja-raja safawi dikenal kejam dan berakhlak bejat. Salah seorang raja berakhlak bejat yang dipuji oleh Majlisi adalah syah Husein, yang pada masa kepemimpinannya membolehkan rakyat meminum khomer dan menjadi mainan para wanita. Hal ini disebutkan oleh pengarang kitab Hijrah Amiliyah. Majlisi memuji syah husein dengan puji-pujian yang sangat berlebihan, seperti dituliskan sendiri oleh Majlisi dalam pengantar kitab Zadul Ma'ad :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memandang bahwa risalah ini selesai ditulis pada masa kerajaan yang penuh keadilan, pada masa pemerintahan sultan yang membawa kebahagiaan, berkedudukan tinggi, penghulu para raja di jaman ini, pemimpin orang bijaksana di jaman ini. Hiasan pohon agama, cucu yang terpilih di antara keturunan Nabi, raja yang banyak berkhidmat, pemimpin yang malaikat malu kepadanya. Wahai sultan yang kemarahannya dapat memisahkan perjanjian yang tak terpisahkan, wahai sultan yang tangannya bagaikan hujan yang menimpa perkebunan, pendiri pondasi agama, penyebar ajaran nenek moyang yang suci, raja yang kolam istananya melimpah karena sering disentuh oleh bibir sultan zaman ini,,, yaitu raja terbesar, tempat berlindung para kaisar, penyebar upacara-upacara syariat agung, Shah Sultan Husein Al Musawi Al Husaini Al Safawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majlisi dikenal karena banyak menulis kitab syiah imamiyah. Di antaranya adalah kitab Zadul Ma'ad fi Fadho'il Ayyam Wallayali wa A'malissanah. Kitab tulisannya yang lain adalah fi ahwalil Anbiya' min Adam ila Nabiyyina Sallalahu Alaihi wasallam, fi ahwalil khotimil Anbiya' sallallahu alaihi wasallam min wiladatihi ila wafatihi. Fil fitan al haditsah ba'da wafati Arrasul Sallalahu Alaihi Wasallam, Fi Ahwali Amiril Mu'minin min wiladatihi wa fadha'ilihi wa mu'jizatihi wa wafatihi. Fi Ahwalizzahra' wal hasanain alaihissalam, fi ahwal assajjad, wal baqir wassodiq wal kazim alaihimussalam. Haqqulyaqin, mir'atul uqul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kitab hasil tulisannya yang terbesar adalah Biharul Anwar fi ahaditsinnabiy wal a'immatil athar. Kitab ini terdiri dari 25 jilid besar, setiap jilid tersusun dari beberapa jilid lagi, hingga seluruhnya berjumlah 111 jilid. Maka tak heran jika syiah menyebut kitab Biharul Anwar sebagai ensiklopedi syiah yang tak tertandingi. Kitab ini adalah salah satu sumbangan terpenting yang dipersembahkan oleh dinasti safawi pada khazanah dunia kitab syiah, juga merupakan sumber terbanyak bagi khazanah syiah. Biharul Anwar termasuk kitab hadits terpenting bagi syiah. Majlisi mengumpulkan banyak hadits dari nabi maupun para imam, yang kadang validitasnya tidak jelas. Kitab ini juga memuat kisah Nabi, Fatimah dan seluruh kedua belas imam, berita tentang mereka dan petuah-petuah yang dinisbahkan pada mereka. Majlisi menyusun semua ini tanpa sistematika yang jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Biharul Anwar, Majlisi sedikit sekali menukil dari 4 refrensi induk syiah, karena 4 kitab itu banyak memuat masalah-masalah furu' sedangkan Biharul Anwar tidak memuat masalah furu'. Majlisi berniat untuk mengumpulkan semua hadits syiah tanpa memandang validitasnya, bahkan sampai memuat referensi yang tidak dikenal oleh syiah dan tidak diakui oleh mereka sendiri yaitu kitab al Fiqhi Ar ridhawiy. Majlisi mengaku kitab itu baru diketemukan pada zaman Majlisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pengantar kitab Zadul Ma'ad Majlisi menyebutkan sedikit mengenai Biharul Anwar: Terdapat banyak sekali doa dari Nabi saw yang ditulis di banyak kitab doa. saya sendiri yang menyebut diri saya sebagai pembawa berita para imam suci alaihimussalam telah menyusun banyak doa dari nabi dalam kitab Biharul Anwar. Tapi orang banyak tidaklah mudah untuk membaca kitab ini dan mengamalkan seluruh isinya karena mereka disibukkan oleh urusan dunia…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah Al Jaza'iri menyebutkan bahwa ketika Majlisi berniat untuk memulai menyusun kitab Biharul Anwar, beliau berusaha mengumpulkan seluruh kitab-kitab syiah kuno, dia mendengar bahwa kitab madinatul ilmi yang disusun oleh Ash Shaduq ada di negeri yaman. lalu dia menyampaikan hal itu pada raja. Tanpa menunggu lagi raja mengutus seorang utusan kepada raja yaman dengan membawa banyak hadiah supaya dapat membawa kitab itu ke iran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu Syah Sulaiman Safawi mewakafkan sebagian tanah milik pribadinya supaya hasilnya digunakan untuk menyalin dan membagi kitab Biharul Anwar kepada para pelajar. saat percetakan mula-mula masuk ke iran pada masa qajari, Biharul Anwar termasuk kitab yang pertama kali diperbanyak dalam jumlah besar, dan diedarkan ke irak dan negara teluk. Apalagi Biharul Anwar ditulis oleh Majlisi dalam bahasa arab, sedangkan kitab tulisannya yang lain ditulis dalam bahasa parsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Biharul Anwar Majlisi mengumpulkan banyak sekali kebatilan dan kebodohan yang dikatakan berasal dari nabi dan para imam ahlul bait. dalam kitab ini tarcantum akidah syiah rafidhah. Dalam kitab Biharul Anwar tercantum dengan jelas pendapat bahwa Al Quran telah mengalami perubahan, penuhanan para imam, pengkafiran para sahabat. kami akan coba menukilkan sedikit dari banyak kebatilan dan riwayat palsu dalam kitab Biharul Anwar :&lt;br /&gt;Setelah menukil beberapa pendapat Asshaduq dan beberapa riwayat yang memvonis mereka yang tidak beriman pada wilayah dua belas imam sebagai kafir, Majlisi berkata: ketahuilah bahwa vonis syirik dan kafir bagi mereka yang tidak meyakini bahwa Ali dan para imam dari anak cucunya, dan tidak meyakini keutamaan para imam, menunjukkan bahwa mereka kekal dalam neraka. Biharul Anwar jilid 23 hal. 390&lt;br /&gt;Majlisi menuliskan sebuah riwayat dari Imam Muhammad Al Baqir, bahwa dia berkata : demi Allah hai Abu Hamzah seluruh manusia adalah anak zina selain syiah kami. Biharul Anwar jilid 24 hal. 311&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai masalah penuhanan para imam dan anggapan bahwa para imam memiliki sifat seperti tuhan, banyak sekali hal itu dalam kitab Biharul Anwar. Akan kita nukilkan di sini judul-judul dari bab yang membahas hal itu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab bahwa Allah membuatkan bagi para imam sebuah tiang yang membuat para imam dapat melihat amal perbuatan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab sesungguhnya para imam memiliki seluruh pengetahuan malaikat dan para nabi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab para imam mengetahui waktu kematian mereka dan mereka tidak akan mati kecuali atas kehendak mereka sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab para imam dapat menghidupkan orang mati dan menyembuhkan lepra dan kusta, mereka memiliki seluruh mu'jizat para nabi.&lt;br /&gt;Yang lebih mengherankan Majlisi menganggap bahwa seluruh isi Al Quran adalah para imam:&lt;br /&gt;Sholat, zakat, haji, puasa dan seluruh ketaatan adalah para imam, sementara seluruh kemakasiatan adalah musuh mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuh matsani dan kalimat Allah adalah para imam. Ahlul A'raf adalah para imam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka DR. Nasir Al Qifari mengatakan dalam kitabnya Ushul Mazhab Syiah hal 199 : dalam kitab Biharul Anwar yang menjadi pegangan bagi kalangan syiah tertulis anggapan bahwa hampir seluruh isi Al Quran adalah para imam, menyebutkan pembahasan seperti itu sesuka hawa nafsunya sendiri….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majlisi mengomentari kisah istri nabi Luth dan nabi Nuh yang disebutkan dalam Al Quran sebagai berikut : nampak jelas bagi mereka yang cerdas bahwa ayat-ayat itu menyebutkan dengan jelas bahwa Aisyah dan Hafshah adalah munafik dan kafir. Jilid 22 hal 33.&lt;br /&gt;Majlisi menyebutkan sebuah riwayat dalam kitabnya : Dari Ibnu Abdul Hamid dia berkata : aku masuk menemui Abu Abdillah lalu dia memperlihatkan padaku kitab Al Quran. Lalu aku membuka lembaran Al Quran itu lalu aku melihat ayat yang berbunyi : ini adalah jahannam yang kalian berdua dustakan. Masuklah ke dalamnya kalian berdua tidak hidup dan tidak mati. Majlisi berkata: mereka berdua adalah dua khalifah pertama, yaitu Abubakar dan Umar. Di sini nampak jelas bahwa Majlisi mengatakan ada sebagian isi Al Quran yang telah disembunyikan dan dihapus seperti yang diyakini oleh syiah, yang memvonis bahwa Abubakar dan Umar akan kekal dalam neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi tambahan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Marja'iyyah Addiniyah wa maraji'ul Imamiyah. Nuruddin Asysyahurdi hal 85&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Attasyayyu' al alawi wa tasyayyu' safawi. Ali Syariati hal 204&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Attasyayyu baina mafhum al a'immah wal mafhum alfarisi. Muhamamd Al Bandari hal 63&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tsaqafatul Wasath. Alauddin Al Mudarris hal 371&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asysyi'ah wa tasyayyu'. Ihsan Ilahi Zahir hal 327&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Hijroh Al Amiliyyah Ila Iran fi Asri Assafawi. Ja'far Al Muhajir hal 81&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ushul Mazhab Syiah. Nasir Al Qafari hal 199&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2606071805279753426-1484897248032147461?l=tarbiyahilalhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/feeds/1484897248032147461/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/08/kitab-rujukan-syiah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/1484897248032147461'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/1484897248032147461'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/08/kitab-rujukan-syiah.html' title='KITAB RUJUKAN SYI&apos;AH'/><author><name>Dhany</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06267143366179759089</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sy2ltTN_HwI/AAAAAAAAADI/ubrHlxmxRnw/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2606071805279753426.post-6252207280813571840</id><published>2010-05-03T06:31:00.000-07:00</published><updated>2010-05-03T06:39:33.934-07:00</updated><title type='text'>Syiah, Dari Iran Sampai Indonesia</title><content type='html'>Kemenangan Ayatullah Khomeini dalam Revolusi Islam (revolusi sebenarnya yang terjadi adalah Revolusi Syiah) di Iran awal tahun 1979 yang menumbangkan kekuasaan monarkhi Shah Pahlevi membuka dua eskalasi baru bagi negara-negara Barat, utamanya AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua eskalasi besar AS terhadap Iran adalah, Iran memiliki arti strategis bagi AS sebagai salah satu negara penyangga untuk membendung pengaruh Timur Tengah tentang ajaran Islam yang sesungguhnya, dan ini kemudian berjalan selama bertahun-tahun sampai sekarang. Mencuatnya Khomeini sebagai figur baru pada periode itu membuka kiblat peta yang baru pula. Seiring dengan pesona pemikiran dan filsafat yang dikembangkan Syiah, segera saja aliran ini mendapatkan begitu banyak ekspektasi dan simpati dari para kaum muda Muslim—dengan berpikir bahwa Iran adalah negara Arab yang disangkanya sebagai Negara Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eskalasi kedua adalah, untuk menjamin keamanan sekutu utamanya di wilayah kaya minyak tersebut, Israel. Sebagai blessing in disguise (bemper) atas peran Iran sebagai negara penebar Syiah, maka perang media akan keberadaan Israel dan Iran terus berlangsung, namun selama puluhan tahun lamanya, tak pernah ada satupun konflik nyata yang dilakukan oleh keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perang Iraq-Iran dan Pengaruh Syiah di Timur Tengah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di wilayah Timur Tengah sendiri, satu-satunya negara yang menyadari keberadaan Iran sebagai negara Syiah adalah Iraq. Saddam Hussein—memerintah hampir bersamaan dengan Khomeini pada tahun 1979, jauh-jauh hari sudah melihat pengaruh besar Iran ke Iraq dan negara-negara Arab lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perseteruan Iraq terhadap Iran kontan memecah pula konstalasi politik di wilayah Timur Tengah. Jika ingin melihat kemana saja Syiah bergerak pada awal mulanya di Timur Tengah akan sangat mudah, karena Libya dan Suriah, dengan serta merta menjadi komrad Khomeini dan perang Iraq-Iran pun berlangsung selama delapan tahun. Satu-satunya kesalahan Saddam adalah ia malah memilih berkongsi dengan Uni Soviet (sekarang Russia)—itupun dilakukan dengan terpaksa karena negara-negara Arab dengan satu alasan dan lainnya malah memilih abstain dengan mendirikan GCC (Gulf Coooperation Council) yang beranggotakan Arab Saudi, Bahrain, Kuwait, Qatar, Oman dan Uni Emirat Arab. Iraq sendiri bukannya tanpa dukungan, karena Mesir, Yaman dan Yordania berada di belakangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Suriah dan Libya, Syiah terus menerabas menuju Lebanon. Seperti diketahui, di Lebanon Syiah asalnya menjadi golongan yang tak diakui. Baru ketika Hizbullah naik ke permukaan, maka Syiah menjadi sangat kuat. Hizbullah adalah kelompok yang dibentuk oleh Sayyid Muhammad Hussein Fadhlalah. Gerakan yang sekarang dipimpin oleh Sayyid Hasan Nashrallah ini memperoleh dukungan dana dan perenjataan dari Teheran, sehingga pada saat ini Hizbulllah menjelma menjadi milisi bersenjata terkuat di Lebanon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebangkitan Syiah di Irak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah kaum Syi’ah di Iraq sebenarnya sangat besar—mencapai sekitar 60 persen dari jumlah total 24 juta penduduknya. Sisanya adalah penganut Sunni yang menguasai politik Iraq. Sejak masa Saddam berkuasa, acara-acara yang berhubungan dengan kaum Syi’ah dilarang. Seperti diketahui, pada waktu Saddam berkuasa, kaum Syi'ah sama sekali tidak diberi ruang dikarenakan penyimpangan aqidah. Ketika Saddam jatuh, maka kaum Syi'ah seolah-olah membalas dendam kepada kaum Sunni. Mereka sengaja membuat isyu yang meminggirkan kaum Sunni lebih dekat kepada Al Qaidah sebagai pelindung setelah kejatuhan Saddam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah masa kependudukan Arab, bahkan Iran mempunyai pengaruh lebih buruk lagi terhadap Iraq. Keberadaan kaum syi'ah yang ada di Iraq menjadi salah satu penyebabnya. Kaum Syi’ah Iraq dipercayai lebih loyal terhadap Iran daripada Iraq sendiri. Pada akhirnya sentimen golongan tidak bisa dipisahkan pada permasalahan Iraq sebenarnya. Namun walau pun sekarang Saddam sudah tidak ada, tetap saja rakyat Iraq menolak Syiah dengan tegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syiah di Timur Tengah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, perkembangan Syiah di Timur Tengah telah merambah ke segala arah. Walau pun beberapa negara masih sangat ketat, seperti Arab Saudi dan Mesir, namun gerakan-gerakan ini sudah menimbulkan riak-riak dengan para pemuda sebagai pembawanya. Tiadanya figur sentral dalam dunia Islam jelas dimanfaatkan oleh Iran untuk naik ke permukaan—misalnya saja dengan tokoh-tokoh Iran yang seolah-olah secara terang-terangan mengecam dan membuka konfrontasi dengan AS dan Israel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai gerakan Islam sepakat tidak mengakui Syiah sebagai salah satu perjuangan Islam. Misalnya saja, Ikhwan (Mesir) melalui pemimpinnya Mahdi Akif sudah dengan tegas menyatakan bahwa Ikhwan tidak pernah menjadi rekan mereka dalam menegakkan Islam. Perwakilan Hamas (Palestina) yang datang ke Indonesia menyatakan bahwa tidak satupun anggota dan kader Hamas yang berpaham Syiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syiah di Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan di Indonesia? 1 September 1997, diselenggarakan sebuah seminar nasional di Jakarta, yang dihadiri pejabat pemerintah, ABRI, MUI, pimpinan ormas Islam, dan masyarakat umum. Melalui seminar itu, keluarlah sebuah keputusan penting menyangkut Syiah, antara lain; Syi’ah malakukan penyimpangan dan perusakan Akidah Ahlussunnah Wal Jamaah. Seminar itu mengusulkan agar pemerintah RI lewat Kejaksaan Agung melarang Syiah, termasuk penyebaran buku-buku Syiah di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dalam perkembangannya, justru kecenderungan untuk mempelajari Syi’ah makin meningkat. Buku-buku tentang Syiah pun dengan gampang bisa diperoleh di toko-toko buku. Bahkan lembaga atau komunitas Syiah juga berkembang pesat tanpa lagi takut dengan pelbagai gunjingan miring tentangnya. (sa/erm/syiahindonesia&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2606071805279753426-6252207280813571840?l=tarbiyahilalhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/feeds/6252207280813571840/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/05/syiah-dari-iran-sampai-indonesia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/6252207280813571840'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/6252207280813571840'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/05/syiah-dari-iran-sampai-indonesia.html' title='Syiah, Dari Iran Sampai Indonesia'/><author><name>Dhany</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06267143366179759089</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sy2ltTN_HwI/AAAAAAAAADI/ubrHlxmxRnw/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2606071805279753426.post-5093073585001384509</id><published>2010-04-26T19:32:00.001-07:00</published><updated>2010-04-26T19:32:55.596-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/S9ZMz00ptMI/AAAAAAAAAH0/lDD8baCcQZY/s1600/swati2.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 245px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/S9ZMz00ptMI/AAAAAAAAAH0/lDD8baCcQZY/s400/swati2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5464639651097195714" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2606071805279753426-5093073585001384509?l=tarbiyahilalhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/feeds/5093073585001384509/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/04/blog-post_26.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/5093073585001384509'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/5093073585001384509'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/04/blog-post_26.html' title=''/><author><name>Dhany</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06267143366179759089</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sy2ltTN_HwI/AAAAAAAAADI/ubrHlxmxRnw/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/S9ZMz00ptMI/AAAAAAAAAH0/lDD8baCcQZY/s72-c/swati2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2606071805279753426.post-7197162236747519040</id><published>2010-04-26T19:28:00.000-07:00</published><updated>2010-04-26T19:32:02.865-07:00</updated><title type='text'>ANGGOTA BRIGADE KEMBALI JADI KORBAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/S9ZMl_qVd4I/AAAAAAAAAHs/xix8sJ1u_Tw/s1600/swati.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 248px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/S9ZMl_qVd4I/AAAAAAAAAHs/xix8sJ1u_Tw/s400/swati.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5464639413488547714" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Selasa, 27/04/2010 08:57 WIB | email | print | share&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brigade Izzuddin Al-Qassam, sayap militer gerakan Hamas, hari Senin kemarin (26/4) berkabung atas syahidnya (InsyaAllah) Ismail Ali Al-Suwaiti, salah seorang pemimpin Brigade Al-Qassam di distrik Biet Awa, sebelah barat daya Al-Khalil Tepi Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali Al-Suwaiti menjadi syahid saat berusaha membela diri dari pasukan pendudukan Zionis yang menyerang desa Beit Awwa dengan didukung oleh sejumlah besar kendaraan militer dan buldoser pada hari Senin pagi kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasukan militer rezim zionis menyerbu rumah Asy-Syahid Ismail Ali Al-Suwaiti, Ali Al-Suwaiti menolak untuk menyerah dan bersikeras membela diri dan melakukan perlawanan sehingga menyebabkan tokoh pejuang Palestina itu gugur syahid dalam serangan tersebut. Sebagaimana diberitakan IRNA mengutip keterangan para saksi mata, militer rezim zionis Senin (26/4) mengepung rumah Ali Al-Suwaiti selama enam jam dengan tembakan peluru dan menghancurkan rumah tersebut dengan buldoser.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata Ali hancur dan wajahnya rusak parah setelah di tembak mati oleh pasukan pendudukan Zionis pengecut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari sebelumnya, kawasan Beit Awwa menjadi ajang bentrokan antara warga Palestina dengan tentara rezim zionis. Dalam bentrokan ini, tentara rezim zionis juga sempat memukuli seorang wartawan dan mencegah peliputan berita mengenai kejahatan rezim zionis terhadap warga Palestina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak delapan tahun lalu, militer rezim zionis mengincar Ali Al-Suwaiti. Menjawab aksi teror tersebut, Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) berjanji tidak akan membiarkan begitu saja kebiadaban Israel itu tanpa tindakan balasan.(fq/qassam/irna)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2606071805279753426-7197162236747519040?l=tarbiyahilalhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/feeds/7197162236747519040/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/04/anggota-brigade-kembali-jadi-korban.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/7197162236747519040'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/7197162236747519040'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/04/anggota-brigade-kembali-jadi-korban.html' title='ANGGOTA BRIGADE KEMBALI JADI KORBAN'/><author><name>Dhany</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06267143366179759089</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sy2ltTN_HwI/AAAAAAAAADI/ubrHlxmxRnw/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/S9ZMl_qVd4I/AAAAAAAAAHs/xix8sJ1u_Tw/s72-c/swati.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2606071805279753426.post-688536422822324430</id><published>2010-04-21T02:58:00.001-07:00</published><updated>2010-04-21T03:00:10.775-07:00</updated><title type='text'>ABDULLAH BIN SABA' TERNYATA BUKAN TOKOH REKAAN</title><content type='html'>Bismillah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ‘ulama terdahulu, baik dari kalangan ahli hadits, ahli sejarah, ataupun yang lainnya telah sepakat akan keberadaan tokoh besar syi’ah sekaligus pendirinya yang bernama Abdullah bin Saba’, tidak ada yang mengingkarinya kecuali sebagian syi’ah rafidhah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—————&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah bin Saba’ yang juga dikenal dengan sebutan Ibnu Sauda’ adalah seorang Yahudi yang berasal dari negeri Yaman, tepatnya dari daerah Shan’a (Ibu kota Yaman). Ia berpura-pura masuk islam pada masa pemerintahan Utsman bin ‘Affan untuk menghancurkan islam dari dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai macam fitnah ia timbulkan. Ia terlibat dalam pembunuhan Khalifah Utsman bin ‘Affan, juga terlibat mengobarkan fitnah pada perang Jamal antara Ali dan ‘Aisyah, dan perang Shiffin antara Ali dan Mu’awiyyah radhiallahu ‘anhum. Kemudian pada pemerintahan ‘Ali ia kembali membuat ulah dengan memunculkan satu fitnah besar yaitu mengajak manusia untuk meyakini Khalifah Ali sebagai Tuhan. Dengan sebab ulahnya itulah para Saba’iyyah ketika itu harus rela dibakar oleh seorang yang mereka anggap sebagai Tuhan.[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah bin Saba’ atau yang juga disebut dengan Ibnu Sauda’ bukanlah tokoh fikti sebagaimana sangkaan sebagian orang-orang syi’ah sekarang. Diantara alasan mereka yang tidak mengakui keberadaan Abdullah bin Saba’ adalah, kata mereka, riwayat-riwayat yang menjelaskan tentang hakekat Abdullah bin Saba’ adalah lemah karena melewati jalur seorang perawi bernama Saif bin Umar At-Tamimi, ia telah dilemahkan oleh beberapa pakar hadits Ahlus Sunnah terkemuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan mereka yang sangat lemah ini dapat kita jawab dari beberapa sisi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: pernyataan mereka bahwa para ulama pakar hadits telah melemahkan Saif bin ‘Umar At-Tamimi adalah benar. Akan tetapi yang perlu diperhatikan bahwa yang mereka lemahkan adalah periwayatan haditsnya (maksudnya jika ia meriwayatkan hadits maka haditsnya lemah) adapun dalam masalah sejarah maka beliau dapat dijadikan sandaran dan rujukan, hal ini sebagaimana yang dinyatakan oleh Ibnu Hajar (beliau termasuk ulama yang mereka jadikan rujukan untuk melemahkan Saif bin Umar At-Tamimi) dalam kitabnya Tahdzibut Tahdzib 1/408 dan Taqribut Tahdzib 1/408 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saif bin Umar At-Tamimi pengarang kitab Ar-Riddah, ada yang mengatakan dia Adh-Dhabi ada yang mengatakan selainnya, Al-Kufi Dha’if haditsnya, (akan tetapi) Umdah (bisa dijadikan sandaran) dalam bidang tarikh/sejarah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Adz-Dzahabi (juga ‘ulama yang mereka jadikan rujukan untuk melemahkan Saif bin Umar At-Tamimi) berkata dalam kitabnya Mizanul I’tidal 2/ 255, “Ia adalah pakar sejarah yang paham.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula Al-Mubarakfuri dalam kitabnya Tuhfatul Ahwadzi 10/249 menyebutkan seperti ucapan Ibnu Hajar diatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar Kahalah dalam kitabnya Mu’jamul Muallifin 4/288 mengatakan, “Saif bin Umar At-Tamimi Al Burjumi, Ahli sejarah berasal dari Kufah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka jelaslah bahwa yang dilemahkan oleh para muhaditsin adalah riwayat haditsnya, adapun dalam permasalahan sejarah maka beliau termasuk ahlinya yang dapat dijadikan sandaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: perlu diketahui bahwa riwayat-riwayat yang menjelaskan keberadaan Abdullah bin Saba’ baik yang terdapat dalam kitab Tarikh Ibnu Asakir, Tarikh Thabari, atau selain keduanya tidak hanya datang dari jalur Saif bin Umar At-Tamimi, akan tetapi juga diriwayatkan dari beberapa jalur yang sebagiannya shahih. Diantaranya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Diriwayatkan dari jalur Abu Khaitsamah ia berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abbad ia berkata, telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Ammar ad-Duhani katanya, saya mendengar Abu Thufail berkata …..”&lt;br /&gt;    * Diriwayatkan melalui jalur ‘Amr bin Marzuk ia berkata, telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Salamah bin Kuhail dari Zain bin Wahb ia berkata, “Ali radhiallahu ‘anhu berkata, ‘ada apa denganku dan dengan orang jahat yang hitam ini (maksudnya Abdullah bin Saba’) ia telah mencela Abu Bakar dan Umar radhiallahu ‘anhu.”&lt;br /&gt;    * Diriwayatkan pula melalui jalur Muhammad bin ‘Utsman bin Abi Syaibah ia berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Ala ia berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin ‘Ayyas dari Mujalid dari Sya’bi ia berkata, “Pertama kali yang berdusta adalah Abdullah bin Saba’.”&lt;br /&gt;    * Ibnu Ya’la Al-Mushili berkata dalam kitab Musnadnya, “Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib ia berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Hasan Al-Asadi ia berkata, telah menceritakan kepada kami Harun bin Shalih dari Harits bin Abdurrahman dari Abul Jallas katanya, ‘aku mendengar Ali berkata kepada Abdullah bin Saba’, ‘….”&lt;br /&gt;    * Berkata Abu Ishaq al-Fazzari dari Syu’bah dari Salamah bin Kuhail dari Abu Za’ra’ dari Zaid bin Wahb …………. (lihat semuanya di Lisanul Mizan 2/40)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: juga terdapat dalam kitab rujukan Syi’ah baik itu kitab tentang firqah, hadits, atau rijal riwayat yang cukup banyak yang sama sekali tidak melewati jalur Saif bin Umar At-Tamimi. Sebagaimana yang akan kita jelaskan insya Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah bin Saba’ di Kitab-kitab Ahlus Sunnah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya sangat banyak sekali penyebutan Abdullah bin Saba’ dalam kitab-kitab Ahlus Sunnah yang kesemuanya tidak lain menunjukkan keyakinan mereka akan keberadaannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Ibnu Taimiyyah berkata, “Sesungguhnya permulaan rafidhah berasal dari seorang Zindiq, yaitu Abdullah bin Saba’.” (Majmu’ Fatawa 28/483)&lt;br /&gt;    * Imam Adz-Dzahabi berkata, “Abdullah (bin Saba’) termasuk zindiq yang ekstrim, ia sesat dan menyesatkan.” (Mizanul I’tidal 2/426)&lt;br /&gt;    * Ibnu Hajar berkata, “Abdullah bin Saba’ termasuk zindiq yang paling ekstrim…. Ia memiliki pengikut yang disebut Sabaiyyah, mereka (kaum Sabaiyyah) memiliki keyakinan sifat ketuhanan pada diri Ali bin Abi Thalib. Beliau telah membakar mereka dengan api pada masa kekhilafaannya.” (Lisanul Mizan 3/360)&lt;br /&gt;    * Abul Muzhaffar Al Isfarayini dalam Al Milal wan Nihal ketika menceritakan tentang As-Sabaiyyah berkata, “Dan bahwasanya yang membakar mereka adalah Ali, yaitu kelompok dari rafidhah yang meyakini padanya (pada Ali) ada sifat ketuhanan, merekalah yang disebut kelompok Sabaiyyah pendirinya adalah Abdullah bin Saba’ seorang Yahudi yang menampakkan keislaman…” (lihat Fathul Bari 12/270)&lt;br /&gt;    * Abdullah bin Muslim bin Qutaibah dalam kitabnya Ta’wilu Mukhtalafil Hadits 1/21 berkata, “Kami tidak pernah mengetahui ada pada ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu yang meyakini adanya sifat ketuhanan pada manusia selain mereka (yaitu rafidhah ekstrim). Sesungguhnya Abdullah bin Saba’ meyakini adanya sifat ketuhanan pada diri Ali.”&lt;br /&gt;    * Az Zarkali berkata, “Abdullah bin Saba’ pendiri kelompok Sabaiyyah.” (Al-A’lam 4/88)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula, para ulama’ Ahlus Sunnah sering sekali menjuluki seorang rawi yang beraqidah Rafidhah ekstrim sebagai Sabaiyyah (pengikut Abdullah bin Saba’), kalau seandainya Abdullah bin Saba’ adalah tokoh fiktif mana mungkin mereka memakai istilah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Ash-Shafadi berkata, “As-Sabaiyyah dinisbahkan kepada Abdullah bin Saba’.’ (Al-Wafil Wafayat 5/30)&lt;br /&gt;    * Beliau juga berkata, “Pendiri As-Sabaiyyah adalah Abdullah bin Saba’, dialah pendiri kelompok Sabaiyyah, dia pula yang berkata kepada Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, ‘Kamu adalah Tuhan.” (5/393)&lt;br /&gt;    * Ibnu Hibban berkata, “Dan adalah al-Kalbi seorang Sabaiyyah termasuk yang berkeyakinan Sesungguhnya Ali belum mati, dia akan kembali ke dunia sebelum hari kiamat…” (Al-Majruhin 2/253)&lt;br /&gt;    * Ibnu Makula berkata dalam kitab Rijalnya, “Faraj bin Sa’id bin ‘Alqamah bin Abyadh bin Hamal As Sabay… dan Sabayyah termasuk rafidhah yang paling ekstrim nisbah kepada Abdullah bin Saba’. (lihat Ikmalul Kamal 4/536)&lt;br /&gt;    * As Sam’ani dalam kitabnya Al Ansab 3/209 berkata, “Dan Abdullah bin Wahb as Saba’i, gembong khawarij, menurutku bahwa Abdullah bin Wahb ini dinisbahkan kepada Abdullah bin Saba’, dia dari rafidhah, dan jama’ah dari mereka yang dinisbahkan kepadanya disebut, as Sabaiyyah.”&lt;br /&gt;    * As Suyuthi dalam kitabnya Lubbul Lubab fi Tahriril Ansab 1/42 berkata, “…Dan (dinisbahkan juga) kepada Abdullah bin Saba’ pendiri Sabaiyyah dari rafidhah.”&lt;br /&gt;    * Dan selain mereka banyak sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah bin Saba’ di Kitab-kitab Syi’ah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Al Kisysyi dalam kitabnya Ar-Rijal 1/324 meriwayatkan dari Muhammad bin Qauluwiyah ia berkata, telah menceritakan kepadaku Sa’d bin Abdillah ia berkata, telah menceritakan kepadaku Ya’qub bin Yazid dan Muhammad bin ‘Isa dari Ali bin Mihziyar dari Fudhalah bin Ayyub al-Azdi dari Aban bin Utsman ia berkata, “Aku mendengar Abu Abdillah berkata, ‘La’nat Allah atas Abdullah bin Saba’, sesungguhnya ia meyakini adanya sifat ketuhanan pada diri Amirul Mukminiin (Ali), padahal demi Allah! Amirul Mukminin hanyalah seorang hamba yang taat.”&lt;br /&gt;    * Demikian pula Al Qummi dalam kitabnya Al Khishal meriwayatkan seperti diatas dengan sanad yang berbeda.&lt;br /&gt;    * Dan selain keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dari uraian diatas kita mengetahui bahwa Abdullah bin Saba’ bukanlah tokoh fiktif/khayalan/rekaan/dongeng. Ini telah menjadi kesepakatan para ‘ulama sejarah, hadits, dan pengarang kitab tentang firqah, thabaqat, Rijal, adab, dan Ansab. Maka kaum syi’ah tidak memiliki celah untuk mengingkari keberadaan Abdullah bin Saba’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi pembahasan tentang Abdullah bin Saba’ tidak sebatas ada dalam kitab Tarikh Ath-Thabari saja dan tidak hanya melalui jalur periwayatan Saif bin ‘Umar At-Tamimi, walaupun beliau adalah seorang yang dapat dijadikan sandaran dalam bidang sejarah sebagaimana yang kami jelaskan diatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah ini semua, masihkah kita mengingkari keberadaan Abdullah bin Saba’ si Yahudi yang berpura-pura masuk islam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang dapat kami suguhkan pada kesempatan kali ini. Wallahu a’lam bish shawwab.&lt;br /&gt;[1] Lihat biografi Abdullah bin Saba’ selengkapnya di Tarikh Dimasyq 3/29, Tarikh Thabari, Al Kamil karya Ibnul Atsir, Al Ma’arif hal.622 karya Ibnu Qutaibah, Mizanul I’tidal 2/426, Al Milal wan Nihal hal.365 karya Asy-Syihristani, Al Wafi bil Wafayat 17/189.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2606071805279753426-688536422822324430?l=tarbiyahilalhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/feeds/688536422822324430/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/04/abdullah-bin-saba-ternyata-bukan-tokoh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/688536422822324430'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/688536422822324430'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/04/abdullah-bin-saba-ternyata-bukan-tokoh.html' title='ABDULLAH BIN SABA&apos; TERNYATA BUKAN TOKOH REKAAN'/><author><name>Dhany</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06267143366179759089</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sy2ltTN_HwI/AAAAAAAAADI/ubrHlxmxRnw/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2606071805279753426.post-4151067745064029672</id><published>2010-04-21T02:47:00.000-07:00</published><updated>2010-04-21T02:48:14.925-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/S87J15-RorI/AAAAAAAAAHk/Bxy_zpBpeTU/s1600/syiah.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 245px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/S87J15-RorI/AAAAAAAAAHk/Bxy_zpBpeTU/s400/syiah.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5462525325979263666" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2606071805279753426-4151067745064029672?l=tarbiyahilalhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/feeds/4151067745064029672/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/04/blog-post_21.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/4151067745064029672'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/4151067745064029672'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/04/blog-post_21.html' title=''/><author><name>Dhany</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06267143366179759089</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sy2ltTN_HwI/AAAAAAAAADI/ubrHlxmxRnw/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/S87J15-RorI/AAAAAAAAAHk/Bxy_zpBpeTU/s72-c/syiah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2606071805279753426.post-7479912176000945896</id><published>2010-04-21T02:44:00.000-07:00</published><updated>2010-04-21T02:45:50.068-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/S87JNsNtY_I/AAAAAAAAAHc/8Z70S0OHaa8/s1600/VULCANO.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 260px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/S87JNsNtY_I/AAAAAAAAAHc/8Z70S0OHaa8/s400/VULCANO.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5462524635091133426" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2606071805279753426-7479912176000945896?l=tarbiyahilalhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/feeds/7479912176000945896/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/04/blog-post.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/7479912176000945896'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/7479912176000945896'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/04/blog-post.html' title=''/><author><name>Dhany</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06267143366179759089</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sy2ltTN_HwI/AAAAAAAAADI/ubrHlxmxRnw/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/S87JNsNtY_I/AAAAAAAAAHc/8Z70S0OHaa8/s72-c/VULCANO.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2606071805279753426.post-7340779202797232119</id><published>2010-04-21T02:38:00.000-07:00</published><updated>2010-04-21T02:42:30.397-07:00</updated><title type='text'>MEMBONGKAR KESESATAN SYI"AH</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/S87Ic2hsF5I/AAAAAAAAAHU/smTNktZJKGM/s1600/syiah_asyura17.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 254px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/S87Ic2hsF5I/AAAAAAAAAHU/smTNktZJKGM/s400/syiah_asyura17.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5462523796045698962" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; Serupa tapi tak sama. Barangkali ungkapan ini tepat untuk menggambarkan Islam dan kelompok Syi’ah. Secara fisik, memang sulit dibedakan antara penganut Islam dengan Syi’ah. Namun jika ditelusuri -terutama dari sisi aqidah- perbedaan di antara keduanya ibarat minyak dan air. Sehingga, tidak mungkin disatukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa Itu Syi’ah?&lt;br /&gt;Syi’ah menurut etimologi bahasa Arab bermakna: pembela dan pengikut seseorang. Selain itu juga bermakna: Setiap kaum yang berkumpul di atas suatu perkara. (Tahdzibul Lughah, 3/61, karya Azhari dan Tajul Arus, 5/405, karya Az-Zabidi. Dinukil dari kitab Firaq Mu’ashirah, 1/31, karya Dr. Ghalib bin ‘Ali Al-Awaji)&lt;br /&gt;Adapun menurut terminologi syariat bermakna: Mereka yang menyatakan bahwa Ali bin Abu Thalib lebih utama dari seluruh shahabat dan lebih berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan kaum muslimin, demikian pula anak cucu sepeninggal beliau. (Al-Fishal Fil Milali Wal Ahwa Wan Nihal, 2/113, karya Ibnu Hazm)&lt;br /&gt;Syi’ah, dalam sejarahnya mengalami beberapa pergeseran. Seiring dengan bergulirnya waktu, kelompok ini terpecah menjadi lima sekte yaitu Kaisaniyyah, Imamiyyah (Rafidhah), Zaidiyyah, Ghulat, dan Isma’iliyyah. Dari kelimanya, lahir sekian banyak cabang-cabangnya. (Al-Milal Wan Nihal, hal. 147, karya Asy-Syihristani)&lt;br /&gt;Dan tampaknya yang terpenting untuk diangkat pada edisi kali ini adalah sekte Imamiyyah atau Rafidhah, yang sejak dahulu hingga kini berjuang keras untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin. Dengan segala cara, kelompok sempalan ini terus menerus menebarkan berbagai macam kesesatannya. Terlebih lagi kini didukung dengan negara Iran-nya.&lt;br /&gt;Rafidhah , diambil dari yang menurut etimologi bahasa Arab bermakna , meninggalkan (Al-Qamus Al-Muhith, hal. 829). Sedangkan dalam terminologi syariat bermakna: Mereka yang menolak imamah (kepemimpinan) Abu Bakr dan ‘Umar c, berlepas diri dari keduanya, dan mencela lagi menghina para shahabat Nabi . (Badzlul Majhud fi Itsbati Musyabahatir Rafidhati lil Yahud, 1/85, karya Abdullah Al-Jumaili)&lt;br /&gt;Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata: “Aku telah bertanya kepada ayahku, siapa Rafidhah itu? Maka beliau menjawab: ‘Mereka adalah orang-orang yang mencela Abu Bakr dan ‘Umar’.” (Ash-Sharimul Maslul ‘Ala Syatimir Rasul hal. 567, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah)&lt;br /&gt;Sebutan “Rafidhah” ini erat kaitannya dengan Zaid bin ‘Ali bin Husain bin ‘Ali bin Abu Thalib dan para pengikutnya ketika memberontak kepada Hisyam bin Abdul Malik bin Marwan di tahun 121 H. (Badzlul Majhud, 1/86)&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Abul Hasan Al-Asy’ari berkata: “Zaid bin ‘Ali adalah seorang yang melebihkan ‘Ali bin Abu Thalib atas seluruh shahabat Rasulullah, mencintai Abu Bakr dan ‘Umar, dan memandang bolehnya memberontak1 terhadap para pemimpin yang jahat. Maka ketika ia muncul di Kufah, di tengah-tengah para pengikut yang membai’atnya, ia mendengar dari sebagian mereka celaan terhadap Abu Bakr dan ‘Umar. Ia pun mengingkarinya, hingga akhirnya mereka (para pengikutnya) meninggalkannya. Maka ia katakan kepada mereka:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian tinggalkan aku?” Maka dikatakanlah bahwa penamaan mereka dengan Rafidhah dikarenakan perkataan Zaid kepada mereka “Rafadhtumuunii.” (Maqalatul Islamiyyin, 1/137). Demikian pula yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Fatawa (13/36).&lt;br /&gt;Rafidhah pasti Syi’ah, sedangkan Syi’ah belum tentu Rafidhah. Karena tidak semua Syi’ah membenci Abu Bakr dan ‘Umar sebagaimana keadaan Syi’ah Zaidiyyah.&lt;br /&gt;Rafidhah ini terpecah menjadi beberapa cabang, namun yang lebih ditonjolkan dalam pembahasan kali ini adalah Al-Itsna ‘Asyariyyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah Pencetusnya?&lt;br /&gt;Pencetus pertama bagi faham Syi’ah Rafidhah ini adalah seorang Yahudi dari negeri Yaman (Shan’a) yang bernama Abdullah bin Saba’ Al-Himyari, yang menampakkan keislaman di masa kekhalifahan ‘Utsman bin Affan.2&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Asal Ar-Rafdh ini dari munafiqin dan zanadiqah (orang-orang yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran, pen). Pencetusnya adalah Abdullah bin Saba’ Az-Zindiq. Ia tampakkan sikap ekstrim di dalam memuliakan ‘Ali, dengan suatu slogan bahwa ‘Ali yang berhak menjadi imam (khalifah) dan ia adalah seorang yang ma’shum (terjaga dari segala dosa, pen).” (Majmu’ Fatawa, 4/435)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesatkah Syi’ah Rafidhah ?&lt;br /&gt;Berikut ini akan dipaparkan prinsip (aqidah) mereka dari kitab-kitab mereka yang ternama, untuk kemudian para pembaca bisa menilai sejauh mana kesesatan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Tentang Al Qur’an&lt;br /&gt;Di dalam kitab Al-Kaafi (yang kedudukannya di sisi mereka seperti Shahih Al-Bukhari di sisi kaum muslimin), karya Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub Al-Kulaini (2/634), dari Abu Abdullah (Ja’far Ash-Shadiq), ia berkata : “Sesungguhnya Al Qur’an yang dibawa Jibril kepada Muhammad  (ada) 17.000 ayat.”&lt;br /&gt;Di dalam Juz 1, hal 239-240, dari Abu Abdillah ia berkata: “…Sesungguhnya di sisi kami ada mushaf Fathimah ‘alaihas salam, mereka tidak tahu apa mushaf Fathimah itu. Abu Bashir berkata: ‘Apa mushaf Fathimah itu?’ Ia (Abu Abdillah) berkata: ‘Mushaf 3 kali lipat dari apa yang terdapat di dalam mushaf kalian. Demi Allah, tidak ada padanya satu huruf pun dari Al Qur’an kalian…’.”&lt;br /&gt;(Dinukil dari kitab Asy-Syi’ah Wal Qur’an, hal. 31-32, karya Ihsan Ilahi Dzahir).&lt;br /&gt;Bahkan salah seorang “ahli hadits” mereka yang bernama Husain bin Muhammad At-Taqi An-Nuri Ath-Thabrisi telah mengumpulkan sekian banyak riwayat dari para imam mereka yang ma’shum (menurut mereka), di dalam kitabnya Fashlul Khithab Fii Itsbati Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab, yang menjelaskan bahwa Al Qur’an yang ada ini telah mengalami perubahan dan penyimpangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Tentang shahabat Rasulullah&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Imam Al-Jarh Wat Ta’dil mereka (Al-Kisysyi) di dalam kitabnya Rijalul Kisysyi (hal. 12-13) dari Abu Ja’far (Muhammad Al-Baqir) bahwa ia berkata: “Manusia (para shahabat) sepeninggal Nabi, dalam keadaan murtad kecuali tiga orang,” maka aku (rawi) berkata: “Siapa tiga orang itu?” Ia (Abu Ja’far) berkata: “Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzar Al-Ghifari, dan Salman Al-Farisi…” kemudian menyebutkan surat Ali Imran ayat 144. (Dinukil dari Asy-Syi’ah Al-Imamiyyah Al-Itsna ‘Asyariyyah Fi Mizanil Islam, hal. 89)&lt;br /&gt;Ahli hadits mereka, Muhammad bin Ya’qub Al-Kulaini berkata: “Manusia (para shahabat) sepeninggal Nabi dalam keadaan murtad kecuali tiga orang: Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzar Al-Ghifari, dan Salman Al-Farisi.” (Al-Kafi, 8/248, dinukil dari Asy-Syi’ah Wa Ahlil Bait, hal. 45, karya Ihsan Ilahi Dzahir)&lt;br /&gt;Demikian pula yang dinyatakan oleh Muhammad Baqir Al-Husaini Al-Majlisi di dalam kitabnya Hayatul Qulub, 3/640. (Lihat kitab Asy-Syi’ah Wa Ahlil Bait, hal. 46)&lt;br /&gt;Adapun shahabat Abu Bakr dan ‘Umar, dua manusia terbaik setelah Rasulullah , mereka cela dan laknat. Bahkan berlepas diri dari keduanya merupakan bagian dari prinsip agama mereka. Oleh karena itu, didapati dalam kitab bimbingan do’a mereka (Miftahul Jinan, hal. 114), wirid laknat untuk keduanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, semoga shalawat selalu tercurahkan kepada Muhammad dan keluarganya, laknatlah kedua berhala Quraisy (Abu Bakr dan Umar), setan dan thaghut keduanya, serta kedua putri mereka…(yang dimaksud dengan kedua putri mereka adalah Ummul Mukminin ‘Aisyah dan Hafshah)&lt;br /&gt;(Dinukil dari kitab Al-Khuthuth Al-‘Aridhah, hal. 18, karya As-Sayyid Muhibbuddin Al-Khatib)&lt;br /&gt;Mereka juga berkeyakinan bahwa Abu Lu’lu’ Al-Majusi, si pembunuh Amirul Mukminin ‘Umar bin Al-Khaththab, adalah seorang pahlawan yang bergelar “Baba Syuja’uddin” (seorang pemberani dalam membela agama). Dan hari kematian ‘Umar dijadikan sebagai hari “Iedul Akbar”, hari kebanggaan, hari kemuliaan dan kesucian, hari barakah, serta hari suka ria. (Al-Khuthuth Al-‘Aridhah, hal. 18)&lt;br /&gt;Adapun ‘Aisyah dan para istri Rasulullah  lainnya, mereka yakini sebagai pelacur -na’udzu billah min dzalik-. Sebagaimana yang terdapat dalam kitab mereka Ikhtiyar Ma’rifatir Rijal (hal. 57-60) karya Ath-Thusi, dengan menukilkan (secara dusta) perkataan shahabat Abdullah bin ‘Abbas terhadap ‘Aisyah: “Kamu tidak lain hanyalah seorang pelacur dari sembilan pelacur yang ditinggalkan oleh Rasulullah…” (Dinukil dari kitab Daf’ul Kadzibil Mubin Al-Muftara Minarrafidhati ‘ala Ummahatil Mukminin, hal. 11, karya Dr. Abdul Qadir Muhammad ‘Atha)&lt;br /&gt;Demikianlah, betapa keji dan kotornya mulut mereka. Oleh karena itu, Al-Imam Malik bin Anas berkata: “Mereka itu adalah suatu kaum yang berambisi untuk menghabisi Nabi  namun tidak mampu. Maka akhirnya mereka cela para shahabatnya agar kemudian dikatakan bahwa ia (Nabi Muhammad  ) adalah seorang yang jahat, karena kalau memang ia orang shalih, niscaya para shahabatnya adalah orang-orang shalih.” (Ash-Sharimul Maslul ‘ala Syatimirrasul, hal. 580)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Tentang Imamah (Kepemimpinan Umat)&lt;br /&gt;Imamah menurut mereka merupakan rukun Islam yang paling utama3. Diriwayatkan dari Al-Kulaini dalam Al-Kaafi (2/18) dari Zurarah dari Abu Ja’far, ia berkata: “Islam dibangun di atas lima perkara:… shalat, zakat, haji, shaum dan wilayah (imamah)…” Zurarah berkata: “Aku katakan, mana yang paling utama?” Ia berkata: “Yang paling utama adalah wilayah.” (Dinukil dari Badzlul Majhud, 1/174)&lt;br /&gt;Imamah ini (menurut mereka -red) adalah hak ‘Ali bin Abu Thalib  dan keturunannya sesuai dengan nash wasiat Rasulullah . Adapun selain mereka (Ahlul Bait) yang telah memimpin kaum muslimin dari Abu Bakr, ‘Umar dan yang sesudah mereka hingga hari ini, walaupun telah berjuang untuk Islam, menyebarkan dakwah dan meninggikan kalimatullah di muka bumi, serta memperluas dunia Islam, maka sesungguhnya mereka hingga hari kiamat adalah para perampas (kekuasaan). (Lihat Al-Khuthuth Al-‘Aridhah, hal. 16-17)&lt;br /&gt;Mereka pun berkeyakinan bahwa para imam ini ma’shum (terjaga dari segala dosa) dan mengetahui hal-hal yang ghaib. Al-Khumaini (Khomeini) berkata: “Kami bangga bahwa para imam kami adalah para imam yang ma’shum, mulai ‘Ali bin Abu Thalib hingga Penyelamat Umat manusia Al-Imam Al-Mahdi, sang penguasa zaman -baginya dan bagi nenek moyangnya beribu-ribu penghormatan dan salam- yang dengan kehendak Allah Yang Maha Kuasa, ia hidup (pada saat ini) seraya mengawasi perkara-perkara yang ada.” (Al-Washiyyah Al-Ilahiyyah, hal. 5, dinukil dari Firaq Mu’ashirah, 1/192)&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Minhajus Sunnah, benar-benar secara rinci membantah satu persatu kesesatan-kesesatan mereka, terkhusus masalah imamah yang selalu mereka tonjolkan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Tentang Taqiyyah&lt;br /&gt;Taqiyyah adalah berkata atau berbuat sesuatu yang berbeda dengan keyakinan, dalam rangka nifaq, dusta, dan menipu umat manusia. (Lihat Firaq Mu’ashirah, 1/195 dan Asy-Syi’ah Al-Itsna ‘Asyariyyah, hal. 80)&lt;br /&gt;Mereka berkeyakinan bahwa taqiyyah ini bagian dari agama. Bahkan sembilan per sepuluh agama. Al-Kulaini meriwayatkan dalam Al-Kaafi (2/175) dari Abu Abdillah, ia berkata kepada Abu Umar Al-A’jami: “Wahai Abu ‘Umar, sesungguhnya sembilan per sepuluh dari agama ini adalah taqiyyah, dan tidak ada agama bagi siapa saja yang tidak ber-taqiyyah.” (Dinukil dari Firaq Mu’ashirah, 1/196). Oleh karena itu Al-Imam Malik ketika ditanya tentang mereka beliau berkata: “Jangan kamu berbincang dengan mereka dan jangan pula meriwayatkan dari mereka, karena sungguh mereka itu selalu berdusta.” Demikian pula Al-Imam Asy-Syafi’i berkata: “Aku belum pernah tahu ada yang melebihi Rafidhah dalam persaksian palsu.” (Mizanul I’tidal, 2/27-28, karya Al-Imam Adz-Dzahabi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Tentang Raj’ah&lt;br /&gt;Raj’ah adalah keyakinan hidupnya kembali orang yang telah meninggal. ‘Ahli tafsir’ mereka, Al-Qummi ketika menafsirkan surat An-Nahl ayat 85, berkata: “Yang dimaksud dengan ayat tersebut adalah raj’ah, kemudian menukil dari Husain bin ‘Ali bahwa ia berkata tentang ayat ini: ‘Nabi kalian dan Amirul Mukminin (‘Ali bin Abu Thalib) serta para imam ‘alaihimus salam akan kembali kepada kalian’.” (Dinukil dari kitab Atsarut Tasyayyu’ ‘Alar Riwayatit Tarikhiyyah, hal. 32, karya Dr. Abdul ‘Aziz Nurwali)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Tentang Al-Bada’&lt;br /&gt;Al-Bada’ adalah mengetahui sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui. Mereka berkeyakinan bahwa Al-Bada’ ini terjadi pada Allah . Bahkan mereka berlebihan dalam hal ini. Al-Kulaini dalam Al-Kaafi (1/111), meriwayatkan dari Abu Abdullah (ia berkata): “Tidak ada pengagungan kepada Allah yang melebihi Al-Bada’.” (Dinukil dari Firaq Mu’ashirah, 1/252). Suatu keyakinan kafir yang sebelumnya diyakini oleh Yahudi4.&lt;br /&gt;Demikianlah beberapa dari sekian banyak prinsip Syi’ah Rafidhah, yang darinya saja sudah sangat jelas kesesatan dan penyimpangannya. Namun sayang, tanpa rasa malu Al-Khumaini (Khomeini) berkata: “Sesungguhnya dengan penuh keberanian aku katakan bahwa jutaan masyarakat Iran di masa sekarang lebih utama dari masyarakat Hijaz (Makkah dan Madinah, pen) di masa Rasulullah , dan lebih utama dari masyarakat Kufah dan Iraq di masa Amirul Mukminin (‘Ali bin Abu Thalib) dan Husein bin ‘Ali.” (Al-Washiyyah Al-Ilahiyyah, hal. 16, dinukil dari Firaq Mu’ashirah, hal. 192)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkataan Ulama tentang Syi’ah Rafidhah&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Dr. Ibrahim Ar-Ruhaili di dalam kitabnya Al-Intishar Lish Shahbi Wal Aal (hal. 100-153) menukilkan sekian banyak perkataan para ulama tentang mereka. Namun dikarenakan sangat sempitnya ruang rubrik ini, maka hanya bisa ternukil sebagiannya saja.&lt;br /&gt;1. Al-Imam ‘Amir Asy-Sya’bi berkata: “Aku tidak pernah melihat kaum yang lebih dungu dari Syi’ah.” (As-Sunnah, 2/549, karya Abdullah bin Al-Imam Ahmad)&lt;br /&gt;2. Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri ketika ditanya tentang seorang yang mencela Abu Bakr dan ‘Umar, beliau berkata: “Ia telah kafir kepada Allah.” Kemudian ditanya: “Apakah kita menshalatinya (bila meninggal dunia)?” Beliau berkata: “Tidak, tiada kehormatan (baginya)….” (Siyar A’lamin Nubala, 7/253)&lt;br /&gt;3. Al-Imam Malik dan Al-Imam Asy-Syafi’i, telah disebut di atas.&lt;br /&gt;4. Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Aku tidak melihat dia (orang yang mencela Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Aisyah) itu orang Islam.” (As-Sunnah, 1/493, karya Al-Khallal)&lt;br /&gt;5. Al-Imam Al-Bukhari berkata: “Bagiku sama saja apakah aku shalat di belakang Jahmi, dan Rafidhi atau di belakang Yahudi dan Nashara (yakni sama-sama tidak boleh -red). Mereka tidak boleh diberi salam, tidak dikunjungi ketika sakit, tidak dinikahkan, tidak dijadikan saksi, dan tidak dimakan sembelihan mereka.” (Khalqu Af’alil ‘Ibad, hal. 125)&lt;br /&gt;6. Al-Imam Abu Zur’ah Ar-Razi berkata: “Jika engkau melihat orang yang mencela salah satu dari shahabat Rasulullah , maka ketahuilah bahwa ia seorang zindiq. Yang demikian itu karena Rasul bagi kita haq, dan Al Qur’an haq, dan sesungguhnya yang menyampaikan Al Qur’an dan As Sunnah adalah para shahabat Rasulullah . Sungguh mereka mencela para saksi kita (para shahabat) dengan tujuan untuk meniadakan Al Qur’an dan As Sunnah. Mereka (Rafidhah) lebih pantas untuk dicela dan mereka adalah zanadiqah.” (Al-Kifayah, hal. 49, karya Al-Khathib Al-Baghdadi)&lt;br /&gt;Demikianlah selayang pandang tentang Syi’ah Rafidhah, mudah-mudahan bisa menjadi pelita dalam kegelapan dan embun penyejuk bagi pencari kebenaran…Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Al-Atsari, Lc&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syariah, Manhaji, 12 – Februari – 2004, 01:05:04&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2606071805279753426-7340779202797232119?l=tarbiyahilalhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/feeds/7340779202797232119/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/04/membongkar-kesesatan-syiah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/7340779202797232119'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/7340779202797232119'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/04/membongkar-kesesatan-syiah.html' title='MEMBONGKAR KESESATAN SYI&quot;AH'/><author><name>Dhany</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06267143366179759089</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sy2ltTN_HwI/AAAAAAAAADI/ubrHlxmxRnw/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/S87Ic2hsF5I/AAAAAAAAAHU/smTNktZJKGM/s72-c/syiah_asyura17.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2606071805279753426.post-8303513219831653567</id><published>2010-02-01T07:15:00.000-08:00</published><updated>2010-02-01T07:23:01.838-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/S2bwS0USjgI/AAAAAAAAAGQ/9DbDKQjgue0/s1600-h/quran2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 266px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/S2bwS0USjgI/AAAAAAAAAGQ/9DbDKQjgue0/s400/quran2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5433294206541139458" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2606071805279753426-8303513219831653567?l=tarbiyahilalhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/feeds/8303513219831653567/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/02/blog-post.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/8303513219831653567'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/8303513219831653567'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/02/blog-post.html' title=''/><author><name>Dhany</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06267143366179759089</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sy2ltTN_HwI/AAAAAAAAADI/ubrHlxmxRnw/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/S2bwS0USjgI/AAAAAAAAAGQ/9DbDKQjgue0/s72-c/quran2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2606071805279753426.post-7340660241578924465</id><published>2010-02-01T07:07:00.001-08:00</published><updated>2010-02-01T07:14:27.610-08:00</updated><title type='text'>Wahai perempuan dekatlah dengan Al-qur'an</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/S2bvrVbwtfI/AAAAAAAAAGI/CZ_hX6vKg7I/s1600-h/quran1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/S2bvrVbwtfI/AAAAAAAAAGI/CZ_hX6vKg7I/s400/quran1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5433293528236078578" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kitab suci Al-Quran terbukti sebagai sebuah mukjizat yang tidak pernah lekang oleh waktu. Selama 14 abad lebih keberadaan Al-Quran, tak satu pun huruf di dalamnya berubah. Ratusan ribu Muslim menghafal dan menelihara bacaan-bacaan Qur-an dalam hati mereka. Al-Quran juga berisi fakta-fakta ilmiah menakjubkan, yang kebenarannya terbukti kemudian. Dan Allah Swt berjanji untuk melindungi dan menjaga kemurnian Al-Quran dalam firmanNya;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya." (QS.Al-Hijr :9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat-ayat Al-Quran ditulis dalam bahasa yang indah dan puitis. Lebih dari itu, salah satu bukti keajaiban Al-Quran adalah bagaimana kitab yang mulia itu mampu mengubah seseorang yang membacanya, memahaminya dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang yang suka membaca dan memahami dan mempelajari tafsir Al-Quran biasanya dibarengi dengan perubahan yang baik dalam gaya hidupnya, kebiasaan, peribadahan, hubungannya dengan orang lain dan kehidupan spritualnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kaitannya dengan kaum perempuan, Al-Quran memberikan pengaruh yang besar. Yang utama adalah untuk lebih menguatkan keimanan akan keesaan Allah Swt sehingga mereka terhindar dari penyakit hari dan perbuatan syirik sesuai yang tersebut dalam firmanNya;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun." (QS. An-Nisaa' :36)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang perempuan yang sering membaca Al-Quran tidak mudah silau dengan gemerlapnya dunia. Sudah menjadi kecenderungan kaum perempuan menyukai harta benda, perhiasan bagus, sepatu dan pakaian indah dan barang-barang mewah lainnya dan kadang sangat khawatir dengan penampilan fisiknya, sehingga bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk mempercantik diri. Jika tidak waspada, hal-hal semacam itu akan membuat tergelincir menjadi pecinta dunia dan tidak menempatkan cinta pada Allah Swt sebagai cintanya yang utama. Semuanya itu tidak akan terjadi jika perempuan yang bersangkutan mengetahui ajaran-ajaran dalam Al-Quran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Quran juga membuat seorang perempuan untuk selalu menjaga kebersihan dan kesucian dirinya, yang akan berdampak pada kehidupan keluarga dan rumahnya. Sehingga seorang perempuan yang selalu membaca Al-Quran akan menghindari kehidupan yang bebas tanpa batasan, menghindari pamer kemewahan, menghindari gaya hidup boros dan sangat peduli untuk menjaga kebersihan dirinya dan lingkungannya seperti firman Allah Swt dalam Surat Al-Bqarah ayat 222;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengetahuan akan isi Al-Quran juga menjaga seorang perempuan dari kebiasaan memanfaatkan waktu dengan melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat, seperti jalan-jalan ke mall hanya untuk melihat-lihat barang di etalase, membeli barang-barang sebenarnya tidak diperlukan, nonton sinetron dan acara gosip di televisi, ngobrol berjam-jam di telepon, menghadiri pesta-pesta mewah untuk menaikkan gengsi dan kegiatan tak berguna lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang perempuan yang suka membaca Al-Quran sangat paham bahwa waktu sangat berharga dan harus diisi dengan aktivitas yang bernilai pahala, seperti menghadiri pengajian, menuntut ilmu atau membaca buku-buku yang bermanfaat. Pada akhirnya, Al-Quran akan menyelamatkan perempuan dari berbagai penyakit sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para muslimah yang memiliki bekal pengetahuan tentang Al-Quran akan menyebarkan pengetahuannya itu pada orang lain, pada keluarga dan masyarakat lewat interaksinya dalam berbagai kegiatan sosial. Para muslimah itu menjadi pelopor terbentuknya sebuah keluarga yang kuat karakter islamnya, yang pada akhirnya akan berpengaruh pada pembentukan masyarakat yang islami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin seorang perempuan mempelajari Al-Quran, ia makin sadar bagaimana harus bertatakrama sebagai seorang muslimah. Ia sadar untuk menutup auratnya dan memilih busana yang dikenakannya dan bagaimanan ia harus merias diri. Ia tahu bagaimana berbicara dengan laki-laki yang bukan muhrimnya atau sekedar melontarkan humor dalam pergaulan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya." (QS. Al-Ahzab:33)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman yang dalam akan isi Al-Quran membuat seorang muslimah makin meningkat ketaqwaannya pada Allah Swt. Ketaqwaan inilah yang mendasari hubungan antar sesama dimana ia menjadi lebih sabar, toleran, memahami kekurangan orang lain dan bersikap lebih baik dibandingkan mereka yang tidak tidak mengerti kandungan Al-Quran. Seorang muslimah yang mempelajari Al-Quran juga tahu bagaimana ia harus memperlakukan orang-orang tua, suami bahkan anak-anak mereka sesuai tuntunan Allah Swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh lagi, Al-Quran memberikan kedamaian di hati bagi mereka yang membacanya maupun yang mempelajarinya. Allah Swt berfirman;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman." (Surat Yunus:57)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi berkah Al-Quran yang terbesar yang diberikan pada para muslimah adalah hati yang dipenuhi dengan rasa cinta pada Allah Swt. Hati yang penuh cinta pada Allah semata bebas dari rasa kebencian, dendam, iri hati dan tidak mengenal putus asa dan selalu berharap akan rahmat Allah Swt dalam kondisi susah maupun senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Al-Quran sudah memberikan dampak kebaikan yang begitu besar pada kehidupan kaum perempuan, sudah kita membaca dan mengenal kandungan Al-Quran? (ln/iol)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2606071805279753426-7340660241578924465?l=tarbiyahilalhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/feeds/7340660241578924465/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/02/wahai-perempuan-dekatlah-dengan-al_01.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/7340660241578924465'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/7340660241578924465'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/02/wahai-perempuan-dekatlah-dengan-al_01.html' title='Wahai perempuan dekatlah dengan Al-qur&apos;an'/><author><name>Dhany</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06267143366179759089</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sy2ltTN_HwI/AAAAAAAAADI/ubrHlxmxRnw/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/S2bvrVbwtfI/AAAAAAAAAGI/CZ_hX6vKg7I/s72-c/quran1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2606071805279753426.post-5695249833182773857</id><published>2010-02-01T07:07:00.000-08:00</published><updated>2010-02-01T07:08:14.258-08:00</updated><title type='text'>Wahai perempuan dekatlah dengan Al-qur'an</title><content type='html'>Kitab suci Al-Quran terbukti sebagai sebuah mukjizat yang tidak pernah lekang oleh waktu. Selama 14 abad lebih keberadaan Al-Quran, tak satu pun huruf di dalamnya berubah. Ratusan ribu Muslim menghafal dan menelihara bacaan-bacaan Qur-an dalam hati mereka. Al-Quran juga berisi fakta-fakta ilmiah menakjubkan, yang kebenarannya terbukti kemudian. Dan Allah Swt berjanji untuk melindungi dan menjaga kemurnian Al-Quran dalam firmanNya;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya." (QS.Al-Hijr :9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat-ayat Al-Quran ditulis dalam bahasa yang indah dan puitis. Lebih dari itu, salah satu bukti keajaiban Al-Quran adalah bagaimana kitab yang mulia itu mampu mengubah seseorang yang membacanya, memahaminya dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang yang suka membaca dan memahami dan mempelajari tafsir Al-Quran biasanya dibarengi dengan perubahan yang baik dalam gaya hidupnya, kebiasaan, peribadahan, hubungannya dengan orang lain dan kehidupan spritualnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kaitannya dengan kaum perempuan, Al-Quran memberikan pengaruh yang besar. Yang utama adalah untuk lebih menguatkan keimanan akan keesaan Allah Swt sehingga mereka terhindar dari penyakit hari dan perbuatan syirik sesuai yang tersebut dalam firmanNya;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun." (QS. An-Nisaa' :36)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang perempuan yang sering membaca Al-Quran tidak mudah silau dengan gemerlapnya dunia. Sudah menjadi kecenderungan kaum perempuan menyukai harta benda, perhiasan bagus, sepatu dan pakaian indah dan barang-barang mewah lainnya dan kadang sangat khawatir dengan penampilan fisiknya, sehingga bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk mempercantik diri. Jika tidak waspada, hal-hal semacam itu akan membuat tergelincir menjadi pecinta dunia dan tidak menempatkan cinta pada Allah Swt sebagai cintanya yang utama. Semuanya itu tidak akan terjadi jika perempuan yang bersangkutan mengetahui ajaran-ajaran dalam Al-Quran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Quran juga membuat seorang perempuan untuk selalu menjaga kebersihan dan kesucian dirinya, yang akan berdampak pada kehidupan keluarga dan rumahnya. Sehingga seorang perempuan yang selalu membaca Al-Quran akan menghindari kehidupan yang bebas tanpa batasan, menghindari pamer kemewahan, menghindari gaya hidup boros dan sangat peduli untuk menjaga kebersihan dirinya dan lingkungannya seperti firman Allah Swt dalam Surat Al-Bqarah ayat 222;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengetahuan akan isi Al-Quran juga menjaga seorang perempuan dari kebiasaan memanfaatkan waktu dengan melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat, seperti jalan-jalan ke mall hanya untuk melihat-lihat barang di etalase, membeli barang-barang sebenarnya tidak diperlukan, nonton sinetron dan acara gosip di televisi, ngobrol berjam-jam di telepon, menghadiri pesta-pesta mewah untuk menaikkan gengsi dan kegiatan tak berguna lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang perempuan yang suka membaca Al-Quran sangat paham bahwa waktu sangat berharga dan harus diisi dengan aktivitas yang bernilai pahala, seperti menghadiri pengajian, menuntut ilmu atau membaca buku-buku yang bermanfaat. Pada akhirnya, Al-Quran akan menyelamatkan perempuan dari berbagai penyakit sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para muslimah yang memiliki bekal pengetahuan tentang Al-Quran akan menyebarkan pengetahuannya itu pada orang lain, pada keluarga dan masyarakat lewat interaksinya dalam berbagai kegiatan sosial. Para muslimah itu menjadi pelopor terbentuknya sebuah keluarga yang kuat karakter islamnya, yang pada akhirnya akan berpengaruh pada pembentukan masyarakat yang islami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin seorang perempuan mempelajari Al-Quran, ia makin sadar bagaimana harus bertatakrama sebagai seorang muslimah. Ia sadar untuk menutup auratnya dan memilih busana yang dikenakannya dan bagaimanan ia harus merias diri. Ia tahu bagaimana berbicara dengan laki-laki yang bukan muhrimnya atau sekedar melontarkan humor dalam pergaulan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya." (QS. Al-Ahzab:33)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman yang dalam akan isi Al-Quran membuat seorang muslimah makin meningkat ketaqwaannya pada Allah Swt. Ketaqwaan inilah yang mendasari hubungan antar sesama dimana ia menjadi lebih sabar, toleran, memahami kekurangan orang lain dan bersikap lebih baik dibandingkan mereka yang tidak tidak mengerti kandungan Al-Quran. Seorang muslimah yang mempelajari Al-Quran juga tahu bagaimana ia harus memperlakukan orang-orang tua, suami bahkan anak-anak mereka sesuai tuntunan Allah Swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh lagi, Al-Quran memberikan kedamaian di hati bagi mereka yang membacanya maupun yang mempelajarinya. Allah Swt berfirman;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman." (Surat Yunus:57)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi berkah Al-Quran yang terbesar yang diberikan pada para muslimah adalah hati yang dipenuhi dengan rasa cinta pada Allah Swt. Hati yang penuh cinta pada Allah semata bebas dari rasa kebencian, dendam, iri hati dan tidak mengenal putus asa dan selalu berharap akan rahmat Allah Swt dalam kondisi susah maupun senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Al-Quran sudah memberikan dampak kebaikan yang begitu besar pada kehidupan kaum perempuan, sudah kita membaca dan mengenal kandungan Al-Quran? (ln/iol)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2606071805279753426-5695249833182773857?l=tarbiyahilalhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/feeds/5695249833182773857/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/02/wahai-perempuan-dekatlah-dengan-al.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/5695249833182773857'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/5695249833182773857'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/02/wahai-perempuan-dekatlah-dengan-al.html' title='Wahai perempuan dekatlah dengan Al-qur&apos;an'/><author><name>Dhany</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06267143366179759089</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sy2ltTN_HwI/AAAAAAAAADI/ubrHlxmxRnw/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2606071805279753426.post-2308467359162196280</id><published>2010-01-18T08:05:00.000-08:00</published><updated>2010-01-18T08:06:13.062-08:00</updated><title type='text'>Murji'ah</title><content type='html'>Lahirnya doktrin murji’ah muncul bersamaan dengan kemunculan ulama penguasa, yaitu disaat sistem kerajaan lahir dan sistem khilafah lenyap. Bersamaan degan lahirnya doktrin murji’ah ini, terjadinya pemisahan antara Penguasa dengan Al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan iman dari penganut doktrin murji’ah ini, bida digambarkan bahwa iman adalah pembenaran dengan hati da pernyataan dengan lisan saja. Para penganut doktrin ini tidak memasukkan amal dari bagian makna iman. Mereka – pengara penganut murji’ah mengatakan, bahwa iman adalah pembenaran dan kemaksiatan (kemungkakran) tidak akan membahayakan iman. Barangsiapa yang mengucapkan kalimagt syahaadat, “la ilaha illallah” kami hukumi Islam, tanpa penduli apa yang ia katakan atau perbuat setelahnhya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penganut doktrin murji’ah mengesampingkan semua kaidah nawaqidhul iman (hal-hal yang membatalkan iman) yang diterangkan dalam Al-Qur’an, Sunnah, dan statemen-statemen fuqaha yang terperpecaya. Ibnu Asakir, meriwayatkan melalui jalur An-Nadhar bin Syumail, berkata, “Saya masuk ke tempat Khalifah Al-Makmun, lalu dia bertanya, “Bagaimana kabarmu pgi ini, wahai Nadhar?”. Saya menjawab, “Baik-baik saja, wahai Amirul Mukminin.” Dia bertanya lagi, “Apakah murji’ah itu?”. Saya menjawab, “Murji’ah adalah agama yang menyesuaikan para raja. Mereka mendapatkan kekayaan dunia dengan agama dengan mengurangi agama mereka”. Al-Makmun berkata, “Kamu benar”, ucapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para fuqaha kerajaan mengambil doktrin tersebut hingga para ulama peniliti mengistilahkan mazhab murji’ah sebagai agama (keyakinan) lyang disukai para raja. Menurut mazhab ini, para penguasa tetaplah muslim, mereka walliyul amri (pemegang urusan kita) yang berhak ditaati, walaupun mereka merampas harta kita dan mencambukk punggung kita. Umat ini tetap harus berkata, “Kami rela”. Ya, mereka tetap mulsim, walaupun mengambil harta rakyat dan mencambuk punggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fuqaha kerajaan itu lebih melonggarkan lagi kepada mereka dengan tambahan, walau para penguasa melecehkan harga diri dan menumpahkan darah kita, walau mereka berteriak dengan kata dan perbuatan seperti para pendahulunya sesumbara, “Dan Fir’aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata, “Hai kaumku, bukanlah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan (bukanlah) sungai-sungai ini mengalir dibawahku, maka apakah kamu tidak melihat (nya)?. (Az-Zukhruf : 5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun, para penguasa tersebut terang-terangan mengatakan ketidak-cocokan hukum syariah untuk zaman sekarang! Walau mereka mengantar pelindung dari musuh-musuh Allah! Walau mereka berperang dan memberangkatkan tentara untuk berperang dibawah panji-panji Yahudi dan Nashrani untuk membunuh muslimin. Dan walau .. walau .. yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fuqaha kerajaan beralasan itu : Bukankah penguasa tersebut menunaikan shalat idul Fithri dan idul Adha? Bukankah dia merayakan maulid Nabi? Bukankah dia berzina dengan alasan nikah (mut’ah) yang diboleh oleh para fuqaha? Bukankah ketika penguasa menelanjangi muslim dan muslimah yang bukan budak diberbagai penjara, dan menyiksa mereka ada dalilnya yaitu perkataan Ali kepada utusannya Hatim Abu Balta’ah, “Kelurkan suratmu atau kami akan menelanjangimu?”. Bukankah penguasa boleh membunuh seperti rakyatnya agar dua pertiga rakyatnya menyerah kepadea dirinya! Semuanya itu adea dalil-dalinya menurut anggapan para ulama palsu saat ini. Madzhab murji’ah ini karena begitu longgarnya , berisikan para Musailamah, yang suka berbohong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah yang kebanyakan terjadi pad para imam dakwah dan ilmlu agama dari kelompok murji’ah modern pada masa sekarang ini,baikyang sudah meninggal ataupun yang masih hidup dan berbuat demikian.&lt;br /&gt;Hal yang patut digarisbawahi mengenai aliran ini adalah mereka bersedia bertenggang rasa pada perilaku para raja dan penguasa, tetapi mereka tidak mau bertenggang rasa pada para mukmin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berani menghukum orang-orang mukmin yang ingin menegakkan Islam sebagai penghuni neraka, membunuh, menyiksa, memotong tangan dan kakinya, serta mengusir dari tempat tinggal mereka. Inilah fenomena yang terjadi di dunia Islam saat ini. Betapa banyak mereka yang ingin menegakkan Islam, kemudian harus mendapatkan perlakuan yang tidak layak dari para penguasa, dan mendapatkan dukungan para ulama murji’ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sumber: Buku Da’wah Al-Muqawwamah Al-Islamiyyah Al-‘Alamiyyah’ atau Perjalanan Gerakan Jihad (1930 - 2002) Sejarah, Eksperimen, dan Evaluasi, karya : Abu Mush'ab As-Suri)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2606071805279753426-2308467359162196280?l=tarbiyahilalhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/feeds/2308467359162196280/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/01/murjiah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/2308467359162196280'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/2308467359162196280'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/01/murjiah.html' title='Murji&apos;ah'/><author><name>Dhany</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06267143366179759089</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sy2ltTN_HwI/AAAAAAAAADI/ubrHlxmxRnw/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2606071805279753426.post-5673950248303052125</id><published>2010-01-18T07:38:00.001-08:00</published><updated>2010-01-18T07:41:34.615-08:00</updated><title type='text'>KETIKA ORANG TERKASIH MENINGGALKAN KITA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/S1SA9HML_1I/AAAAAAAAAGA/fW3obIpiI4I/s1600-h/kematian.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 270px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/S1SA9HML_1I/AAAAAAAAAGA/fW3obIpiI4I/s400/kematian.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5428105238278831954" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi kami tersentak. Baru 5 bulan lalu kami ditinggal Wa Atin. Kepulangannya keharibaan Sang Pencipta masih membekas. Kemarin, giliran adik kami Fathullah Yassir menyusul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wa Atin orang yang merawat Yassir selama hidupnya. Yassir memang adik kami yang memiliki keterbatasan fisik dan mental. Ia sangat bergantung pada kesabaran Wa Atin. Semua “kebutuhan” Yassir, Wa Atinlah yang memenuhinya. Kini keduanya telah kembali kepada penciptanya. Semoga Allah menerima mereka berdua dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kematian memang misteri. Kadang ia datang di saat semua Kita tidak menyangka. Sebaliknya, kadang logika dan perasaan Kita malah menyangka bahwa kematian telah menjemput seseorang, tapi nyatanya ia masih bernafas hidup. Sebagaimana terjadi pada seorang wanita hamil yang tertimbun reruntuhan  gedung pada gempa di Haiti kemarin. Siapa menyangka, setelah tiga jam usaha evakuasi, ia selamat dan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya percaya, setiap muslim-mukmin sadar sepenuhnya bahwa mati lambat atau cepat akan mengakhiri hidupnya. Bahkan taraf keyakinan mereka sampai pada haqqul yakin, bahwa setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Bahwa kemana pun ia berlari kencang dan berusaha bersembunyi di benteng yang kokoh untuk menghindari perjumpaannya dengan Malaikal maut, ia tetap tidak berdaya dan pasti menyerah pada takdirnya. Suka atau tidak suka, maut  akan mengetuk pintu dan mengajak ruh kembali kepada Sang Khaliq. Hanya soal waktu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya tidak berdaya menolak mati, apakah dia penguasa atau rakyat jelata. Miskin atau kaya. Tampan, cantik atau biasa-biasa. Bahkan kematian datang kepada seorang nabi sekali pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang pernah menyampaikan pesan kematian yang sangat berarti dan lugas. Katanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sebenarnya yang perlu Kita khawatirkan bukanlah soal matinya. Sebab sebarapa pun besar rasa takut dan khawatir akan kedatangannya, toh mati tetap datang. Sebab itu, hidup sesudah matilah yang perlu Kita takutkan. Apakah Kita akan bahagia di alam baqa? Ataukah justru kesengsaraan hidup tiada akhir? Di sinilah timbangan iman dan amal kebajikan yang akan menentukan nasib selanjutnya. Karena itu, betulkanlah iman dan perbanyaklah amal soleh”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merenung. Benarlah pesan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." (QS. Al Jumu’ah, 62: 8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan manusia menghindari berpikir tentang kematian. Dalam pesatnya arus peristiwa sehari-hari, seseorang biasanya menyibukkan diri dengan hal-hal yang sama sekali berbeda: di mana hendak kuliah, di perusahaan mana akan bekerja, apa warna pakaian yang akan dikenakan besok pagi, apa yang akan dimasak untuk makan malam; inilah macam isu utama yang biasa kita pikirkan. Hidup dipandang sebagai proses rutin dari masalah-masalah kecil sedemikian. Usaha untuk berbicara tentang kematian selalu diinterupsi oleh mereka yang merasa tidak nyaman mendengar tentangnya. Karena menganggap kematian hanya akan datang setelah tua, orang tidak ingin merisaukan hal yang tidak menyenangkan seperti itu. Namun, harus tetap diingat bahwa tidak ada jaminan bahwa seseorang akan hidup sekadar satu jam lagi. Setiap hari, manusia menyaksikan kematian orang-orang di sekitarnya, tetapi hanya sedikit berpikir tentang hari ketika kematiannya disaksikan orang-orang lain. Dia tidak pernah mengira akhir seperti itu sedang menunggunya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal yang juga sering menghantui Kita akan mati adalah gelapnya kubur. Mendengar kata ”gelap” saja, naluri Kita sudah tersiksa. Apa lagi gelapnya di dalam tanah. Ngeri. Maka banyak pula orang yang enggan meskipun sekedar menengok kuburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pun cerita seram siksa kubur. Ia bukan saja membuat bulu kuduk begidik. Bahkan bisa melumpuhkan naluri makan, tidur, istirahat dan bersenang-senang. Jangankan Kita, para sahabat saja tidak kuasa menahan takut ketika Kanjeng Nabi menyampaikan berita dahsyatnya siksa kubur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih lekat ingatan saya kuliah hadits sekitar tiga belas tahun lalu. Kisah tentang seorang yang mengalami azab kubur bukan oleh sebab dosa besar, tetapi karena kelalaian yang dianggap sepele oleh kebanyakan orang; yaitu kencing dan namimah. Kisah tersebut kurang lebih demikian:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu , beliau berkata, “Rasulullah shallallahu’alaihi wassalam melewati dua buah kuburan, lalu beliau bersabda, ‘Sungguh keduanya sedang disiksa, mereka disiksa bukan karena perkara besar (dalam pKitangan keduanya). Salah satu dari dua orang ini, (semasa hidupnya) tidak menjaga diri dari  kencing, sedangkan yang satunya lagi, dia keliling menebar namimah.’ Kemudian beliau mengambil pelepah basah, beliau belah jadi dua, lalu beliau tancapkan di atas masing-masing kubur satu potong. Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, kenapa engkau melakukan ini?’ Beliau menjawab, ‘Semoga mereka diringankan siksaannya selama keduanya belum kering.” (HR  Imam Bukhari, Muslim, Tirmidzi,Abu Daud, Nasa’i dan Imam Ibnu Majah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaulah hanya karena soal air kencing saja siksaan begitu pedih, apatah lagi timbangan dosa-dosa besar? Na’udzu billah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adnan Okhtar pernah mendeskrisikan nasib jasad setelah dikubur dengan amat gamblang. Ilmuan muslim asal Turki itu menyatakan bahwa, sejak detik Kita mengembuskan nafas terakhir, Kita akan menjadi tak lebih dari "seonggok daging". Tubuh Kita yang diam dan tak bergerak, akan dibawa ke rumah mayat. Di sana, tubuh Kita akan dimandikan untuk terakhir kalinya. Dengan keadaan terbungkus kain kafan, jenazah Kita akan dibawa di dalam peti mati ke pemakaman. Begitu jenazah Kita berada di dalam kubur, tanah akan menutupi Kita. Inilah akhir dari kisah tentang Kita. Mulai sekarang, Kita hanyalah salah satu nama yang tertulis di nisan pekuburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama beberapa bulan dan tahun pertama, kuburan Kita akan sering dikunjungi. Seiring berjalannya waktu, makin sedikit orang yang datang. Sepuluh tahun kemudian, tak ada lagi yang datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, anggota keluarga dekat Kita akan melalui segi lain dari kematian Kita. Di rumah, kamar dan tempat tidur Kita akan kosong. Setelah pemakaman, hanya sedikit barang-barang kepunyaan Kita yang akan disimpan di rumah: kebanyakan pakaian, sepatu, dan lain-lain milik Kita akan diberikan kepada mereka yang memerlukannya. Berkas-berkas Kita di kantor administrasi umum akan dihapus atau diarsipkan. Selama tahun-tahun pertama, sebagian orang akan berkabung untuk Kita. Namun, waktu akan mengikis kenangan yang Kita tinggalkan. Empat atau lima puluh tahun kemudian, hanya tinggal sedikit orang yang ingat akan Kita. Tak lama, generasi baru akan datang dan tidak seorang pun dari generasi Kita yang tersisa di muka bumi. Apakah Kita diingat atau tidak, tidak akan berharga bagi Kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara semua ini berlangsung di muka bumi, jenazah di bawah tanah akan melalui proses pembusukan yang cepat. Segera setelah Kita berada di dalam kubur, bakteri dan serangga yang berkembang biak di dalam jenazah karena tiadanya oksigen akan mulai berfungsi. Gas-gas yang dikeluarkan dari organisme-organisme ini akan menggembungkan tubuh, mulai dari bagian perut, mengubah bentuk dan penampilannya. Busa bercampur darah akan meletup keluar dari mulut dan hidung karena tekanan gas-gas pada diafragma. Begitu proses perusakan ini terjadi, rambut tubuh, kuku, telapak tangan dan kaki akan rontok. Mengikuti perubahan luar ini, di dalam tubuh, organ-organ dalam seperti paru-paru, jantung, dan hati juga akan membusuk. Sementara itu, adegan yang paling mengerikan berlangsung di dalam perut, di mana kulit tidak dapat lagi menahan tekanan gas-gas dan tiba-tiba meletus, menyebarkan bau busuk yang tak tertahankan. Mulai dari tengkorak, otot-otot akan berlepasan dari tempat-tempat asalnya. Kulit dan jaringan-jaringan lunak akan hancur sama sekali. Otak akan membusuk dan mulai tampak seperti tanah liat. Proses ini akan terus berlanjut sampai seluruh tubuh tinggal kerangka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada kesempatan untuk kembali lagi ke kehidupan lama. Berkumpul bersama keluarga di meja makan, bermasyarakat, atau memiliki pekerjaan yang terhormat tidak akan pernah mungkin lagi terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, Wa Atin dan Yassir telah mendahului kami. Entah bagaiamana sekarang nasib jasadnya, bukanlah penting bagi semua yang mengenalnya. Orang-orang yang mencintainya hanya meminta kepada Rabbul Jaliil, semoga mereka diringankan segala urusannya. Dimaafkan segala kesalahannya. Dan ditempatkan di tempat yang sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Wa, Yassir, ...cepat atau lambat, kami akan menyusul kalian. Berbaringlah dengan tenang. Kami mencintai kalian, tapi kami tidak bisa mencegah ajal datang. Sampai jumpa di alam keabadian nanti. Semoga Allah berkenan mengumpulkan kita di Adn .....”.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2606071805279753426-5673950248303052125?l=tarbiyahilalhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/feeds/5673950248303052125/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/01/sekali-lagi-kami-tersentak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/5673950248303052125'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/5673950248303052125'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/01/sekali-lagi-kami-tersentak.html' title='KETIKA ORANG TERKASIH MENINGGALKAN KITA'/><author><name>Dhany</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06267143366179759089</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sy2ltTN_HwI/AAAAAAAAADI/ubrHlxmxRnw/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/S1SA9HML_1I/AAAAAAAAAGA/fW3obIpiI4I/s72-c/kematian.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2606071805279753426.post-4766439675772575591</id><published>2010-01-17T08:33:00.000-08:00</published><updated>2010-01-17T08:34:02.443-08:00</updated><title type='text'>TEBARKAN SALAM</title><content type='html'>Saudaraku, di antara syarat masuk surga ialah wajibnya seseorang memiliki iman. Tanpa iman seseorang tidak bakal berhak masuk surga. Tidak ada orang kafir yang diizinkan Allah masuk surga. Oleh karena itu Allah menggambarkan di dalam Al-Qur’an penyesalan orang kafir di akhirat nanti. Mereka menyesal karena sewaktu di dunia tidak termasuk ke  dalam golongan kaum Muslimin alias tidak termasuk orang yang beriman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ كَانُوا مُسْلِمِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim.” (QS Al-Hijr ayat 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam sebuah hadits Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam menyebutkan secara jelas bahwa seseorang tidak bakal masuk surga jika tidak beriman. Uniknya hadits ini dilanjutkan dengan penjelasan berikutnya mengenai syarat seseorang dikatakan beriman itu apa. Ternyata di antara syarat orang dikatakan beriman ialah jika ia mengembangkan jiwa kasih-sayang terhadap sesama orang beriman lainnya. Dan berikutnya Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menjelaskan bahwa untuk mengembangkan kasih-sayang di antara sesama mukmin ialah membiasakan diri untuk mengucapkan salam di antara mukmin satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَوَلَا أَدُلُّكُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersabda Rasulullah shollollahu ’alaihi wa sallam: “Kalian tidak bakal masuk surga sebelum kalian beriman. Dan kalian tidak dikatakan beriman sebelum kalian saling mengasihi satu sama lain. Maukah kalian aku tunjukkan suatu perkara yang bila kalian kerjakan bakal menyebabkan kasih sayang di antara kalian? Sebarkan ucapan salam di antara kalian.” (HR Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kebiasaan mengucapkan salam (yaitu lengkapnya berupa ucapan Assalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wabarakaatuh) merupakan suatu anjuran langsung dari Nabi Muhammad. Ia bukanlah sekedar basa-basi atau produk budaya bangsa Arab. Bahkan dengan demikian ia bisa dikatakan termasuk salah satu bentuk kegiatan beribadah seorang mukmin kepada Allah. Oleh karenanya dalam kesempatan lain Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menegaskan agar dalam melakukannya janganlah seorang Muslim bersikap diskriminatif alias pilih-kasih. Ucapan salam merupakan hak sesama orang beriman siapapun dia, baik yang dikenal maupun tidak, baik itu tetangga dekat maupun jauh, baik itu sesuku-bangsa maupun tidak, baik itu tua ataupun muda, baik itu saudara dekat maupun jauh atau baik itu satu organisasi maupun tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْإِسْلَامِ خَيْرٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; قَالَ تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلَامَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah saw., "Islam manakah yang lebih baik?" Beliau bersabda, "Kamu memberikan makanan dan mengucapkan salam atas orang yang kamu kenal dan tidak kamu kenal." (HR Bukhary)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan penegasan di atas berarti ucapan salam sesama mukmin bersifat universal. Dimanapun, kapanpun dan dengan siapapun asalkan itu sesama mukmin, maka kita sepatutnya menebar ucapan salam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, saudaraku, marilah kita patuhi anjuran Nabi yang satu ini secara murni dan konsekuen. Marilah kita biasakan diri dan keluarga untuk senantiasa menebar salam kepada sesama saudara mukmin tanpa pilih-kasih. Sebab hal itu menjadi indikasi kedalaman jiwa kasih-sayang yang kita miliki terhadap sesama orang beriman. Dan kedalaman jiwa kasih-sayang tersebut mengindikasikan kedalaman iman kita. Dan kedalaman iman kita pada gilirannya akan menjadi penyebab kita berhak masuk surga Allah ta’aala. Siapa yang tidak ingin masuk surga? Tentu kita semua sangat berambisi masuk surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun di zaman penuh fitnah dewasa ini tidak jarang jiwa kasih-sayang kita mengalami erosi. Hubungan antar sesama menjadi sangat formal dan kaku, bahkan seringkali dingin dan tanpa melibatkan perasaan cinta. Kemudian tanpa kita sadari iman-pun menipis. Dan iman yang menipis itu tercermin-lah kualitas dan kebiasaan kita menebar salam. Sehingga ada sebagian kita yang menebar salam dengan syarat. Bila seseorang yang dia jumpai itu satu kelompok, organisasi, jama’ah, pergerakan, partai dengan dirinya, barulah dengan semangat dia sebar salam. Namun jika tidak, maka dengan berat hati dia menebar ucapan salam, bahkan terkadang salam-pun tidak diucapkan sama sekali. Na’udzubillaahi min dzaalika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam memperingatkan kita bila keadaan seperti ini muncul berarti kita seperti mempercepat datangnya kiamat. Bilamana sesama orang beriman sudah mulai berlaku diskriminatif dalam menebar salam, berarti itu termasuk di antara tanda-tanda dekatnya hari Kiamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إن من أشراط الساعة أن يكون السلام للمعرفة&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya di antara tanda-tanda Kiamat ialah bilamana ucapan salam hanya disampaikan kepada orang yang dikenal.” (HR Abdurrazzaq)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang saling mencinta hanya karena Engkau. Jadikanlah kami orang-orang yang tidak bakhil dalam menebar ucapan salam kepada sesama saudara seiman kami sebagaimana disunnahkan oleh RasulMu, Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam. Amin ya Rabb.-&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2606071805279753426-4766439675772575591?l=tarbiyahilalhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/feeds/4766439675772575591/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/01/tebarkan-salam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/4766439675772575591'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/4766439675772575591'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/01/tebarkan-salam.html' title='TEBARKAN SALAM'/><author><name>Dhany</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06267143366179759089</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sy2ltTN_HwI/AAAAAAAAADI/ubrHlxmxRnw/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2606071805279753426.post-3968509401943863321</id><published>2010-01-16T20:29:00.000-08:00</published><updated>2010-01-16T20:31:39.761-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/S1KSolMcG7I/AAAAAAAAAF4/MlysAvf8ItM/s1600-h/masjid-render71.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 298px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/S1KSolMcG7I/AAAAAAAAAF4/MlysAvf8ItM/s400/masjid-render71.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5427561726811577266" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2606071805279753426-3968509401943863321?l=tarbiyahilalhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/feeds/3968509401943863321/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/01/blog-post_16.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/3968509401943863321'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/3968509401943863321'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/01/blog-post_16.html' title=''/><author><name>Dhany</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06267143366179759089</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sy2ltTN_HwI/AAAAAAAAADI/ubrHlxmxRnw/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/S1KSolMcG7I/AAAAAAAAAF4/MlysAvf8ItM/s72-c/masjid-render71.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2606071805279753426.post-7363259898673948299</id><published>2010-01-15T07:24:00.000-08:00</published><updated>2010-01-15T07:25:34.720-08:00</updated><title type='text'>Larangan Berhubungan dengan Jin</title><content type='html'>Jin adalah salah satu makhluk ghaib yang telah diciptakan Allah swt untuk beribadah kepada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (Adz-dzariyat: 56).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana malaikat, kita tidak dapat mengetahui informasi tentang jin serta alam ghaib lainnya kecuali melalui khabar shadiq (riwayat &amp; informasi yang shahih) dari Rasulullah saw baik melalui Al-Quran maupun Hadits beliau yang shahih. Alasan nya adalah karena kita tidak dapat berhubungan secara fisik dengan alam ghaib dengan hubungan yang melahirkan informasi yang meyakinkan atau pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Katakanlah: “tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila (kapan) mereka akan dibangkitkan. (An-Naml: 65)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dia adalah Tuhan yang mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. Supaya Dia mengetahui, bahwa sesungguhnya rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu. (Al-Jin: 26-28).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia diperintahkan oleh Allah swt untuk melakukan muamalah (pergaulan) dengan sesama manusia, karena tujuan hubungan sosial adalah untuk melahirkan ketenangan hati, kerja sama yang baik, saling percaya, saling menyayangi dan saling memberi. Semua itu dapat berlangsung dan terwujud dengan baik, karena seorang manusia dapat mendengarkan pembicaraan saudaranya, dapat melihat sosok tubuhnya, berjabatan tangan dengannya, melihatnya gembira sehingga dapat merasakan kegembiraan nya, dan melihatnya bersedih sehingga bisa merasakan kesedihannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah swt mengetahui fitrah manusia yang cenderung dan merasa tenteram bila bergaul dengan sesama manusia, oleh karena itu, Dia tidak pernah menganjurkan manusia untuk menjalin hubungan dengan makhluk ghaib yang asing bagi manusia. Bahkan Allah swt tidak memerintahkan kita untuk berkomunikasi dengan malaikat sekalipun, padahal semua malaikat adalah makhluk Allah yang taat kepada-Nya. Para nabi dan rasul alahimussalam pun hanya berhubungan dengan malaikat karena perintah Allah swt dalam rangka menerima wahyu, dan amat berat bagi mereka jika malaikat menampakkan wujudnya yang asli di hadapan mereka. Oleh karena itu tidak jarang para malaikat menemui Rasulullah saw dalam wujud manusia sempurna agar lebih mudah bagi Rasulullah saw untuk menerima wahyu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang ketenteraman hati manusia berhubungan dengan sesama manusia Allah swt berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (Ar-Rum: 21).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna “dari jenismu sendiri’ adalah dari sesama manusia, bukan jin atau malaikat, atau makhluk lain yang bukan manusia. Karena hubungan dengan makhluk lain, apalagi dalam bentuk pernikahan, tidak akan melahirkan ketenteraman, padahal ketenteraman adalah tujuan utama menjalin hubungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa Informasi tentang  Jin dari Al-Quran &amp; Hadits&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.  Jin diciptakan dari api dan diciptakan sebelum manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelumnya dari api yang sangat panas. (Al-Hijr: 26-27).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    خُلِقَتِ الْمَلاَئِكَةُ مِنْ نُورٍ، وَخُلِقَ الْجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ، وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ. رواه مسلم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Malaikat telah diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api, dan Adam diciptakan dari tanah (yang telah dijelaskan kepada kalian). (Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan asal penciptaan ini menyebabkan manusia tidak dapat berhubungan dengan jin, sebagaimana manusia tidak bisa berhubungan dengan malaikat kecuali jika jin atau malaikat menghendakinya. Apabila manusia meminta jin agar bersedia berhubungan dengannya, maka pasti jin tersebut akan mengajukan syarat-syarat tertentu yang berpotensi menyesatkan manusia dari jalan Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.  Jin adalah makhluk yang berkembang biak dan berketurunan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dan (Ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah Iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zhalim. (Al-Kahfi: 50).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Quran juga menyebutkan bahwa di antara bangsa jin ada kaum laki-laki nya (rijal) sehingga para ulama menyimpulkan berarti ada kaum perempuannya (karena tidak dapat dikatakan laki-laki kalau tidak ada perempuan). Dengan demikian berarti mereka berkembang biak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (Al-Jin: 6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Jin dapat melihat manusia sedangkan manusia tidak dapat melihat jin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. (Al-A’raf: 27).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini membuat kita tidak dapat berhubungan dengan mereka secara wajar sebagaimana hubungan sesama manusia. Kalau pun terjadi hubungan, maka kita berada pada posisi yang lemah, karena kita tidak dapat melihat mereka dan mereka bisa melihat kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Bahwa di antara bangsa jin ada yang beriman dan ada pula yang kafir, karena mereka diberikan iradah (kehendak) dan hak memilih seperti manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dan sesungguhnya di antara kami ada jin yang taat dan ada (pula) jin yang menyimpang dari kebenaran. Barangsiapa yang taat, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus. Adapun jin yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu api bagi neraka Jahanam. (Al-Jin (72): 14-15).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun ada yang muslim, tapi karena jin makhluk ghaib, maka tidak mungkin muncul ketenteraman hati dan kepercayaan penuh bagi kita terhadap keislaman mereka, apakah benar jin yang mengaku muslim jujur dengan pengakuannya atau dusta?! Kalau benar, apakah mereka muslim yang baik atau bukan?! Bahkan kita harus waspada dengan tipu daya mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhubungan dengan jin adalah salah satu pintu kerusakan dan berpotensi mendatangkan bahaya besar bagi pelakunya. Potensi bahaya ini dapat kita pahami dari hadits Qudsi di mana Rasulullah saw menyampaikan pesan Allah swt:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    وَإِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ، وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمْ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ، وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ لَهُمْ، وَأَمَرَتْهُمْ أَنْ يُشْرِكُوا بِي مَا لَمْ أُنْزِلْ بِهِ سُلْطَانًا. رواه مسلم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dan sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku semua dalam keadaan hanif (lurus), dan sungguh mereka lalu didatangi oleh setan-setan yang menjauhkan mereka dari agama mereka, mengharamkan apa yang telah Aku halalkan, dan memerintahkan mereka untuk menyekutukan-Ku dengan hal-hal yang tidak pernah Aku wahyukan kepada mereka sedikit pun. (Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil lain tentang larangan berhubungan dengan jin adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (Al-Jin: 6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam At-Thabari dalam tafsirnya menyebutkan: “Ada penduduk kampung dari bangsa Arab yang menuruni lembah dan menambah dosa mereka dengan meminta perlindungan kepada jin penghuni lembah tersebut, lalu jin itu bertambah berani mengganggu mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan seorang muslim melakukan hubungan sosial adalah dalam rangka beribadah kepada Allah swt dan berusaha meningkatkannya atau untuk menghindarkan dirinya dari segala hal yang dapat merusak ibadahnya kepada Allah. Melakukan hubungan dengan jin berpotensi merusak penghambaan kita kepada Allah yaitu terjatuh kepada perbuatan syirik seperti yang dijelaskan oleh ayat tersebut. Ketidakmampuan kita melihat mereka dan kemampuan mereka melihat kita berpotensi menjadikan kita berada pada posisi yang lebih lemah, sehingga jin yang kafir atau pendosa sangat mungkin memperdaya kita agar bermaksiat kepada Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana berhubungan dengan jin yang mengaku muslim? Kita tetap tidak dapat memastikan kebenaran pengakuannya karena kita tidak dapat melihat apalagi menyelidiki nya. Bila jin tersebut muslim sekalipun, bukan menjadi jaminan bahwa ia adalah jin muslim yang baik dan taat kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, tidak ada manusia yang dapat menundukkan jin sepenuhnya (taat sepenuhnya tanpa syarat) selain Nabi Sulaiman as dengan doanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sulaiman berkata: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Pemberi”. (Shad (38): 35).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka berhubungan dengan jin tidak mungkin dilakukan kecuali apabila jin itu menghendakinya, dan sering kali ia baru bersedia apabila manusia memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat ini dapat dipastikan secara bertahap akan menggiring manusia jatuh kepada kemaksiatan, bahkan mungkin kemusyrikan dan kekufuran yang mengeluarkannya dari ajaran Islam. Na’udzu billah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a’lam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2606071805279753426-7363259898673948299?l=tarbiyahilalhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/feeds/7363259898673948299/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/01/larangan-berhubungan-dengan-jin.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/7363259898673948299'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/7363259898673948299'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/01/larangan-berhubungan-dengan-jin.html' title='Larangan Berhubungan dengan Jin'/><author><name>Dhany</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06267143366179759089</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sy2ltTN_HwI/AAAAAAAAADI/ubrHlxmxRnw/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2606071805279753426.post-6902217524987693461</id><published>2010-01-07T08:23:00.000-08:00</published><updated>2010-01-07T08:24:15.058-08:00</updated><title type='text'>Keutamaan Para Sahabat Rasulullah Saw.</title><content type='html'>Prinsip utama yang menjadi ciri khas golongan ini sepanjang masa ialah sifat komitmen mereka terhadapKitab Rabb, Sunnah Nabi, Dan Ijma’ “Ulama’ Salaf dari para Sahabat, Tabi’in, dan Imam-Imam dari tiga generasi yang di berkati.&lt;br /&gt;Mereka terpelihara dari paerpecahan, perselisihan, serta silang sengketa pemikiran dan hawa nafsu. Maka siapakah gerangan jika bukan sahabat Rasulullah Saw yang yang lebih mengerti tentang kitab Rabb dan lebih mengetahui tentang Sunnah Nabi mereka…?&lt;br /&gt;Pensyarah kitab Durratul Mudli’ah menatakan, ‘’Tidak ada ummat Muhammad yang di unggulkan (karena keutamaannya) atas umat-umat lainnya , kecuali para sahabat yang mulia. Mereka beruntung karena menjadi sahabat nanusia terbaik (yakni Rasulullah Saw). Pendapat yang bisa dipertanggung jawabkan datangnya dari Imam-Imam Sunnah yang menyebutkan bahwa para Sahabat berperilaku adil . Sebagaimana Firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Muhammad itu adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersamanya adalah keras terhadap orang-orang Kafi, tetapi berkasih sayang sesama mereka….’’ (Al-Fath 29)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ihwal keutamaan sahabat dibanding denagn Ummat Muhammad lainnya, tersebut dalam dalam dua hadits Shahih,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Hadits yang yang diriwayatkan dari Sa’id Al-Khudri Ra bahwa Rasulullah Saw bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’ Janganlah kamu mencaci maki sahabat-sahabatku. Demi Allah yang diriku ada di tangan-Nya, seandainya salah seorang diantara kamu menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, nilainya tidak mencapai satu mud yang diinfakkan mereka (para sahabat). Bahkan setengahnyapun tidak.’’ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Timidzi dari Ibnu Mughaffal Ra. ‘’ Saya mendengar Rasulullah Saw bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Hendaklah yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir. Takutlah kepada Allah, takutlah kepada Allah mengenai sahabatku-sahabatku. Janganlah kamu menjadikan mereka sebagai sasaran sepeninggalku nanti. Barang siapa mencintai mereka , karena mencintai aku maka aku mencintali mereka. Barang siapa membenci mereka karena membenci aku maka aku membenci mereka. Barang siapa menyakiti mereka, ia menyakitiku, barang siapa menyakitiku ia menyakti Allah. Barang siapa menyakiti Allah, Ia akan mendapat huku &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;man Allah. Dan barang siapa dihukum Allah,Ia tak akan lolos.’’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ma’ruf, tidak ad ummat Muhammad yang lebih utam kecuali, para sahabat. Yang di maksud ma’ruf disini adalah segala hal yang menyangkut ketaatan kepada Allah, mendekatkan diri kepada-Nya, berbuat baik kepada sesama manusia, patuh dalam menjalankan semua kebaikan yang diperintahkan Syara’, dan menjauhkan segala larangannya.&lt;br /&gt;Tak ada seorangpun yang berakal sehat meragukan terhadap keutamaan para Sahabat Nabi Saw,baik dalam perbuatannya yang terpuji maupun perkataannya yang benar. Orang yang berbahagia ialah orang yang mengikuti dan meneladani jalan hidup mereka, sedangkan orang yang celaka ialah orang yang menyimpang dari jalan hidup mereka. Adakah jalan lurus yang tidak mereka tempuh…? Adakah kebaikan yang tidak mereka jalankan…?&lt;br /&gt;Demi Allah, mereka telah memberikan pandangan hidup yang jernih dan segar. Mereka telah meletakkan dan mengokohkan landasan landasan Ad-Dien dan Al-Ma’ruf. Maka tidak layak bagi seseorang untuk memperkatakan jelek terhadap mereka sepeninggal mereka&lt;br /&gt;Mereka membuka hati dengan Al-Qur’an, dzikir dan Iman. Mereka taklukkan negeri-negeri dengan pedang dan tombak, mereka korbankan jiwa mereka untuk mendapatkan Ridlo Allah Yang Maha Rahman. Tidak ada kema’rufan kecuali yang telah mereka datangkan, tidak ada bukti yang nyata kecuali yang telah mereka ungkap dengan ilmu mereka. Tidak ada jalan keselamatan, kebaikan dan kebahagiaan kecuali jalan yang telah mereka tempu SEMOGA Allah meridlai mereka, karena mereka inilah yang telah mengisi majlis-majlis dengan peringatan. Mereka inilah yang telah yang telah mengukir lembaran hidup dengan berbagai kebaikan yang patut dipuji dan di syukuri.&lt;br /&gt;Dalam hal ketaatan terhadap hukum Allahdan Sunnah Nabi, tidak ada umat yang menyamai para Sahabat. Merekalah yang paling konsekwen dalam mengamalkan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Kebenaran ini ditegaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Mas’ud Ra:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’ Barang siapa hendak menjadikan tauladan, teladanilah para sahabat Rasulullah Saw. Sebab mereka itu paling baik hatinya, paling dalam ilmunya,paling sedikit takallufnya (tidak suka mengada-ada) palaing lurus petunjuknya, dan paling baik keadaannya. Mereka adalah Kaum yang dipilih oleh Allah untuk menemani Nabi-Nya dan menegakkan Dien-Nya. Karena itu,hendaklah kalian mengenali keutamaan jasa-jasa mereka dan ikutlah jejak mereka, sebab mereka senantiasa berada dijalan (Allah) yang lurus.’’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Muhaqqiq al-Imam Ibnul Qayyim didalam kitabnya, Al-I’lamul Muwaqi’in, mengatakan: ‘’Para Sahabat adalah orang yang paling baik hatinya, dalam ilmunya,paling sedikit takallufnya. Dibanding dengan yang lainnya, merea paling dekat dengan kebenaran. Sebab Allah telah memberi keutamaan bagi mereka hingga mereka memiliki kecerdasan yang luar biasa, kefasihan berbicara, keluasan ilmu serta mudah dan cepat memahami persoalan. Bagi mereka hanya sedikit musuh atau bahkan tak ada sama sekali. Mereka senantiasa punya maksud baik dan bertaqwa kepada Allah. &lt;br /&gt;Bahasa Arab adalah jalan dan watak mereka. Makna-makna yang benar (dalam Kitab dan Sunnah dan Sunnah Nabi) tertanam dalam fithrah dan akal mereka. Dalam hal menerima Hadits, mereka tidak perlu memeriksa sanad, Rawi, jarh, ta’dil, atau cacat dan tidaknya sebuah hadits. Mereka juga tidak perlu memeriksa kaidah-kaidah ushul, sebab mereka telah memiliki semua itu.&lt;br /&gt;Bagi mereka hanya ada dua perkara. Pertama, Allah berfirman begini. Kedua, artinya begini dan begini.&lt;br /&gt;Mereka adalah orang paling berbahagia dengan dua perkara tersebut dan paling banyak memperoleh bagian dari keduanya. Mereka telah menyaksikan dan menemani Nabi pilihan serta mengetahui berbagai rahasia al-Qur’an dan hdlirat Nabi Saw. Mereka mengetahui turunnya wahyu, sebab-sebab turunya (asbabun Nuzul), ta’wil dan tata caranya. Mereka menyaksikan cahaya-cahaya Al-Qur’an dan kenabian. Maka mereka inilah Ummat yang paling berbahagia karena telah bertindak benar dan paling tahu mengenai Al-Qur’an dan Sunnah Nabi,’’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Imam Ibnu Qayyim, beristidlal dengan baik terhadap makna-makna Al-Qur’an haruslah melalui orang-orang kepercayaan Rasulullah Saw. Mereka adalah pewaris para Nabi. Kemudian mereka mengikut sertakan perkataan para Sahabat dan tabi’in sebagai Imam-Imam yang memberi petunjuk. Apakah orang-orang yang berakal sehat tidak mengetahui bahwa penafsiran Al-Qur’an dengan cara ini lebih baik daripada cara yang dilakukan oleh para Imam yang sesat….? Atau lebih baik daripada yang dilakukan oleh para tokoh Jahmiyah dan Mu’tazilah, seperti Al-Muraisi, Al-Juba’I, An-Nazhom,Al-‘Allaf, dan orang-orang semisal mereka yang berpecah belah dan berselisih….? Mereka suka berbuat sesat dan Bid’ah dalam Islam. Mereka juga suka mencerai beraikan agama dan terpecah dalam berbagai golongan. Dan masing-masing merasa bangga terhadap golongannya.&lt;br /&gt;Jika tidak boleh menafsirkan Al-Qur’an dan menettapkan maksudnyaserta mencari Ilmul Yaqin dengan Sunnah-sunnah Rasulullah Saw yang sahih dan perkataan para Sahabat dan Tabi’in, maka apakah diperbolehkan memahami makna-makna Al-Qur’an berdasarkan penyelewengan-penyelewengan Jahmiyah dan kelompoknya, ta’wil-ta;wil Al-‘Allaf, An- Nazhom, Al-Jubba’I, Al-Muraisi, Abdul Jabbar dan para pengikut mereka….? Bukankah mereka itu jauh dari Assunnah dan Al-Qur’an serta amat dibenci oleh kalangan ahli ilmu dan Ahli Iman….. (Mukhtashar Ash-Shawaikul Mursalah 2:335)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2606071805279753426-6902217524987693461?l=tarbiyahilalhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/feeds/6902217524987693461/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/01/keutamaan-para-sahabat-rasulullah-saw.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/6902217524987693461'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/6902217524987693461'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/01/keutamaan-para-sahabat-rasulullah-saw.html' title='Keutamaan Para Sahabat Rasulullah Saw.'/><author><name>Dhany</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06267143366179759089</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sy2ltTN_HwI/AAAAAAAAADI/ubrHlxmxRnw/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2606071805279753426.post-8017921991841484237</id><published>2010-01-07T08:21:00.000-08:00</published><updated>2010-01-07T08:22:35.515-08:00</updated><title type='text'>Perpecahan Umat: Semua Masuk Neraka, kecuali Satu</title><content type='html'>Kebanyakan manusia tetap berselisih dan berpecah belah, kecuali orang yang diberi rahmat oleh Allah. Mereka bertengkar dan berpecah belah menjadi berbagai kelompok dan golongan. Mereka menjadikan Al-Qur’an terpilah-pilah. Setelah datang ilmu dan keterangan yang jelas kepada mereka tapi mereka berlaku dengki mereka saling memukul dan slang sengketa mengenai kebenaran. Sebagai mana firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih, kecuali orang-orang yang telah diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan; sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan Jin dan Manusia (yang durhaka) semuanya.’’ (Hud 118-119)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Saw bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’ Sesungguhnya pengikut kedua kitab (Yahudi dan Nashrani) dalam hal agama mereka terpecahbelah menjadi 72 aliran. Dan sungguh Ummat Islam ini pun akan terpecah menjadi 73 aliran. Semuanya akan masuk neraka, kecuali satu, yaitu Al-jama’ah.’’ (HR. Abu Daud dan di sahihkan oleh Al-Albani dalam catatan kakinya atas syarah Ath-Thahawiyah, hlm. 578, Al- Maktabul Islami)&lt;br /&gt;Dalam suatu Riwayat lain disebutkan: ‘’Para Sahabat bertanya ‘’Siapakah golongan yang selamat itu, wahai Rasulullah….? Beliau menjawab , yaitu orang yang mengikuti jalanku dan para Sahabatku.’’ (HR. Turmudzi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurur Qatadah,golongan yang mendapat rahmat dari Allahialah golongan yang bersatu walaupun negeri dan bangsa mereka berbeda, sedangkan golongan yang mendurhakai-Nya ialah golongan yang menyukai perpecahan walaupun negeri dan bangsa mereka sama. (Mukhtashar Ibnu Katsir 2:236)&lt;br /&gt;Demikianlah manusia, manakala meninggalkan petunjuk Rabb dan Nabi mereka, mereka dipenuhi hawa nafsu dan berpecah belah. Mereka lebih mengutamakan pendapat manusia, kesesatan para filosof, serta kebathilan para Mutakallimin daripada Allah dan Rasl-Nya. Akhirnya mereka sesat dan disesatkan Allah dari jalan-Nya yang lurus. Setan telah membingungkan mereka dalam masalah agama mereka. Dan maha benarlah Allah dengan firman-Nya ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Katakanlah ‘’Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya…? Yaitu orang-orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka baha mreka berbuat sebaik-baiknya.’’ (Al-Kahfi 103-104)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ibnu Katsir, ayat tersebut meliputi golongan Yahudi, Nashrani dan yang lainnya. Ayat ini tidak diturunkan secara khusus buat mereka, tapi berlaku umum bagi setiap orang yang menyembah Allah dengan cara yang tidak di ridlai dan menyangka dirinya berbuat benar, amalannya diterima, padahal salah dan tertolak (Mukhtashar Ibnu Katsir 2:438)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka benarlah apa yang disabdakan oleh Rasulullah Saw berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Sungguh kmu akan mengikuti tatacara orang-orang sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Bahkan,seandainya merka memasuki lubang biawakpun, tentu kamu akan mengikutinya. Kami (para sahabat) bertanya,’’ Wahai Rasulullah, apakah mereka itu Yahudi dan Nashrani…?’’ Beliau menjawab ‘’ Siapa lagi kalau bukan mereka.’’&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2606071805279753426-8017921991841484237?l=tarbiyahilalhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/feeds/8017921991841484237/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/01/perpecahan-umat-semua-masuk-neraka.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/8017921991841484237'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/8017921991841484237'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/01/perpecahan-umat-semua-masuk-neraka.html' title='Perpecahan Umat: Semua Masuk Neraka, kecuali Satu'/><author><name>Dhany</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06267143366179759089</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sy2ltTN_HwI/AAAAAAAAADI/ubrHlxmxRnw/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2606071805279753426.post-3136435720880697043</id><published>2010-01-07T08:20:00.000-08:00</published><updated>2010-01-07T08:21:41.544-08:00</updated><title type='text'>) Allah Menyuruh Kaum Muslimin Bersatu dan Melarang Berpecah Belah</title><content type='html'>Allah Azza wajalla menyuruh pengikut Dienul Islam ini agar bersatu diatas kebenaran serta memperingatkan mereka agar tidak berpecah belah dan berselisih seperti yang terjadi pada umat-umat yang terdahulu. Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Dan berpegang teguhlah kamu pada tali (Dien) Allah dan janganlah kamu bercerai berai….’’ (Ali Imran 103)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat suksa yang berat,’’ (Ali Imran 105)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah(terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat,’’ (Al-An’am 159)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Allah Walaa tafarraquu (‘’ Dan janganlah kamu berpecah belah’’) dalam ayat diatas menurut Ibnu Katsir , mengandung maksud bahwa Allah memerintahkan ummat agar bersatu dan melarang berpecah belah. Ihwal perintah bersatu dan larangan bercerai berai banyak juga dibicarakan dalam hadits Nabi Saw.&lt;br /&gt;Adapun firman Allah Yauma tabyadlu wujuuhun wataswaddu wujuuhu (pada hari yang ketika itu ada wajah-wajah yang putih berseri dan ada pula yang hitam muram), mengandung maksud bahwa wajah yang putih berseri pada hari kiamat itu adalah wajah Ahli Sunnah Wal Jama’ahse sedangkan wajah yang hitam muram tidak lain adalah wajah ahli bid’ah dan firqah (Mukhtashar Ibnu Katsir 1:305-307)&lt;br /&gt;Mengenai ayat 159 surat Al-An’am, Ibnu Katsir mengomentari sebagai berikut: Bahwa yang dimaksud wa kaanu syiya’an ( dan mereka bergolong-golong) adalah kaum khawarij. Ada pula yang menafsirkan itu adalah ahli bid’ah.secara explisit, ayat tersebut bersifat umum,yakni mengandung makna setiap orang yang meninggalkan dan menentang Dien Allah.&lt;br /&gt;Sesungguhnya Allah Swt telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan Dien yang Haq untuk mengunggulkannya di atas semua agama. Syari’atnya adalah satu. Sebab itu,tidak ada perselisihan (sedang mereka bergolong golong) atau berpecah seperti penganut agama-agama, aliran-aliran, hawa nafsu dan kesesatan, Allah telah membebaskan tanggung jawab Rasulullah dari apa yang mereka perbuat…. (Mukhtashar Ibnu Katsir 2: 637-638)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2606071805279753426-3136435720880697043?l=tarbiyahilalhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/feeds/3136435720880697043/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/01/allah-menyuruh-kaum-muslimin-bersatu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/3136435720880697043'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/3136435720880697043'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/01/allah-menyuruh-kaum-muslimin-bersatu.html' title=') Allah Menyuruh Kaum Muslimin Bersatu dan Melarang Berpecah Belah'/><author><name>Dhany</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06267143366179759089</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sy2ltTN_HwI/AAAAAAAAADI/ubrHlxmxRnw/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2606071805279753426.post-115212663372991044</id><published>2010-01-07T08:18:00.000-08:00</published><updated>2010-01-07T08:19:42.498-08:00</updated><title type='text'>Penutup Para Nabi Dan Rasul Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam</title><content type='html'>Setelah begitu lama manusia berada dalam kesesatan dan larut dalam berbagai ikhtilaf, maka Allah hendak memberi petunjuk dan menempatkan mereka di atas kebenaran. Dengan Kemahatahuan dan Kemahabijaksanaan-Nya, Allah hendak menutup risalah-Nya kepada semua manusia dengan risalah Nabi penutup, yaitu Muhammad Ibnu Abdillah, Al-Qur’anul Karim, yang berlaku untuk semua manusia hingga Allah mewariskan bumi beserta isinya. &lt;br /&gt;Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’…..Maka Allah memberi petunjuk orang-orang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya…’’ (Al-Baqarah 213)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Azza wa jalla berjanji akan memelihara Dien ini dengan menjaga kitab-kitab-Nya hingga hari kiamat. Sebagaimana firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sungguh benar-benar Kami akan memeliharanya.’’( Al-Hijr 9) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir berkata, ‘’Allah telah menetapkan bahwa dialah yang menurunkan Al-Qur”an dan Dia pula yang akan memeliharanya dari perubahan dan penggantian (tangan-tangan jahil)’’ (Mukhtashar Ibnu Katsir 2: 308)&lt;br /&gt;Allah Swt memerintahkan Rasul-Nya yang mulia agar menjelaskan kepada manusia dengan sunnahnya tentang Al-Qur’anul Karim ini. Sebagaimana firman Allah: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’….Dan kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka,dan agar mereka memikirkan.’’ (An-Nahl 44)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir menafsirkan ayat tersebut dengan: ‘’Dan kami turunkan kepadamu Adz-Dzikr maksudnya Al-Qur’an agar engkau terangkan kepada manusia apa-apa yang telah diturunkan kepada mereka dari Rabb mereka. Sebab, engkau mengerti makna makna wahyu yang diturunkan kepadamu , kemauanmu amat besar untuk itu, dan engkau mengikutinya. Disamping itu, juga kami tahu bahwa engkau mengikutinya. Di samping itu, juga karena Kami tahu bahwa engkau adalah makhluk paling utama dan pemimpin manusia. Maka engkau jelaskanlah kepada mereka mana yang global dan mana yang rumit’’ ( Muktashar Ibnu Katsir 2:332) &lt;br /&gt;Maka Rasulullah Saw menyampaikan risalah dan amanat, menasihati ummat, dan menghapus kesulitan. Dengan risalah itulah Allah membuka hati yang lupa dan telinga yang tuli.&lt;br /&gt;Firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya….’’ (Al-Maidah 67)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya,siapakah yang akan menyampaiakan risalah ini jika Rasulullah tidak menyampaikannya kepada manusia….? Siapakah yang akan menjelaskannya jika tidak dijelaskan oleh orang yang diutus Allah sebagai rahmat bagi semesta alam…?&lt;br /&gt;Menurut Ibnu Katsir, Allah Swt berfirman kepada hamba dan Rasul-Nya, Muhammad Saw, dengan nama Risalah dan menyuruhnya menyampaikan semua yang diturunkan kepadanya. Rasulullah Saw telah menunaikan hal itu dan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. Ummat beliau pun menyaksikan bahwa beliau memang benar telah menympaikan risalah dan amanat itu. Beliau menanyakan hal itu kepada ummatnya dalam pertemuan terbesar pada waktu haji Wada’. Pada waktu itu ada sekitar empat puluh ribu orang sahabat yang hadir. Sebagai mana diriwayatkan dalam hdits shahih Muslim dari Jabir bin Abdullah bahw Rasulullah Saw bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’ Wahai manusia,sesungguhnya kalian akan di tanya tentang aku, maka apa jawab kalian…?. Mereka menjawab, ‘’Kami bersaksi bahwa benar engkau telah menyampaikan Risalah,menunaikan amanat, dan menasihati ummat.’’ Maka beliau mengangkat jarinya kearah langit dan menunjuk kearah mereka seraya berkata.’’ Ya Allah,bukankah (risalah-Mu) telah kusampaikan….? (Mukhtashar Ibnu Katsir 1:533)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah tidak wafat kecuali setelah kaumnya bersatu diatas jalan yang terang benderang. Malam bagaikan siang, terutama setelah Allah menurunkan ayat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kuucapkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridlai Islam itu jadi agamamu….’’ (Al-Maidah 3)&lt;br /&gt;Rasulullah Saw bersabda: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Aku tinggalkan dua perkara untuk kalian. Selama berpegang teguh kepada keduanya, kalian tidak akan tersesat. Dua perkara itu adalah Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya.’’(HR.M alik)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ibnu Katsir, itulah nikmat Allah yang terbesar atas umat ini, karena Dia telah menyempurnakan Dien mereka, hingga mereka tidak memerlukan Dien lagi selain Islam, dan tidak memerlukan nabi lagi selain Nabi mereka (Muhammad Saw). Oleh karena itu, Allah menjadikan Muhammad sebagai penutup para Nabi dan mengutusnya untuk manusia dan Jin…. (Mukhtashar Ibnu Katsir 1:482)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2606071805279753426-115212663372991044?l=tarbiyahilalhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/feeds/115212663372991044/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/01/penutup-para-nabi-dan-rasul-shalallahu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/115212663372991044'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/115212663372991044'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/01/penutup-para-nabi-dan-rasul-shalallahu.html' title='Penutup Para Nabi Dan Rasul Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam'/><author><name>Dhany</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06267143366179759089</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sy2ltTN_HwI/AAAAAAAAADI/ubrHlxmxRnw/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2606071805279753426.post-3030632938769523132</id><published>2010-01-07T08:14:00.000-08:00</published><updated>2010-01-07T08:15:49.532-08:00</updated><title type='text'>Kerusakan Fithrah</title><content type='html'>Ketika fithrah mayoritas manusia sudah rusak, dan ketika ‘’Manusia menjadi menjadi makhluk yang paling banyak membantah’’ (Al-Kahfi 54), maka saat itulah syetan menghiasi amal buruk manusia sehingga tampak bagus dan indah. Setanpun mencampur adukkan antara yang Haq dan yang Bathil serta mengilhami manusia dengan berbagai perilaku buruk sehingga mereka bertahan dengan kebathilannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Tetapi orang-orang kafir membantah dengan yang bathil agar denngan demikian itu mereka dapat melenyapkan hak.’’( Al-Kahfi 56)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa herannya anak Adam ketika fithrahnya menjadi rusak,mata hatinya menjadi gelap,dan akalnya menjadi sesat. Lantas ia melihat kebathilan sebagai kebenaran, dan sebaliknya kebenaran sebagai kebathilan. Atau ia menyimpang sama sekali sehingga tak mampu melihat mana yang Haq dan mana yang Bathil. Hal ini ditegaskan Allah dalam firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’…..Maka Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Yang Maha Kuasa serta Maha bijaksana.’’ (Ibrahim 4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’….Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah,maka dialah yang mendapat petunjuk, dan barang siapa disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang mampu memberi petunjuk kepadanya.’’ (Al-Kahfi 17)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang –orang kafir berselisih diantara sesamanya. Mereka terpecah belah menjadi bermacam-macam golongan. Mereka berbeda-beda dalam tingkat kekufuran, kesesatan,kebingungan, dan penyimpangan dari jalan yang lurus. Diantara mereka ada yang mengingkari Pencipta alam semesta, mengingkari keMaha Esaan-Nya, mengingkari kenabian, mengingkari kebangkitan setelah mati dan hari akhir, serta faham-faham sesat lainnya yang diajarkan setan kepada para pengikutnya.&lt;br /&gt;Ibnul Qoyyim mengomentari firman Allah dalam surat Al-Qiyamah ayat 36 yang artinya ‘’Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban…?)’’ Sebagai berikut:&lt;br /&gt;‘’Di antara rahasia-rahasianya adalah bahwa penetapan kenabiandan akherat itu dapat dijangkau dengan akal. Demikianlah salah satu dari dua pendapat sahabat-sahabat kami dan lainnya dan inilah yang sangat tepat ….. Kekuasaan-Nya yang haq mengharuskan adanya perintah dan larangan-Nya, pahala dan siksa-Nya. Diturunkan kitab-kitab-Nya, serta dibangkitkannya manusia pada &lt;br /&gt;hari kiamat agar orang yang berbuat baik memperoleh balasan sesuai dengan kebaikannya dan orang-orang jahat memproleh balasan sesuai dengan kejahatannya.’’ (Lihat Al Tibyan Fi Aqsamil Qur’an, Ibnul Qayim: 161-162) &lt;br /&gt;bertentangan dengan Dienul Islam ada enam, yang masing- Ibnu Hazm berkata, ‘’Kelompok-kelompok utama yang masing terpecah lagi manjadi beberapa golongan. Keenam golongan tersebut,menurut tingkatannya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama :Golongan yang mengakui adanya hakikat alam semesta. Golongan ini oleh para Mutakallim disebut kaum sofistis&lt;br /&gt;Kedua :Golongan yang mengakui adanya hakikat alam ,dengan mengatakan ,sesungguhnya alam ini tetap ada tapi mereka tidak mengakui adanya pencipta dan pengaturnya&lt;br /&gt;Ketiga : Golongan yang mengakui adanya hakikat alam dan berpendapat bahwa alam dan penaturnya tetap ada.&lt;br /&gt;Keempat : Golongan yang mengakui adanya hakikat alam. Sebagaian dari mereka berpendapat bahwa sesungguhnya alam itu tetap ada,sebagian lagi berpendapat bahwa alam mempunyai pengatur yang tetap ada dan lebih dari satu. Namun,mereka berselisih mengenai jumlahnya.&lt;br /&gt;Kelima :Golongan yang mengakui adanya hakikat alam dan berpendapat bahwa alam itu diciptakan oleh satu pencipta. Namun, mereka mengingkari seluruh kenabian&lt;br /&gt;Keenam : Golongan yang mengakui adanya hakikat alam dan berpendapat bahwa alam itu diciptakan oleh satu pencipta. Namun, mereka berbeda dalam mengakui sebagaian nabi-nabi dan mengingkari sebagiannya….. (Al-Fashl Fil Milal wal Ahwa’ wan-Nihal 1:3) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah aliran-aliran yang bertentangan dengan Dienul Islam.Adapun mengenai penganut Dienul Islam adalah mereka yang mengikuti ajara Rasulnya. Sesungguhnya Allah mengutus seoran Rasul pada setiap umat, sebagaimana firman-Nya: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’ Sesungguhnya Kami telah mengutus seorang Rasul pada setiap ummat (untuk menyerukan): beribadahlah hanya kepada Allah dan jauhilah Thoghut…..’’ (An-Nahl 36) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap Rasul menyeru kaumnya kepada Dienullah, yaitu Al-Islam, yang berarti menyerahkan diri secara total hanya kepada Allah yang Esa. Firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Sesungguhnya dien (yang diridlau) Allah hanyalah Islam….’’ (Ali Imron 19)&lt;br /&gt;‘’Barangsiapa mencari dien selain Islam, maka sekali-kali tidaklahakan diterima (din tersebut), dan di Akhirat kelak dia termasuk orang yang rugi,’’ (Ali Imran 85)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ibnu Taimiyah, semua Nabi di utus dengan membawa Dienul Islam. Ia adalah Dien satu-satunya yang diterima oleh Allah, dan bukan yang lainnya, baik dari orang-orang trdahulu maupun yang akan datang. (Al-Ubudiyah 34)&lt;br /&gt;Beliau juga mengatakan, ‘’ Adapun kitab-kitab Samawi yang mutawathir dari para Nabi As semuanya memastikan bahwa Allah tidak menerima Din dari seseorang, kecuali Dien yang benar (hanif) yaitu Al-Islam, yakni: beribadah hanya kepada Allah Yang Esa dan tidak mempersekutukan-Nya dengan yang lain,beriman kepada kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasulnya,dan hari Akhir’’ (Al-Fatawa al-Kubra 1:335) &lt;br /&gt;Selanjutnya Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Katakanlah, ‘’Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan . Dan (katakanlah ), ‘’Luruskanlah muka (diri)-mu disetiap Sholat dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya…’’ (Al-A’raf 29) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud keadilan disini adalah tauhid, yakni beribadah hanya kepada Allah,yang tiada sekutu bagi-Nya. Inilah dasar Ad-Dien, sedangkan kebalikannya adalah dosa yang tak terampuni.&lt;br /&gt;Firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya…..’’ (An Nisa’ 48)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia adalah Dien yang diperintahkan Allah kepada semua Rasul yang diutusnya untuk semua Ummat. Ia adalah Islam (tauhid) yang telah disepakati oleh semua Nabi. Dan Tauhid inilah yang merupakan pokok Ad-Dien, yakni keadilan terbesar. Adapun lawannya adalah Syirik, yang merupakan ke dzaliman terbesar (Al-Fatawa Al-Kubro, juz 1:348)&lt;br /&gt;Ibnu Taimiyah juga mengatakan, Islam sebagai Dienullah dibangun di atas dua landasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Mengabdi hanya kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya.&lt;br /&gt;Kedua :Mengabdi kepada-Nya dengan syari’at yang di tetapkan-Nya melalui lisan Rasul-Nya kedua alasan inilah yang sebenarnya merupakan hakikat syahadat kita: Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah selain Allah, ndan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya (Qaidah Jalilah Fit Tawassul wal Wasilah: 162) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’….Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan (syari’at) dan jalan hidup yang benar…..’’ (Al-Maidah 48)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ibnu Katsir, ayat diatas merupakan pemberitahuan mengenai umat-umat yang berbeda agamanya dengan pertimbangan syari’atyang juga berbeda. Untuk itu, Allah mengutus para Rasul-Nya yang mulia, yang bersepakat dalam masalah hukum dan tauhid. Adapun syari’at itu bermacam-macam dalam bentuk perintah dan larangan. Dan Allah tidak menrrima Dien selain Islam, yakni tauhid dan ikhlas hanya kepada Allah, yang dibawa oleh semua Rasul As (Tafsir Ibnu Katsir 2:66)&lt;br /&gt;Orang-orang Mu’min yang menjadi pengikut tiap-tiap Rasul senantiasa menemani rasul mereka semasa hidupnya. Mereka bergaul dengannya,belajar darinya, menerima ajarannya, mengikuti teladannya, menjaga kitab Rabbnya, dan mamalihara peninggalan (atsar) dan sunnahnya. Mereka juga menanyakan kepadanya mengenai perkara-perkara rumit yang mereka hadapi dan meminta fatwa kepadanya secara langsung mengenai segala sesuatu yang menyangkut urusan kehidupan (dunia) dan Akhirat.&lt;br /&gt;Setelah Rasul meninggal dunia dan waktu telah berlalu, para sahabat berpencar-pencar. Generasipun datang silih berganti. Maka yang muncul selanjutnya adalah kondisi umat yang lemah kemauan dan cita-citanya, sedangkan gejolak syahwat tampak lebih dominan. Timbul berbagamacam syubhat,hati menjadi keras,teladan sangat minim, sunnah memudar,bid’ah makin meraja lela dan yang haq bercampur dengan yang bathil. Kitab-kitab suci dan atsar-atsar nabawiyah bercampur baur dengan filsafat keberhalaan, dan keutamaan berfikir bersih terkalahkan oleh logika.&lt;br /&gt;Akhirnya, ummat yang tadinya brsatu diatas kebenaran, menjadi berselisih dan berpecah belah. Sebagaimana firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Manusia dahulunya adalah satu umat, kemudian mereka berselisih….’’ (Yunus 19)&lt;br /&gt;‘’…maka mereka tidak berselisih, meldaainkan setelah tang kepada mereka pengetahuan karena kedengkian (yang &lt;br /&gt;ada) di antara mereka….’’ (Al-Jatsiyah 17)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Kemudian mereka (pengikut-pengikut Rasul) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa kelompok. Tiap-tiap golongan merasa dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing).’’ (Al-Mukminun 53)a&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’…dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih tentang (kebenaran) Al-Kitab itu benar-benar dalam dalam penyimpangan yang jauh (dari kebenaran).’’ (Al-Baqarah 176)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan kadar penyimpangan manusia dari kitab Rabb mereka dan snnah Nabi mereka, sesuai dengan kadar bergelimangnya mereka dalam mengikuti hawa nafsu dan akal yang rusak, dan sesuai dengan kadar kesesatan mereka dari jalan Allah yang lurus, maka manusia telah mendustakan kebenaran atau sebagaiannya setelah mereka memahaminya. Mereka telah mendahului Allah dan Rasul-Nya, sehingga sesatlah generasi demi generasi. Mereka berselisih dan berpecah belah setelah datang kepada mereka ilmu (keterangan yang jelas), karena kedengkian antara sesama mereka.&lt;br /&gt;Ibnu Taimiyah berkata, ‘’Barang siapa keluar dari kenabian (ajaran yang dibawa Nabi) maka ia terjerumus kedalam syirik dan lainnya…. Syirik tidak berasal dari anak-anak Adam, bahkan Adam dan anak-anaknya yang mengikuti Diennya bertauhid kepada Allah, karena mengikuti kenabian. Sebagaimana Allah berfirman (yang artinya): ‘’Manusia dahulunya adalah satu Ummat, kemudian mereka berselisih…..’’ (Yunus 19). (Majmu’ Fatawa 20:106 dan seterusnya)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2606071805279753426-3030632938769523132?l=tarbiyahilalhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/feeds/3030632938769523132/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/01/kerusakan-fithrah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/3030632938769523132'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/3030632938769523132'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/01/kerusakan-fithrah.html' title='Kerusakan Fithrah'/><author><name>Dhany</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06267143366179759089</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sy2ltTN_HwI/AAAAAAAAADI/ubrHlxmxRnw/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2606071805279753426.post-6293384604872238594</id><published>2010-01-07T08:08:00.000-08:00</published><updated>2010-01-07T08:10:19.639-08:00</updated><title type='text'>Rahmat Allah: Allah tidak menyiksa Seseorang, kecuali Setelah Ditegakkannya Hujjah Risalah</title><content type='html'>Meskipun hujjah telah ditegakkan dan alasan telah dipatahkan, namun sebagai rahmat dan karunia-Nya, ALLAH Yang Maha Mengetahui dengan Hikmah-Nya yang jelas tidak akan menyiksa Bani Adam karena adanya perjanjian fitrah semata-mata.Dan Ia tidak tidak akan menyiksa seorangpun,kecuali setelah ditegakkannya hujjah yang berupa risalah . Sebagaimana firman-Nya: &lt;br /&gt;‘’…….dan Kami tidak akan meng;azab sebelum Kami mengutus seorang Rasul.’’ (Al-Isra’ 15)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Allah mengutus para Rasul-Nya secara berkesinambungan untuk mengingatkan manusia akan janji mereka dan amanat besar yang dibebankan-Nya kepada mereka di bumi ini. Para Rasul itupun menyuruh manusia untuk melaksanakan tugasnya sebagai khalifah dimuka bumi dan menanggalkan alasan lain yang mungkin dipakai manusia untuk membantah Allah sebagai Rabb mereka.&lt;br /&gt;Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Mereka Kami utus) selaku rasul-rasulpembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan Allah Mahaperkasa lagi Maha bijaksana.’’ (An-Nisa’ 165) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Imam Ibnu Qayyim, dalam akal manusia tidak ada sesuatu yang lebih jelas dan terang kecuali mengenal kesempurnaa Sang Pencipta alam ini serta membersihkannya dari kejelekan dan kekurangan . Para Rasul di utus untuk mengingatkan dan menjelaskan pengetahuan ini. Begutu pula dalam fithrah terdapat pengakuan akan kebahagiaan dan kesengsaraan jiwa manusia beserta balasan yang akan diterimanya di akherat nanti. Penjelasan mengenai balasan,kebahagiaan dan kesengsaraan ini tidak dapatdiketahui kecuali dengan melalui para Rasul .Maka para Rasul itulah yang mengingatkan dan menjelaskan apa yang dituntut oleh fithrah. Karena itu. Akal yang tegas adalah sesuai dengan naql (nash) yang shahih, dan syari’at sesuai dengan fithrah. Keduanya saling membenarkan dan tidak bertentangan (Syaiful ‘Alil 301-302)&lt;br /&gt;Ibnu Taimiyah mengatakan, hujjah tidak dijatuhkan kepada mereka yang berbuat dosa karena kebodohannya sebelum mereka mengetahui bahwa hal tersebut merupakan perbuatan dosa, sebelum diutusnya seorang Rasul kepada mereka ,dan sebelum ditegakkannya hujjah atas mereka.Sebagaimana Allah berfirman: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’…..dan Kami tidak akan meng’azab sebelum Kami mengutus seorang Rasul.’’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumhur Ulama Salaf dan Khalaf berpendapat bahwa syirik dan kejahilan yang mereka lakukan sebelum datangnya Rasul adalah sesuatu yang jelek dan buruk.Tetapi mereka tidak patut disiksa,kecuali setelah datangnya Rasul. (Majmu’ Fatwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah 11:675 dan seterusnya) &lt;br /&gt;Demikianlah, Allah Azza wa jalla tidak membiarkan manusia sendirian dalam mengarungi kehidupan ini. Mereka senantiasa dibimbing ajaran Nabi (manhaj nubuwwah) sejak Nabi Adam As hingga Allah mewariskan bumi dan segala isinya. Allah menjadikan risalah -risalah tersebut beserta akal dan fithrahnya dengan tanda-tanda kekuasaan-Nya yang terbesar dialam semesta sebagai penerang bagi manusia dalam menempuh jalan menuju Rabb dan mengembalikan mereka dari jalan yang sesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, manusia ternyata berselisih pendapat mengenai Rasul-Rasul mereka.Sebagaimana firman Allah: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Tapi,kebanyakan manusia tidak mau,kecuali mengingkarinya’’ (Al-Isra’ 89)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan berimanlah orang yang mau beriman , tapi jumlahnya sangat sedikit. Itulah sunnatullah yang berlaku pada makhluk-Nya.&lt;br /&gt;‘’Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini,niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah….’’ (Al-An’am 116)&lt;br /&gt;‘’….Dan sekali-sekali kamu tidak akan mendapati perubahan pada sunnah Allah.’’ (Al-Ahzab 62)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat lain Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Manusia itu umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para Nabi,sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan,dan Allah menurunkan &lt;br /&gt;Bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan diantara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.&lt;br /&gt;Tidaklah berselisih mengenai kitab itu,melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab,yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keteranan yang nyata,karena dengki antara mereka sendiri.Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya.Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.’’ (Al-Baqarah 213)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir berkata (mengutip perkataan Ibnu Abbas), ‘’Antara Nuh dan Adam terdapat selang waktu selama sepuluh generasi yang semuanya mengikuti syari’at yang benar .setelah mereka berselisih,Allah mengutus para Nabi untuk memberi kabar gembira dan peringatan…..’’&lt;br /&gt;Dan diriwayatkan dari Qatadah, ia berkata, ‘semua mengikuti petunjuk, lalu berselisih, kemudian Allah mengutus para Nabi. Maka Nuh inilah Nabi pertama yang diutus Allah.Demikianlah perkataan Mujahid sebagaimana disampaikan Ibnu Abbas’mereka …. Karena dahulunya manusia mengikuti millah (ajaran) Adam hingga akhirnya mereka menyembah berhala,lalu Allah mengutus Nuh kepada mereka. Dengn demikian,Nuh adalah Rasul pertama yang diutus Allah untuk penduduk bumi.&lt;br /&gt;Mengenai kenabian Adam, Al-Qur’an tidak menyebutkan secara explisit sebagaimana Nabi-Nabi yang lain seperti Ibrahim,Ismail,Musa,Isa dan lain-lain. Namun kepada Adam juga dituunkan syari’at yang berupa perintah-perintah dan larangan-larangan,penghalalan dan pengharaman,yang semua itu merupakan indikasi Kenabian. Adapun mengenai kerasulannya,hal ini masih diperselisihkan,dan kita menyerahkan hakikat kebenarannya kepada Allah. Namun dalam sebuah hadts riwayat Muslim disebutkan bahwa pada hari kiamat nanti manusia berduyun-duyun mendatangi Nabi Nuh sambil berkata, ‘’Engkau adalah Rasul Allah yang pertama kali dikirim ke bumi…..’’ Seandainya Adam itu sebagai Rasul,niscaya Nabi Muhammad Saw tidak akan menceritakan dengan menyebut Nuh sebagai Rasul pertama (lihat Abdul Wahab An-Najjar, Qishul Anbiya’, Darul Fikri 10-11). Tetapi hal ini juga masih menimbulkan pertanyaan, yaitu: Jika Nabi Adam itu bukan Rasul yang nota bene tidak menyampaikan syari’at kepada manusia, lantas mereka mengikuti syari’at siapa…? Bagaimana pula dengan Idris…? Apakah beliau juga bukan Rasul…? Karena itu, sebagian Ulama’ mentakwilkan bahwa ucapan Nabi Saw mengenai Nuh sebagai Rasul pertama, adalah sesudah terjadinya banjir besar. Wallahu a’lam bishawab.&lt;br /&gt;Oleh karena itu Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’…..dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan diantara mausia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih mengenai Kitab itu,melainkan orang yang telah di datangkankepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri….’’ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya, setelah berdirinya hujjah (bukti-bukti yang nyata) atas mereka. Dan tiada yang mendorong mereka untuk berselisih,melainkan kedengkian antara yang satu dengan yang lain. &lt;br /&gt;‘’Maka Allah memberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada kebenaran mengenai hal-hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. ‘’ Maksud ayat ini, sebelum berselisih,manusia mengikuti ajaran para Rasul.Mereka bersikap ikhlas kepada Allah Azza wa jalla dan hanya beribadah kepada-Nya, tidak mempersekutukan-Nya, mengerjakan sholat, serta mengeluarkan zakat. Mereka menjadi saksi atas sesama manusia pada hari kiamat, yakni saksi atas kaum Nuh, kaum Hud, kaum Shaleh, kaum Syu’aib dan keluarga Fir’aun. Dalam kesaksiannya itu manusi membenarkan bahwa Rasul-Rasul mereka telah menyampaikan risalah kepada mereka,sedangkan mereka (kaum kuffar) telah mendustakan Rasul-Rasul itu.’’ (tafsir Ibnu Katsir 1:250)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2606071805279753426-6293384604872238594?l=tarbiyahilalhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/feeds/6293384604872238594/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/01/rahmat-allah-allah-tidak-menyiksa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/6293384604872238594'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/6293384604872238594'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/01/rahmat-allah-allah-tidak-menyiksa.html' title='Rahmat Allah: Allah tidak menyiksa Seseorang, kecuali Setelah Ditegakkannya Hujjah Risalah'/><author><name>Dhany</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06267143366179759089</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sy2ltTN_HwI/AAAAAAAAADI/ubrHlxmxRnw/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2606071805279753426.post-4270468008351362772</id><published>2010-01-07T08:05:00.000-08:00</published><updated>2010-01-07T08:06:30.267-08:00</updated><title type='text'>PENYIMPANGAN MANUSIA DARI JALAN YANG BENAR (1)</title><content type='html'>(30 Perjanjian Fithrah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Azza wa jalla mengetahui betapa besarnya amanat dan beratnya beba taklif yang diemban oleh manusia, padahal manusia adalah makhluk yang lemah yang selalu membutuhkan Rabb dan Penciptanya. Karena itu,dengan Maha bijaksana-Nya Allah tidak membebani seseorang ,kecuali sesuai dengan kemampuannya. Allah telah menciptakan manusia dengan tabiat untuk mengenal Rabbnya,mentauhidkan-Nya, mentaati-Nya,serta beribadat hanya kepada-Nya dengan tidak mempersekutukan-Nya. Maka ia hanya menerima apa yang datang dari-Nya dan menuju kepada-Nya. Allah Swt berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Dan (ingatlah) ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘’Bukankah Aku ini Rabbmu? Mereka menjawab: Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi. (Kami lakukan yang demikian itu) agar pada hari kiamat kelak kamu tidak mengatakan:’’ sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengahterhadap ini’’ Atau agar kamu tidak mengatakan: ‘’Sesungguhnya orang-orang tua kami tua kami telah mempersekutukan Rabb sejak dahulu,sedangkan kami ini adalah anak-anak keturunan yang(datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu’’. Demikian kami menjelaskan ayat-ayat itu, agar mereka kembali (kepada kebenaran)’’ (Al-A’raf 172-174)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daldiriwam hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik denganKu. Namun,kamu tetap mempersekutukan Aku’’&lt;br /&gt;Ra Rasullah Saw bersabda: Dikatakan kepada salah seorang penghuni neraka pada hari kiamat,’’Bagaimana pendapatmu jika kamu mempunyai sesuatu dimuka bumi ini,apakah kamu akan menebus diri dengannya? Orang tersebut menjawab, ‘’Ya’’. Allah berfirman: ‘’Aku telah menghendaki dirimu sesuatu yang lebih ringan daripada itu. Aku telah menyuruhmu berjanji di punggung Adam untuk tidak menyekutukan sesuatupun&lt;br /&gt;Hadits ini di riwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim dalam Shohihain. Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Allah mengambil janji dari mereka agar beribadah kepadaNya dan tidak menyekutukan sesuatu apapun dengan-Nya.&lt;br /&gt;Diriwayatkan juga oleh Ubay Bin Ka’ab, Abdullah Bin Ahmad dalam musnad ayahnya, Ibnu Abi Hatim,Ibnu Jarir,dan Ibnu Mardawih bahwa Allah berfirman kepada mereka, ‘’Aku jadikan ketujuh langit dan bumi serta bapak-bapakmu sebagai saksi agar kamu pada hari kiamat nanti tidak mengatakan, ‘’Kami tidak mengetahui hal ini (eksistensi dan keesaan Allah). ‘’Ketahuilah bahwa tidak ada ilah selain Aku, dan janganlah mempersekutukan Aku. Sesungguhnya Aku akan mengutus para Rasul kepadamu untuk mengingatkanmu akan janji-janjiKu, dan Aku turunkan kitab-kitabKu kepadamu.’’ Mereka menjawab,’’Kami bersaksi bahwa sesungguhnya Engkau adalah Rabb dan Ilah kami,dan tiada Rabb bagi kami selain Engkau.’’ Maka pada saat itu mereka menyatakan taat kepadaNya.’’&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2606071805279753426-4270468008351362772?l=tarbiyahilalhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/feeds/4270468008351362772/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/01/penyimpangan-manusia-dari-jalan-yang_9566.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/4270468008351362772'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/4270468008351362772'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/01/penyimpangan-manusia-dari-jalan-yang_9566.html' title='PENYIMPANGAN MANUSIA DARI JALAN YANG BENAR (1)'/><author><name>Dhany</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06267143366179759089</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sy2ltTN_HwI/AAAAAAAAADI/ubrHlxmxRnw/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2606071805279753426.post-1894285303757805233</id><published>2010-01-07T08:04:00.000-08:00</published><updated>2010-01-07T08:05:24.351-08:00</updated><title type='text'>PENYIMPANGAN MANUSIA DARI JALAN YANG BENAR (2)</title><content type='html'>(2) Kekhalifahan Manusia di Bumi dan Syarat-syaratnya&lt;br /&gt;Kekhalifahan manusia dimuka bumi mempunyai syarat tertentu,yakni selalu iltizam (komit) dengan ketaatannya terhadap Rabbyang memiliki perintah dan larangan. Manusia senantiasa dituntut melaksanakan segala perintah-Nya karena mengharap pahala-Nya, dan menjauhi segala larangan-Nya karena takut siksaan-nya.Semua ini dalam rangka menghormati,menjujung tinggi,mencintai,dan mengagungkan-Nya.&lt;br /&gt;Oleh karena itu msalah khilafah manusia dimuka bumi ini tidak lain adalah masalah ibadah manusia kepada Allah yang Maha Kuasa. Seperti dalam firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia,melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku’’ (Adz-Dzariyat 56)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ibnu Taimiyah, Allah disembah pada setiap jaman sesuai dengan yang di perintahkan-Nya pada jaman itu. (Qaidah Jalilah Fit-Tawassul Wal-Wasilah 41)&lt;br /&gt;Adapun menurut Ibnu Katsir, makna ayat tersebut adalah bahwa Allah Swt menciptakan hamba-hamba hanya untuk beribadah kepada-Nya,dan tidak mempersekutukan-Nya.Maka barang siapa mentaati Allah,ia akan mendapatkan balasan-Nya yang paling sempurna, dan barang siapa menentang Allah, ia akan mendapat siksaan-Nya yang amat pedih. (Mukhtashar Tafsir Ibnu Katsir 3:387)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2606071805279753426-1894285303757805233?l=tarbiyahilalhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/feeds/1894285303757805233/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/01/penyimpangan-manusia-dari-jalan-yang_07.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/1894285303757805233'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/1894285303757805233'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/01/penyimpangan-manusia-dari-jalan-yang_07.html' title='PENYIMPANGAN MANUSIA DARI JALAN YANG BENAR (2)'/><author><name>Dhany</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06267143366179759089</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sy2ltTN_HwI/AAAAAAAAADI/ubrHlxmxRnw/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2606071805279753426.post-4344193521467280302</id><published>2010-01-07T08:00:00.000-08:00</published><updated>2010-01-07T08:03:58.231-08:00</updated><title type='text'>PENYIMPANGAN MANUSIA DARI JALAN YANG BENAR (1)</title><content type='html'>PENYIMPANGAN MANUSIA DARI JALAN YANG BENAR&lt;br /&gt;(1)Amanat Allah bagi Manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Swt telah menciptakan manusia dalam kehidupan ini untuk tujuan dan tugas tertentu. Dia telah menundukkan semua yang ada dimuka bumi dari yang berupa lautan,sungai-sungai, angin dan hujan,gunung-gunung dan lembah-lembah,binatang dan tumbuhan,hingga makhluk-makhluk Allah lainnya ini semata-mata untuk kepentingan manusia.&lt;br /&gt;Bahkan Allah telah memberikan ilham kepada manusia agar dapat mengungkap sebagian hukum alam dan berbagai peraturanhidup hingga manusia dengan mudah dapat mencapai tujuan penting ini.Tujuannya besar,tugas dan amanatnya berat hingga langit,bumi dan gunung-gunung merasa takut serta tidak berani memikulnya. Sebagaimana firman Allah dalam Kitab Suci Al-Qur’an:&lt;br /&gt;‘’Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada &lt;br /&gt;langit,bumi dan gunung-gunung tapi semuanya enggan memikulnya karena khawatir akan mengkhiyanatinya. Dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat dzalim dan bodoh’’ (Al-Ahzab 72)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya tujuan besar, tugas dan amanat beratyang dipikul oleh manusia ini tidak lain adalah sebagai khalifah Allah di bumi-Nya. Allah sebagai Rabb semua makhluk,Raja segala raja,serta Penguasa langit dan bumi telah menciptakan manusia sebagai khalifah dibumi dan menjadikannya agar bertanggung jawab kepada-Nya, sehubungan dengan tugas kekhalifahannya.&lt;br /&gt;2 Allah memberitahu kepada para Malaikat tentang tugas penting yang dibebankan kepada manusia, sebagaimana firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Dan ingatlah ketika Rabbmu berfirman kepada para Malaikat,Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah dimuka bumi’’ (Al-Baqarah 30)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ath-Thabari menafsirkan ayat diatas dengan,: ‘’Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi dari-Ku yang mewakiliku dalam memutuskan hukum diantara makhluk-Ku. Khalifah itu adalah Adam dan orang yang bersikap seperti dia dalam mentaati Allah serta memutuskan hukum dengan adil diantara makhluk-Nya’’ (Tafsir Ibnu Katsir 1:70)&lt;br /&gt;Ibnu Katsir mengatakan, mereka memmahami tentang Khlifah,yakni orang yang memutuskan perselisihan di antara manusia dan mencegah melakukan perbuatan haram dan dosa.Demikian perkataan Al-Qurtubi. (tafsir Ibnu Katsir 1:69)&lt;br /&gt;Selanjutnya Ibnu Katsir mengatakan, dengan ayat ini Al-Qurtubi dan yang lainnya menjadikan dalil atas wajibnya mengangkat seorang Khalifah untuk menyelesaikan perselisihan diantara para manusia, menolong orang yang teraniaya dan di aniaya oleh orang-orang dzalim, menegakkan hukum,mencegah perbuatan keji, serta melaksanakan perkara penting lainnya yang hanya bisa ditegakkan oleh seorang Imam. Hal ini sesuai dengan kaidah ushul fiqih: Kewajiban yang tidak dapat ditegakkan,kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu itupun hukumnya wajib. (Tafsir Ibnu Katsir 1:72) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Swt telah menciptakan manusia dalam kehidupan ini untuk tujuan dan tugas tertentu. Dia telah menundukkan semua yang ada dimuka bumi dari yang berupa lautan,sungai-sungai, angin dan hujan,gunung-gunung dan lembah-lembah,binatang dan tumbuhan,hingga makhluk-makhluk Allah lainnya ini semata-mata untuk kepentingan manusia.&lt;br /&gt;Bahkan Allah telah memberikan ilham kepada manusia agar dapat mengungkap sebagian hukum alam dan berbagai peraturanhidup hingga manusia dengan mudah dapat mencapai tujuan penting ini.Tujuannya besar,tugas dan amanatnya berat hingga langit,bumi dan gunung-gunung merasa takut serta tidak berani memikulnya. Sebagaimana firman Allah dalam Kitab Suci Al-Qur’an:&lt;br /&gt;‘’Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada &lt;br /&gt;langit,bumi dan gunung-gunung tapi semuanya enggan memikulnya karena khawatir akan mengkhiyanatinya. Dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat dzalim dan bodoh’’ (Al-Ahzab 72)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya tujuan besar, tugas dan amanat beratyang dipikul oleh manusia ini tidak lain adalah sebagai khalifah Allah di bumi-Nya. Allah sebagai Rabb semua makhluk,Raja segala raja,serta Penguasa langit dan bumi telah menciptakan manusia sebagai khalifah dibumi dan menjadikannya agar bertanggung jawab kepada-Nya, sehubungan dengan tugas kekhalifahannya.&lt;br /&gt;2 Allah memberitahu kepada para Malaikat tentang tugas penting yang dibebankan kepada manusia, sebagaimana firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Dan ingatlah ketika Rabbmu berfirman kepada para Malaikat,Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah dimuka bumi’’ (Al-Baqarah 30)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ath-Thabari menafsirkan ayat diatas dengan,: ‘’Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi dari-Ku yang mewakiliku dalam memutuskan hukum diantara makhluk-Ku. Khalifah itu adalah Adam dan orang yang bersikap seperti dia dalam mentaati Allah serta memutuskan hukum dengan adil diantara makhluk-Nya’’ (Tafsir Ibnu Katsir 1:70)&lt;br /&gt;Ibnu Katsir mengatakan, mereka memmahami tentang Khlifah,yakni orang yang memutuskan perselisihan di antara manusia dan mencegah melakukan perbuatan haram dan dosa.Demikian perkataan Al-Qurtubi. (tafsir Ibnu Katsir 1:69)&lt;br /&gt;Selanjutnya Ibnu Katsir mengatakan, dengan ayat ini Al-Qurtubi dan yang lainnya menjadikan dalil atas wajibnya mengangkat seorang Khalifah untuk menyelesaikan perselisihan diantara para manusia, menolong orang yang teraniaya dan di aniaya oleh orang-orang dzalim, menegakkan hukum,mencegah perbuatan keji, serta melaksanakan perkara penting lainnya yang hanya bisa ditegakkan oleh seorang Imam. Hal ini sesuai dengan kaidah ushul fiqih: Kewajiban yang tidak dapat ditegakkan,kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu itupun hukumnya wajib. (Tafsir Ibnu Katsir 1:72)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2606071805279753426-4344193521467280302?l=tarbiyahilalhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/feeds/4344193521467280302/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/01/penyimpangan-manusia-dari-jalan-yang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/4344193521467280302'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/4344193521467280302'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/01/penyimpangan-manusia-dari-jalan-yang.html' title='PENYIMPANGAN MANUSIA DARI JALAN YANG BENAR (1)'/><author><name>Dhany</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06267143366179759089</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sy2ltTN_HwI/AAAAAAAAADI/ubrHlxmxRnw/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2606071805279753426.post-9202377251146377002</id><published>2010-01-05T09:10:00.001-08:00</published><updated>2010-01-05T09:10:40.647-08:00</updated><title type='text'>MAKNA KATA AD-DIEN</title><content type='html'>slam adalah sebuah ad-diin. Secara umum kita memadankan kata itu dengan kata agama dalam bahasa Indonesia. Dan jika mendefinisikannya kata itu kita pahami sebagai agama yang mengatur hubungan antara seorang hamba dengan Penciptanya. Ternyata pengertian kata ad-diin tidak sesederhana itu. Tahukah Anda bahwa secara etimologi saja kata ad-din memiliki cakupan arti yang sangat luas, sesuai dengan substansinya. Setidaknya seperti empat pengertian di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. As-sulthah wal al-qahru (artinya kekuasaan atau memaksa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian ini seperti perkataan orang Arab: dintu al-qauma, artinya aku paksa kaum itu atau aku kuasai. Maksudnya, ketika seseorang memeluk dan mengikuti suatu ad-diin, ia telah menyerahkan dirinya untuk dikuasai olehnya dan pada gilirannya bersedia dipaksa untuk menjalankan aturan-aturan. Tentu saja hal itu dilandasi oleh keyakinan terhadap kebenaran yang ada pada ad-diin itu, dan keyakinan bahwa orang itu akan mendapatkan apa yang diinginkannya, yaitu berupa kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menggunakan pengertian seperti itu, di surat Al-Waqi’ah ayat 85-86, Allah swt. bertanya setara retoris, apakah manusia, kita, ingin lepas dari penguasaan Allah swt? Jika ingin lepas dari penguasaan Allah, manusia ditantang oleh Allah untuk mengembalikan ruh ke jasad setelah dicabut dan dipisahkan darinya. Namun, kenyataannya manusia tidak mampu karena kita memang tidak memiliki kekuasaan untuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka mengapa jika kamu tidak dikuasai (oleh Allah)? Kamu tidak mengembalikan nyawa itu (kepada tempatnya) jika kamu adalah orang-orang yang benar?” (Al-Waqi’ah: 85-86).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, adalah wajar dan rasional jika Allah swt. yang menciptakan manusia memaksakan sebuah aturan hidup kepada kita berupa Ad-Diin Al-Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tunduk kepada kekuasaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsekuensi dari mengikuti sebuah ad-Diin adalah ketundukan terhadap semua ajaran dan aturannya. Seseorang dikatakan tidak menjadi pemeluk agama dengan baik ketika ia tidak tunduk dan taat dalam menjalankan aturan agama tersebut. Hal ini berlaku bagi semua ad-diin atau yang dianggap sebagai ad-din seperti ideologi, aliran, dan kepercayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa lihat dalam kehidupan keseharian kita, setiap orang yang mengikuti sebuah ideolog atau kepercayaan, mereka akan tunduk kepada kepercayaannya itu, kendatipun ideologi itu menurut orang banyak sebagai aliran dan ideologi sesat. Itulah yang terjadi di beberapa aliran. Para pengikutnya rela mati karena mereka yakin betul bahwa hal itu adalah implementasi dari ketundukan mereka kepada keyakinan yang mereka anut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam adalah ad-diin yang diturunkan Allah swt., Sang Pencipta alam semesta, bagi manusia. Karena itu, Islam adalah diinul haqq (agama yang benar). Kenapa manusia tidak tunduk dengan total dengan semua ajaran dan aturan yang ada di dalam Islam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Undang-undang yang bersumber dari kekuasaan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ad-diin juga identik dengan semua aturan dan undang-undang dari Sulthah (kekuasaan). Karena setiap kekuasaan pasti mempunyai undang yang berlaku bagi yang dikuasainya demi tercapainya keinginan dari kekuasaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah menceritakan kisah Nabi Yusuf bersama saudara-saudaranya. Yusuf membuat skenerio seolah-olah saudaranya mencuri piala miliknya agar bisa bertemu dengan saudaranya itu. Dan tidak sepatutnya baginya untuk menghukum saudaranya itu dengan undang-undang kerajaaan. Allah berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka mulailah Yusuf (memeriksa) karung-karung mereka sebelum (memeriksa) karung saudaranya sendiri, kemudian dia mengeluarkan piala raja itu dari karung saudaranya. Demikianlah kami atur untuk (mencapai maksud) Yusuf. Tiadalah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang raja, kecuali Allah menghendaki-Nya. Kami tinggikan derajat orang yang kami kehendaki; dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi yang Maha Mengetahui.” (Yusuf: 76).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah juga berfirman, “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (Al-Kafirun: 6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat ini adalah penolakan Allah atas tawaran damai orang-orang kafir Quraisy kepada Rasulullah saw. Mereka tidak mengusulkan agar Nabi memeluk agama mereka dan mereka memeluk agama Islam. Tetapi orang-orang kafir itu mengusulkan Rasulullah dan mereka menjalankan aturan dan ibadah selama satu tahun secara bergantian. Tentu saja usulan itu ditolak Rasulullah saw. sebab sebuah diin tidak mungkin dicampuradukan aturan-aturannya dengan aturan-aturan diin yang lain. Tidak mungkin aturan hidup yang diturunkan Allah swt. dicampuradukan dengan aturan hidup yang dikarang-karang oleh setan laknatullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Balasan bagi orang yang taat kepada undang-undang tersebut dan siksa bagi yang tidak taat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ad-diin juga bermaknakan balasan bagi siapa yang taat menjalankan aturan itu serta siksa bagi siapa yang tidak taat. Allah berfirman di surat Al-Fatihah, dimana yaum ad-diin artinya hari kiamat dan hari pembalasan. Allah swt. menisbatkan kekuasaan kepada Hari Pembalasan karena pada hari itu tidak ada lagi klaim kekuasan selain klaim Allah. Di hari itu tidak satu makhluk pun bisa melakukan sesuatu tanpa izin Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang menguasai di hari Pembalasan.” (Al-Fathihah: 4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata maalik (yang menguasai) jika dibaca dengan memanjangkan kata “mim” artinya pemilik. Sedangkan jika dibaca pendek, malik, artinya raja. Sedangkan frase yaumi ad-diin disebut juga yaumul qiyaamah, yaumul hisaab, yaumul jazaa’. Jadi, yaumi ad-diin (hari Pembalasan) adalah hari yang di waktu itu masing-masing manusia menerima pembalasan amalannya yang baik maupun yang buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah hakikat kekuasan Allah swt. di pada hari itu. Allah swt. adalah satu-satunya Raja yang memiliki kekuasaan penuh di hari pembalasan itu. Ia memaksakan undang-undang dan aturan-Nya diterapkan untuk memberi balasan pahala kepada orang yang telah beriman, tunduk secara total, dan mengamalkan Ad-Diin (aturan-aturan) yang dibuat-Nya di dunia. Di hari itu Allah juga memaksakan undang-undangnya ditegakkan dengan menghukum setiap orang yang membangkang dari aturan-aturan-Nya selama hidup di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah makna ad-diin secara bahasa. Semoga Allah swt. mengilhamkan kepada jiwa kita untuk beriltizam (memegang teguh) kepada Al-Islam secara total. Amiin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2606071805279753426-9202377251146377002?l=tarbiyahilalhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/feeds/9202377251146377002/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/01/makna-kata-ad-dien.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/9202377251146377002'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/9202377251146377002'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/01/makna-kata-ad-dien.html' title='MAKNA KATA AD-DIEN'/><author><name>Dhany</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06267143366179759089</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sy2ltTN_HwI/AAAAAAAAADI/ubrHlxmxRnw/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2606071805279753426.post-8134423773663339662</id><published>2010-01-03T07:28:00.000-08:00</published><updated>2010-01-03T07:32:35.486-08:00</updated><title type='text'>Kematian dan Persiapan Menghadapinya (Bagian ke-2) Tazkiyatun Nufus 2/1/2010 | 15 Muharram 1431 H | Hits: 486 Oleh: Tim Kajian Manhaj Tarbiyah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/S0C4ChsplmI/AAAAAAAAAFw/w6erWJMAiPo/s1600-h/rasmul-bayan-kematian-dan-istidad-liyaumirrahil-250x200.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 250px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/S0C4ChsplmI/AAAAAAAAAFw/w6erWJMAiPo/s400/rasmul-bayan-kematian-dan-istidad-liyaumirrahil-250x200.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5422536304898971234" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;KEADAAN MUKMIN DAN KAFIR KETIKA MATI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana keadaan mukmin dan kafir ketika mati?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dakwatuna.com – Rasulullah saw bersabda: “Orang mukmin ketika  datang kematiannya –ia didatangi al basyir (pembawa kabar gembira) dari Allah, maka tidak ada yang paling menyenangkan bagi orang mukmin ini dibandingkan berjumpa dengan Allah. Maka Allah akan senang menemuinya. Sesungguhnya orang fajir (pecandu dosa) atau orang kafir jika menghadapai kematian, akan datang padanya keburukan yang pernah diperbuatnya, atau menemui keburukan-keburukan lain. Sehingga ia enggan berjumpa dengan Allah, dan Allah enggan menemuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika orang beriman menghadapi kematian akan turun Malaikat rahmat yang menenangkannya, memberikan kabar gembira ridha Allah, Allah bukakan baginya pintu-pintu surga. Ia melihat nikmat dan kemewahannya, sehingga lapang dadanya dan senang berjumpa dengan Rabbnya. Firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang Telah dijanjikan Allah kepadamu”. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta.” (Fushshilat: 30-31)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan orang yang enggan, maka mereka tersiksa dengan kematiannya, dan dipaksa menemui Rabbnya. Firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata): “Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar”, (tentulah kamu akan merasa ngeri).” (Al-Anfal: 50)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DATANG MENDADAK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada di antara orang yang berkata: “Nanti saya akan bertaubat”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang belum tepat Islamnya, orang yang belum tepat memahami kematian. Apakah pernah ada kesepakatan dengan kematian, sehingga ia tidak mati kecuali setelah bertaubat? Apakah ada seseorang di muka bumi ini meyakini dengan pasti bahwa ia akan hidup sampai esok hari? Atau orang yang mengatakan demikian telah membuat janji demikian di hadapan Allah. Firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah, Hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok[1]. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Luqman: 34)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah kematian ada di tangan Allah. Tidak ada seorangpun yang tahu kapan kematian itu akan datang menghampirinya. Maka orang yang berfikir akan bersegera mengerjakan amal shalih sebelum kematian mendahuluinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RINGKASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mati dan hidup ada di tangan Allah. Pencipta mati dan hidup, bukan di tangan berhala atau kehendak alam, yang tidak memiliki bagi dirinya sendiri hidup dan mati. Mati atau perpindahan dari ruang amal menuju ke ruang pembalasan. Kematian adalah keharusan bagi setiap manusia, tiada tempat berlari darinya, maka wajib mempersiapkan diri untuk pasca kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Maksudnya: manusia itu tidak dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan diusahakannya besok atau yang akan diperolehnya, namun demikian mereka diwajibkan berusaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;— Tamat&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2606071805279753426-8134423773663339662?l=tarbiyahilalhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/feeds/8134423773663339662/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/01/keadaan-mukmin-dan-kafir-ketika-mati.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/8134423773663339662'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/8134423773663339662'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/01/keadaan-mukmin-dan-kafir-ketika-mati.html' title='Kematian dan Persiapan Menghadapinya (Bagian ke-2) Tazkiyatun Nufus 2/1/2010 | 15 Muharram 1431 H | Hits: 486 Oleh: Tim Kajian Manhaj Tarbiyah'/><author><name>Dhany</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06267143366179759089</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sy2ltTN_HwI/AAAAAAAAADI/ubrHlxmxRnw/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/S0C4ChsplmI/AAAAAAAAAFw/w6erWJMAiPo/s72-c/rasmul-bayan-kematian-dan-istidad-liyaumirrahil-250x200.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2606071805279753426.post-8653201063945118320</id><published>2010-01-02T06:58:00.001-08:00</published><updated>2010-01-02T06:58:48.811-08:00</updated><title type='text'>ISLAM</title><content type='html'>In The Name Of God, Most Gracious, Most Merciful&lt;br /&gt;O mankind! We created you from a single soul, male and female, and&lt;br /&gt;made you into nations and tribes, so that you may come to know one&lt;br /&gt;another. Truly, the most honored of you in God's sight is the greatest&lt;br /&gt;of you in piety. God is All-Knowing, All-Aware 49:13)&lt;br /&gt;WHAT IS ISLAM?&lt;br /&gt;Islam is not a new religion, but the same truth that God revealed through all His&lt;br /&gt;prophets to every people. For a fifth of the world's population, Islam is both a religion&lt;br /&gt;and a complete way of life. Muslims follow a religion of peace, mercy, and&lt;br /&gt;forgiveness, and the majority have nothing to do with the extremely grave events&lt;br /&gt;which have come to be associated with their faith.&lt;br /&gt;WHO ARE THE MUSLIMS?&lt;br /&gt;One billion people from a vast range of races, nationalities and cultures across the&lt;br /&gt;globe -- from the southern Philippines to Nigeria -- are united by their common Islamic&lt;br /&gt;faith. About 18% live in the Arab world; the world's largest Muslim community is in&lt;br /&gt;Indonesia; substantial parts of Asia and most of Africa are Muslim, while significant&lt;br /&gt;minorities are to be found in the Soviet Union, China, North and South America, and&lt;br /&gt;Europe.&lt;br /&gt;WHAT DO MUSLIMS BELIEVE?&lt;br /&gt;Muslims believe in One Unique, Incomparable God; in the Angels created by Him; in&lt;br /&gt;the prophets through whom His revelations were brought to mankind; in the Day of&lt;br /&gt;Judgment and individual accountability for actions; in God's complete authority over&lt;br /&gt;human destiny and in life after death. Muslims believe in a chain of prophets starting&lt;br /&gt;with Adam and including Noah, Abraham, Ishmael, Isaac, Jacob, Joseph, Job, Moses,&lt;br /&gt;Aaron, David, Solomon, Elias, Jonah, John the Baptist, and Jesus, peace be upon&lt;br /&gt;them. But God's final message to man, a reconfirmation of the eternal message and a&lt;br /&gt;summing-up of all that has gone before was revealed to the Prophet Muhammad&lt;br /&gt;through Gabriel.&lt;br /&gt;HOW DOES SOMEONE BECOME A MUSLIM?&lt;br /&gt;Simply by saying 'there is no god apart from God, and Muhammad is the Messenger&lt;br /&gt;of God.' By this declaration the believer announces his or her faith in all God's&lt;br /&gt;messengers, and the scriptures they brought.&lt;br /&gt;WHAT DOES 'ISLAM' MEAN?&lt;br /&gt;The Arabic word 'Islam' simply means 'submission', and derives from a word meaning&lt;br /&gt;'peace'. In a religious context it means complete submission to the will of God.&lt;br /&gt;Mohammedanism' is thus a misnomer because it suggests that Muslims worship&lt;br /&gt;Muhammad rather than God. 'Allah' is the Arabic name for God, which is used by&lt;br /&gt;Arab Muslims and Christians alike.&lt;br /&gt;WHY DOES ISLAM OFTEN SEEM STRANGE?&lt;br /&gt;Islam may seem exotic or even extreme in the modern world. Perhaps this is because&lt;br /&gt;religion does not dominate everyday life in the West today, whereas Muslims have&lt;br /&gt;religion always uppermost in their minds, and make no division between secular and&lt;br /&gt;sacred. They believe that the Divine Law, the Shari'a, should be taken very seriously,&lt;br /&gt;which is why issues related to religion are still so important.&lt;br /&gt;DO ISLAM AND CHRISTIANITY HAVE DIFFERENT ORIGINS?&lt;br /&gt;No. Together with Judaism, they go back to the prophet and patriarch Abraham, and&lt;br /&gt;their three prophets are directly descended from his sons Muhammad from the eldest,&lt;br /&gt;Ishmael, and Moses and Jesus from Isaac. Abraham established the settlement which&lt;br /&gt;today is the city of Makkah, and built the Ka'abah towards which all Muslims turn&lt;br /&gt;when they pray.&lt;br /&gt;WHAT IS THE KA'ABAH?&lt;br /&gt;The Ka'abah is the place of worship which God commanded Abraham and Ishmael to&lt;br /&gt;build over four thousand years ago. The building was constructed of stone on what&lt;br /&gt;many believe was the original site of a sanctuary established by Adam. God&lt;br /&gt;commanded Abraham to summon all mankind to visit this place, and when pilgrims go&lt;br /&gt;there today they say 'At Thy service, O Lord', in response to Abraham's summons.&lt;br /&gt;WHO IS MUHAMMAD?&lt;br /&gt;Muhammad was born in Makkah in the year 570, at a time when Christianity was not&lt;br /&gt;yet fully established in Europe. Since his father died before his birth, and his mother&lt;br /&gt;shortly afterwards, he was raised by his uncle from the respected tribe of Quraysh. As&lt;br /&gt;he grew up, he became known for his truthfulness, generosity and sincerity, so that he&lt;br /&gt;was sought after for his ability to arbitrate in disputes. The historians describe him as&lt;br /&gt;calm and meditative. Muhammad was of a deeply religious nature, and had long&lt;br /&gt;detested the decadence of his society. It became his habit to meditate from time to&lt;br /&gt;time in the Cave of Hira near the summit of Jaba al-Nur, the 'Mountain of Light' near&lt;br /&gt;Makkah.&lt;br /&gt;HOW DID HE BECOME A PROPHET AND A MESSENGER OF GOD?&lt;br /&gt;At the age of 40, while engaged in a meditative retreat, Muhammad received his first&lt;br /&gt;revelation from God through the Angel Gabriel. This revelation, which continued for&lt;br /&gt;twenty-three years, is known as the Qur'an. As soon as be began to recite the words&lt;br /&gt;he heard from Gabriel, and to preach the truth which God had revealed to him, he and&lt;br /&gt;his small group of followers suffered bitter persecution which grew so fierce that in&lt;br /&gt;the year 622 God gave them the command to emigrate. This event, the Hijra,&lt;br /&gt;'migration', in which they left Makkah for the city of Madinah some 260 miles to the&lt;br /&gt;north, marks the beginning of the Muslim calendar. After several years, the Prophet&lt;br /&gt;and his followers were able to return to Makkah, where they forgave their enemies&lt;br /&gt;and established Islam definitively. Before the Prophet died at the age of 63, the&lt;br /&gt;greater part of Arabia was Muslim, and within a century of his death Islam had spread&lt;br /&gt;to Spain in the West and as far East as China.&lt;br /&gt;HOW DID THE SPREAD OF ISLAM AFFECT THE WORLD?&lt;br /&gt;Among the reasons for the rapid and peaceful spread of Islam was the simplicity of its&lt;br /&gt;doctrine-Islam calls for faith in only one God worthy of worship. It also repeatedly&lt;br /&gt;instructs man to use his powers of intelligence and observation.&lt;br /&gt;Within a few years, great civilizations and universities were flourishing, for according&lt;br /&gt;to the Prophet, 'seeking knowledge is an obligation for every Muslim man and&lt;br /&gt;woman'. The synthesis of Eastern and Western ideas and of new thought with old,&lt;br /&gt;brought about great advances in medicine, mathematics, physics, astronomy,&lt;br /&gt;geography, architecture, art, literature, and history. Many crucial systems such as&lt;br /&gt;algebra, the Arabic numerals, and also the concept of the zero (vital to the&lt;br /&gt;advancement of mathematics), were transmitted to medieval Europe from Islam.&lt;br /&gt;Sophisticated instruments which were to make possible the European voyages of&lt;br /&gt;discovery were developed, including the astrolabe, the quadrant and good&lt;br /&gt;navigational maps.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2606071805279753426-8653201063945118320?l=tarbiyahilalhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/feeds/8653201063945118320/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/01/islam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/8653201063945118320'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/8653201063945118320'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/01/islam.html' title='ISLAM'/><author><name>Dhany</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06267143366179759089</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sy2ltTN_HwI/AAAAAAAAADI/ubrHlxmxRnw/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2606071805279753426.post-3425660876646371511</id><published>2010-01-01T17:18:00.000-08:00</published><updated>2010-01-01T17:19:09.238-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sz6fA1Rui9I/AAAAAAAAAFI/XXzLb-GMJNs/s1600-h/makkah-chinx786.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 295px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sz6fA1Rui9I/AAAAAAAAAFI/XXzLb-GMJNs/s400/makkah-chinx786.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5421945838050905042" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2606071805279753426-3425660876646371511?l=tarbiyahilalhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/feeds/3425660876646371511/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/01/blog-post_01.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/3425660876646371511'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/3425660876646371511'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/01/blog-post_01.html' title=''/><author><name>Dhany</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06267143366179759089</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sy2ltTN_HwI/AAAAAAAAADI/ubrHlxmxRnw/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sz6fA1Rui9I/AAAAAAAAAFI/XXzLb-GMJNs/s72-c/makkah-chinx786.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2606071805279753426.post-5453765480336131805</id><published>2010-01-01T17:13:00.000-08:00</published><updated>2010-01-01T17:14:03.367-08:00</updated><title type='text'>Kematian dan Persiapan Menghadapinya (Bagian ke-1) Tazkiyatun Nufus 31/12/2009 | 14 Muharram 1431 H | Hits: 695 Oleh: Tim Kajian Manhaj Tarbiyah</title><content type='html'>Kematian dan Persiapan Menghadapinya (Bagian ke-1)&lt;br /&gt;Tazkiyatun Nufus&lt;br /&gt;31/12/2009 | 14 Muharram 1431 H | Hits: 695&lt;br /&gt;Oleh: Tim Kajian Manhaj Tarbiyah&lt;br /&gt;Kirim Print&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HIDUP DAN MATI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa perbedaan mati dan hidup?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dakwatuna.com – Orang mati tidak lagi makan, minum, mendengar, mengenal, berfikir, tidak merasa apa yang ada menurut pandanan kita, tidak berkembang, tidak bernafas, tidak menikah, tidak melahirkan anak. Orang hidup sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka renungkanlah dengan baik. Bagaimana makanan yang mati dan beku itu berubah menjadi kehidupan. Terjadi setiap hari di tubuh kita. Perhatikan tanganmu yang dahulu kecil, kemudian dengan makanan yang sudah mati itu semakin bertambah besar, sehinggga menjadi tangan yang hidup. Lalu bandingkan dengan tangan mayit, yang dahulu aktif dan hidup, tiba-tiba menjadi kaku dan mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka siapakah yang memberikan kehidupan pada benda-benda mati? Dan siapakah yang memutuskan kematian pada makhluk hidup?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhala-berhala mati, tidak memiliki kematian atau kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alam mati, tidak memiliki kematian dan kehidupan, akal atau pengelolaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya semua yang hidup akan dipaksa mati. Dia harus mati. Karena kematian dan kehidupan tidak ada di tangannya, akan tetapi ada di tangan Allah. Pemilik segala sesuatu. Melakukan apa yang diinginkan. Firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kepunyaan-Nyalah kerajaan langit dan bumi, dia menghidupkan dan mematikan, dan dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al Hadidi: 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan dialah yang menghidupkan dan mematikan, dan dialah yang (mengatur) pertukaran malam dan siang. Maka apakah kamu tidak memahaminya?” (Al-Mukminun: 80).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MATI SETELAH HIDUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa kita mati?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya hanya Allah yang menghidupkan kita dan mematikan kita. Allah swt telah memberitahukan kepada kita bahwa hikmah dari kematian adalah perpindahan dari darul amal (rumah kerja) menuju darul jaza’ (rumah balasan), setiap orang mendapatkan balasan dari apa yang pernah dikerjakan. Firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, Maka sungguh ia Telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Ali Imran: 185)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TIDAK ADA TEMPAT BERLARI DARINYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah tempat berlari dari kematian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneh sekali orang yang tidak meyakini kematian, padahal ia menyaksikan orang-orang mati. Kematian itu tidak ada seorangpun di muka bumi ini yang mengingkarinya. Akan tetapi banyak orang yang menolak dirinya mengenang kematian itu, bersiap menghadapi pasca kematian. Mereka berlari dari mengingatnya padahal mereka akan menemuinya, menjauhkan diri darinya padahal kematian itu mendatanginya. Firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, Maka Sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, Kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu dia beritakan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan.” (Al-Jumu’ah: 8 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEPUTUSAN YANG DITUNDA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kematian itu ada di tangan manusia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya jelas. Sesungguhnya hidup itu tidak ada di tangan manusia, jika tidak demikian maka setiap orang yang mati akan menghidupkan dirinya sendiri. Demikian juga kematian tidak ada di tangan manusia. Jika ada di tangan manusia maka tidak ada seorangpun di muka bumi ini yang mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ada di tangan siapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kematian ada di tangan Yang telah menghidupkan dan menciptakan manusia. Di tangan Allah swt. Anda akan melihat ketentuan umum yang berlaku pada sunnatul maut wal hayat (mati dan hidup). Pada waktu kurang dari seratus tahun kita umumnya sudah mati, sebagaimana sebelum seratus tahun yang lalu kita belum ada di dunia. Demikianlah orang-orang sebelum kita, meski dengan perbedaan umur dan bilangan tahun….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu. Maka apabila Telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (Al-A’raf: 34)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masing-maing kita akan hidup terbatas, ditentukan dengan ilmu Allah swt. Dan peran kita di dunia ini juga sudah jelas sesuai dengan ketentuan umum. Masing-masing kita memiliki ajal terbatas. Jika telah datang tidak bisa ditunda. Betapa banyak orang yang dalam keadaan sehat wal afiat, dengan mendadak berpindah ke sisi Rabbnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditunjukkan kepadanya sebab yang paling kecil, bagi kematiannya. Firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya ketetapan Allah apabila Telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu Mengetahui.” (Nuh: 4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya betapa banyak orang yang mengalami sakit yang sangat berbahaya, mengalami luka yang berat, atau tercabik-cabik oleh senjata perang, atau penyakit berat lainnya. Betapa banyak orang yang menghadapi serangan tepat dan mematikan, atau situasi yang membinasakan, akan tetapi mereka tetap hidup, tidak mati. Hal ini karena ajalnya belum sampai. Firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang Telah ditentukan waktunya.” (Ali Imran: 145)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- bersambung&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2606071805279753426-5453765480336131805?l=tarbiyahilalhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/feeds/5453765480336131805/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/01/kematian-dan-persiapan-menghadapinya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/5453765480336131805'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/5453765480336131805'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/01/kematian-dan-persiapan-menghadapinya.html' title='Kematian dan Persiapan Menghadapinya (Bagian ke-1) Tazkiyatun Nufus 31/12/2009 | 14 Muharram 1431 H | Hits: 695 Oleh: Tim Kajian Manhaj Tarbiyah'/><author><name>Dhany</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06267143366179759089</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sy2ltTN_HwI/AAAAAAAAADI/ubrHlxmxRnw/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2606071805279753426.post-8983708291885448991</id><published>2010-01-01T16:52:00.001-08:00</published><updated>2010-01-01T16:52:59.591-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sz6Y4zhzV3I/AAAAAAAAAFA/8aHIrFDXgFs/s1600-h/makkah-chinx786.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 295px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sz6Y4zhzV3I/AAAAAAAAAFA/8aHIrFDXgFs/s400/makkah-chinx786.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5421939103072737138" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2606071805279753426-8983708291885448991?l=tarbiyahilalhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/feeds/8983708291885448991/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/01/blog-post.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/8983708291885448991'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/8983708291885448991'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/01/blog-post.html' title=''/><author><name>Dhany</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06267143366179759089</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sy2ltTN_HwI/AAAAAAAAADI/ubrHlxmxRnw/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sz6Y4zhzV3I/AAAAAAAAAFA/8aHIrFDXgFs/s72-c/makkah-chinx786.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2606071805279753426.post-3780524187103963936</id><published>2010-01-01T16:21:00.000-08:00</published><updated>2010-01-01T16:22:17.924-08:00</updated><title type='text'>MA’RIFATULLAH PUNCAK AQIDAH ISLAM</title><content type='html'>TUJUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengikuti penjelasan materi ini pemirsa diharapkan mampu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Menunjukkan Karakteristik Aqidah Islam&lt;br /&gt;   2. Mengungkapkan pengertian ma’rifatulah&lt;br /&gt;   3. Menunjukkan urgensi ma’rifatullah&lt;br /&gt;   4. Menunjukkan sarana ma’rifatullah&lt;br /&gt;   5. Menunjukkan pengaruh ma’rifatullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;POKOK-POKOK MATERI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      KARAKTERISTIK AQIDAH ISLAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aqidah Islam adalah Aqidah Rabbaniy (berasal dari Allah ) yang bersih dari pengaruh penyimpangan dan subyektifitas manusia. Aqidah Islam memiliki karakteristik berikut ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      Al Wudhuh wa al Basathah ( jelas dan ringan) tidak ada kerancuan di dalamnya seperti yang terjadi pada konsep Trinitas  dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.      Sejalan dengan fitrah manusia, tidak akan pernah bertentangan antara aqidah salimah (lurus) dan fitrah manusia. Firman Allah : “Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia  menurut fitrah itu, tidak ada perubahan pada fitrah Allah..” QS. 30:30&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.      Prinsip-prinsip aqidah yang baku, tidak ada penambahan dan perubahan dari siapapun. Firman Allah :”Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan lain selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah ?“ QS. 42:21&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.      Dibangun di atas bukti dan dalil, tidak cukup hanya dengan doktrin dan pemaksaan seperti yang ada pada konsep-konsep aqidah lainnya. Aqidah Islam selalu menegakkan : “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar” QS 2:111&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.      Al Wasthiyyah (moderat) tidak berlebihan dalam menetapkan keesaan maupun sifat Allah seperti yang terjadi pada pemikiran lain yang mengakibatkan penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya. Aqidah Islam menolak fanatisme buta seperti yang terjadi dalam slogan jahiliyah “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan mengikuti jejak mereka” QS. 43:22&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.      PENGERTIAN MA’RIFATULLAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ma’rifatullah (mengenal Allah) bukanlah mengenali dzat Allah, karena hal ini tidak mungkin terjangkau oleh kapasitas manusia yang terbatas. Sebab bagaimana mungkin manusia yang terbatas ini mengenali sesuatu yang tidak terbatas?. Segelas susu yang dibikin seseorang tidak akan pernah mengetahui seperti apakah orang yang telah membuatnya menjadi segelas susu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ibn Al Qayyim : Ma’rifatullah yang dimaksudkan oleh ahlul ma’rifah (orang-orang yang mengenali Allah)  adalah ilmu yang membuat seseorang melakukan apa yang menjadi kewajiban bagi dirinya dan konsekuensi pengenalannya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ma’rifatullah tidak dimaknai dengan arti harfiah semata, namun ma’riaftullah dimaknai dengan pengenalan terhadap jalan yang mengantarkan manusia dekat dengan Allah, mengenalkan rintangan dan gangguan yang ada dalam perjalanan mendekatkan diri kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.      CIRI-CIRI DALAM MA’RIFATULLAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang dianggap ma’rifatullah  (mengenal Allah) jika  ia telah mengenali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      asma’ (nama) Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.      sifat Allah dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.      af’al (perbuatan) Allah, yang terlihat dalam ciptaan dan tersebar dalam kehidupan alam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dengan bekal pengetahuan  itu, ia menunjukkan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. sikap shidq (benar) dalam ber -mu’amalah (bekerja) dengan Allah,&lt;br /&gt;   2. ikhlas dalam niatan dan tujuan hidup yakni hanya karena Allah,&lt;br /&gt;   3. pembersihan diri dari akhlak-akhlak tercela dan kotoran-kotoran jiwa yang membuatnya bertentangan dengan kehendak Allah SWT&lt;br /&gt;   4. sabar/menerima pemberlakuan hukum/aturan Allah atas dirinya&lt;br /&gt;   5. berda’wah/ mengajak orang lain mengikuti kebenaran agamanya&lt;br /&gt;   6. membersihkan da’wahnya itu dari pengaruh perasaan, logika dan subyektifitas siapapun. Ia hanya menyerukan ajaran agama seperti yang pernah diajarkan Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Figur teladan dalam ma’rifatullah ini adalah Rasulullah SAW. Dialah orang yang paling utama dalam mengenali Allah SWT.  Sabda Nabi : “Sayalah orang yang paling mengenal Allah dan yang paling takut kepada-Nya”. HR Al Bukahriy dan Muslim.  Hadits ini Nabi ucapkan sebagai jawaban dari pernyataan tiga orang yang ingin mendekatkan diri kepada Allah dengan keinginan dan perasaannya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkatan berikutnya, setelah Nabi adalah ulama amilun ( ulama yang mengamalkan ilmunya). Firman Allah : “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” QS. 35:28&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang mengenali Allah dengan benar adalah orang yang mampu mewarnai dirinya dengan segala macam bentuk ibadah. Kita akan mendapatinya sebagai orang yang rajin shalat, pada saat lain kita dapati ia senantiasa berdzikir, tilawah, pengajar, mujahid, pelayan masyarkat, dermawan, dst. Tidak ada ruang dan waktu ibadah kepada Allah, kecuali dia ada di sana. Dan tidak ada ruang dan waktu larangan Allah kecuali ia menjauhinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebagian ulama yang mengatakan : “Duduk di sisi orang yang mengenali Allah akan mengajak kita kepada enam hal dan berpaling dari enam hal, yaitu : dari ragu menjadi yakin, dari riya menjadi ikhlash, dari ghaflah (lalai) menjadi ingat, dari cinta dunia menjadi cinta akhirat, dari sombong menjadi tawadhu’ (randah hati), dari buruk hati menjadi nasehat” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.      URGENSI MA’RIFATULLAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Ma’rifatullah adalah puncak kesadaran yang akan menentukan perjalanan hidup manusia selanjutnya. Karena ma’rifatullah akan menjelaskan tujuan hidup manusia yang sesungguhnya. Ketiadaan ma’rifatullah membuat banyak orang hidup tanpa tujuan yang jelas, bahkan menjalani hidupnya sebagaimana makhluk hidup lain (binatang ternak). QS.47:12&lt;br /&gt;    * Ma’rifatullah adalah asas (landasan) perjalanan ruhiyyah (spiritual) manusia secara keseluruhan. Seorang yang mengenali Allah akan merasakan kehidupan yang lapang. Ia hidup dalam rentangan panjang antara bersyukur dan bersabar.&lt;br /&gt;    * Sabda Nabi : Amat mengherankan urusan seorang mukmin itu, dan tidak terdapat pada siapapun selain mukmin, jika ditimpa musibah ia bersabar, dan jika diberi karunia ia bersyukur”  (HR.Muslim)&lt;br /&gt;    * Orang yang mengenali Allah akan selalu berusaha dan bekerja untuk mendapatkan ridha Allah, tidak untuk memuaskan nafsu dan keinginan syahwatnya.&lt;br /&gt;    * Dari Ma’rifatullah inilah manusia terdorong untuk mengenali para nabi dan rasul, untuk mempelajari cara terbaik mendekatkan diri kepada Allah. Karena para Nabi dan Rasul-lah orang-orang yang diakui sangat mengenal dan dekat dengan Allah.&lt;br /&gt;    * Dari Ma’rifatullah ini manusia akan mengenali kehidupan di luar alam materi, seperti Malaikat, jin dan ruh.&lt;br /&gt;    * Dari Ma’rifatullah inilah manusia mengetahui perjalanan hidupnya, dan bahkan akhir dari kehidupan ini menuju kepada kehidupan Barzahiyyah (alam kubur) dan kehidupan  akherat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.      SARANA MA’RIFATULLAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarana yang mengantarkan seseorang pada ma’rifatullah adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.      Akal sehat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akal sehat yang merenungkan ciptaan Allah. Banyak sekali ayat-ayat Al Qur’an yang menjelaskan pengaruh perenungan makhluk (ciptaan) terhadap pengenalan al Khaliq (pencipta) seperti firman Allah : Katakanlah “ Perhatikanlah apa yang ada di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman. QS 10:101, atau QS 3: 190-191&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabda Nabi : “Berfikirlah tentang ciptaan Allah dan janganlah kamu berfikir tentang Allah, karena kamu tidak akan mampu” HR. Abu Nu’aim &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.     Para Rasul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para Rasul yang membawa kitab-kitab yang berisi penjelasan sejelas-jelasnya tentang ma’rifatullah dan konsekuensi-konsekuensinya. Mereka inilah yang diakui sebagai orang yang paling mengenali Allah. Firman Allah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan ) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan..”  QS. 57:25&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.      Asma dan Sifat Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenali asma (nama) dan sifat Allah disertai dengan  perenungan makna dan pengaruhnya bagi kehidupan ini menjadi sarana untuk mengenali Allah. Cara inilah yang telah Allah gunakan untuk memperkenalkan diri kepada makhluk-Nya. Dengan asma dan sifat ini terbuka jendela bagi manusia untuk mengenali Allah lebih dekat lagi. Asma dan sifat Allah akan menggerakkan dan membuka hati manusia untuk menyaksikan dengan seksama pancaran cahaya Allah. Firman Allah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah : Serulah Allah atau serulah Ar Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asma’ al husna  (nama-nama yang terbaik) QS. 17:110&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asma’ al husna inilah yang Allah perintahkan pada kita untuk menggunakannya dalam berdoa. Firman Allah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Hanya milik Allah asma al husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma al husna itu…” QS. 7:180  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah sarana efektif yang Allah ajarkan kepada umat manusia untuk mengenali Allah SWT (ma’rifatullah). Dan ma’rifatullah ini tidak akan realistis sebelum seseorang mampu menegakkan tiga tingkatan tauhid, yaitu : tauhid rububiyyah, tauhid asma dan sifat. Kedua tauhid ini sering disebut dengan tauhid al ma’rifah wa al itsbat ( mengenal dan menetapkan) kemudian tauhid yang ketiga yaitu tauhid uluhiyyah yang merupakan tauhid thalab (perintah) yang harus dilakukan.&lt;br /&gt;Wallahu a’lam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2606071805279753426-3780524187103963936?l=tarbiyahilalhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/feeds/3780524187103963936/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/01/marifatullah-puncak-aqidah-islam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/3780524187103963936'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/3780524187103963936'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2010/01/marifatullah-puncak-aqidah-islam.html' title='MA’RIFATULLAH PUNCAK AQIDAH ISLAM'/><author><name>Dhany</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06267143366179759089</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sy2ltTN_HwI/AAAAAAAAADI/ubrHlxmxRnw/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2606071805279753426.post-2841105225371364706</id><published>2009-12-29T07:39:00.000-08:00</published><updated>2009-12-29T07:42:40.152-08:00</updated><title type='text'>Ihsan, Berbuat Yang Terbaik</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/SzojOubWdKI/AAAAAAAAAEI/54uMkOE-gUo/s1600-h/bunga-di-es2.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 250px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/SzojOubWdKI/AAAAAAAAAEI/54uMkOE-gUo/s400/bunga-di-es2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5420683837381702818" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; Ihsan adalah puncak ibadah dan akhlak yang senantiasa menjadi target seluruh hambah Allah SWT. Sebab, ihsan menjadikan kita sosok yang mendapatkan kemuliaan dari-Nya. Sebaliknya, seorang hamba yang tidak mampu mencapai target ini akan kehilangan kesempatan yang sangat mahal untuk menduduki posisi terhormat dimata Allah SWT. Rasulullah saw. pun sangat menaruh perhatian akan hal ini, sehingga seluruh ajaran-ajarannya mengarah kepada satu hal, yaitu mencapai ibadah yang sempurna dan akhlak yang mulia.&lt;br /&gt;Oleh karenanya, seorang muslim hendaknya tidak memandang ihsan itu hanya sebatas akhlak yang utama saja, melainkan harus dipandang sebagai bagian dari aqidah dan bagian terbesar dari keislamannya. Karena, Islam dibangun di atas tiga landasan utama, yaitu iman, Islam, dan ihsan, seperti yang telah diterangkan oleh Rasulullah saw dalam haditsnya yang shahih. Hadist ini menceritakan saat Raulullah saw. menjawab pertanyaan Malaikat Jibril—yang menyamar sebagai seorang manusia—mengenai Islam, iman, dan ihsan. Setelah Jibril pergi, Rasulullah saw. bersabda kepada para sahabatnya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ )).  رواه مسلم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Inilah Jibril yang datang mengajarkan kepada kalian urusan agama kalian.” Beliau menyebut ketiga hal di atas sebagai agama, dan bahkan Allah SWT memerintahkan untuk berbuat ihsan pada banyak tempat dalam Al-Qur`an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, Karena Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (al-Baqarah: 195)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah memerintahkanmu untuk berbuat adil dan kebaikan….”(an-Nahl: 90)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian Ihsan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ihsan berasal dari kata حَسُنَ yang artinya adalah berbuat baik, sedangkan bentuk masdarnya adalah اِحْسَانْ, yang artinya kebaikan.  Allah SWT berfirman dalam Al-Qur`an mengenai hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kamu berbuat baik, (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri…” (al-Isra’: 7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…Dan berbuat baiklah (kepada oraang lain) seperti halnya Allah berbuat baik terhadapmu….” (al-Qashash:77)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir mengomentari ayat di atas dengan mengatakan bahwa kebaikan yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah kebaikan kepada seluruh makhluk Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Landasan Syar’i Ihsan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, Al-Qur`an&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Al-Qur`an, terdapat seratus enam puluh enam ayat yang berbicara tentang ihsan dan implementasinya. Dari sini kita dapat menarik satu makna, betapa mulia dan agungnya perilaku dan sifat ini, hingga mendapat porsi yang sangat istimewa dalam Al-Qur`an. Berikut ini beberapa ayat yang menjadi landasan akan hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…Dan berbuat baiklah kalian karena sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (al-Baqarah:195)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah memerintahkanmu untuk berbuat adil dan kebaikan….” (an-Nahl: 90)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia….” (al-Baqarah: 83)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…Dan berbuat baiklah terhadap dua orang ibu bapak, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat maupun yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan para hamba sahayamu….” (an-Nisaa`: 36)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua; As-Sunnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw. pun sangat memberi perhatian terhadap masalah ihsan ini. Sebab, ia merupakan puncak harapan dan perjuangan seorang hamba. Bahkan, diantara hadist-hadist mengenai ihsan tersebut,  ada beberapa yang menjadi landasan utama dalam memahami agama ini. Rasulullah saw. menerangkan mengenai ihsan—ketika ia menjawab pertanyaan Malaikat Jibril tentang ihsan dimana jawaban tersebut dibenarkan oleh Jibril, dengan mengatakan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan apabila engkau tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kesempatan yang lain, Rasulullah bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اِنَّ اللهَ كَتَبَ عَلَيْكُمُ اْلِاحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ , فَاِذَا قَتَلْتُمْ فَاَحْسِنُوْ الْقَتْلَةَ وَ اِذَا ذَبَحْتُمْ فَاَحْسِنُوْ الذَّبْحَةَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kebaikan pada segala sesuatu, maka jika kamu membunuh, bunuhlah dengan baik, dan jika kamu menyembelih, sembelihlah dengan baik…” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga Aspek Pokok Dalam Ihsan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ihsan meliputi tiga aspek yang fundamental. Ketiga hal tersebut adalah ibadah, muamalah, dan akhlak. Ketiga hal ini lah yang menjadi pokok bahasan kita kali ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. A. Ibadah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita berkewajiban ihsan dalam beribadah, yaitu dengan menunaikan semua jenis ibadah, seperti shalat, puasa, haji, dan sebagainya dengan cara yang benar, yaitu menyempurnakan syarat, rukun, sunnah, dan adab-adabnya. Hal ini tidak akan mungkin dapat ditunaikan oleh seorang hamba, kecuali jika saat pelaksanaan ibadah-ibadah tersebut ia dipenuhi dengan cita rasa yang sangat kuat (menikmatinya), juga    dengan kesadaran penuh bahwa Allah senantiasa memantaunya hingga ia merasa bahwa ia sedang dilihat dan diperhatikan oleh-Nya. Minimal seorang hamba merasakan bahwa Allah senantiasa memantaunya, karena dengan ini lah ia dapat menunaikan ibadah-ibadah tersebut dengan baik dan sempurna, sehingga hasil dari ibadah tersebut akan seperti yang diharapkan. Inilah maksud dari perkataan  Rasulullah saw yang berbunyi,  “Hendaklah kamu menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini jelaslah bagi kita bahwa sesungguhnya arti dari ibadah itu sendiri sangatlah luas. Maka, selain jenis ibadah yang kita sebutkan tadi, yang tidak kalah pentingnya adalah juga jenis ibadah lainnya seperti jihad, hormat terhadap mukmin, mendidik anak, menyenangkan isteri, meniatkan setiap yang mubah untuk mendapat ridha Allah, dan masih banyak lagi. Oleh karena itulah, Rasulullah saw. menghendaki umatnya senantiasa dalam keadaan seperti itu, yaitu senantiasa sadar jika ia ingin mewujudkan ihsan dalam ibadahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkatan Ibadah dan Derajatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan nash-nash Al-Qur`an dan Sunnah, maka ibadah mempunyai tiga tingkatan, yang pada setiap tingkatan derajatnya masing-masing seorang hamba tidak dapat mengukurnya. Karena itulah, kita berlomba untuk meraihnya. Pada setiap derajat, ada tingkatan tersendiri dalam surga. Yang tertinggi adalah derajat muhsinin, ia menempati jannatul firdaus, derajat tertinggi di dalam surga. Kelak, para penghuni surga tingkat bawah akan saling memandang dengan penghuni surga  tingkat tertinggi, laksana penduduk bumi memandang bintang-bintang di langit yang  menandakan jauhnya jarak antara mereka.&lt;br /&gt;Adapun tiga tingkatan tersebut adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;1.Tingkat at-Takwa, yaitu tingkatan paling bawah dengan derajat yang berbeda-beda.&lt;br /&gt;2. Tingkat al-Bir, yaitu tingkatan menengah dengan derajat yang berbeda-beda.&lt;br /&gt;3.Tingkat al-Ihsan, yaitu tingkatan tertinggi dengan derajat yang berbeda-beda pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama,Tingkat Takwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkat taqwa adalah tingkatan dimana seluruh derajatnya dihuni oleh mereka yang masuk katagori al-Muttaqun, sesuai dengan derajat ketaqwaan masing-masing.&lt;br /&gt;Takwa akan menjadi sempurna dengan menunaikan seluruh perintah Allah dan meninggalkan seluruh larangan-Nya. Hal ini berarti meninggalkan salah satu perintah Allah dapat mengakibatkan sangsi dan melakukan salah satu larangannya  adalah dosa. Dengan demikian, puncak takwa adalah melakukan seluruh perintah Allah dan meninggalkansemualarangan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ada satu hal yang harus kita fahami dengan baik, yaitu bahwa Allah SWT Maha Mengetahui keadaan hamba-hamba-Nya yang memiliki berbagai kelemahan, yang dengan kelemahannya itu seorang hamba melakukan dosa. Oleh karena itu, Allah membuat satu cara penghapusan dosa, yaitu dengan cara tobat dan pengampunan. Melalui hal tersebut, Allah SWT akan mengampuni hamba-Nya yang berdosa karena kelalaiannya dari menunaikan hak-hak takwa. Sementara itu, ketika seorang hamba naik pada peringkat puncak takwa, boleh jadi ia akan naik pada peringkat bir atau ihsan.&lt;br /&gt;Peringkat ini disebut martabat takwa, karena amalan-amalan yang ada pada derajat ini membebaskannya dari siksaan atas kesalahan yang dilakukannya. Adapun derajat yang paling rendah dari peringkat ini adalah derajat dimana seseorang menjaga dirinya dari kekalnya dalam neraka, yaitu dengan iman yang benar yang diterima oleh Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua,Tingkatal-Bir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peringkat ini akan dihuni oleh mereka yang masuk kategori al-Abrar. Hal ini  sesuai dengan amalan-amalan kebaikan yang mereka lakukan dari ibadah-ibadah sunnah serta segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah SWT. hal ini dilakukan setelah mereka menunaikan segala yang wajib, atau yang ada pada peringkat sebelumnya, yaitu peringkat takwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peringkat ini disebut martabat al-Bir (kebaikan), karena derajat ini merupakan perluasan pada hal-hal yang sifatnya sunnah, sesuatu sifatnya semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah dan merupakan tambahan dari batasan-batasan yang wajib serta yang diharamkan-Nya. Amalan-amalan ini tidak diwajibkan Allah kepada hamba-hamba-Nya, tetapi perintah itu bersifat anjuran, sekaligus  terdapat janji pahala didalamnya.&lt;br /&gt;Akan tetapi, mereka yang melakukan amalan tambahan ini tidak akan masuk kedalam kelompok al-bir, kecuali telah menunaikan peringkat yang pertama, yaitu peringkat takwa. Karena, melakukan hal pertama merupakan syarat mutlak untuk naik pada peringkat selanjutnya.&lt;br /&gt;Dengan demikian, barangsiapa yang mengklaim dirinya telah melakukan kebaikan sedang dia tidak mengimani unsur-unsur qaidah iman dalam Islam, serta tidak terhidar dari siksaan neraka, maka ia tidak dapat masuk dalam peringkat ini (al-bir). Mengenai hal ini, Allah SWT berfirman dalam kitab-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…Bukanlah kebaikan dengan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebaikan itu adalah takwa, dan datangilah rumah-rumah itu dari pintu-pintunya dan bertakwalah kepada Allah agar kalian beruntung.” (al-Baqarah: 189)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar seruan orang yang menyeru kepada iman, yaitu: Berimanlah kamu kepada Tuhanmu, maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesahan-kesalahan kami dan wafatkanlah kami bersama orang-orang yang banyak berbuat baik.” (Ali ‘Imran: 193)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, Tingkatan Ihsan&lt;br /&gt;Tingkatan ini akan dicapai oleh mereka yang masuk dalam kategori Muhsinun. Mereka adalah orang-orang yang telah melalui peringkat pertama dan yang kedua (peringkat takwa dan al-bir).&lt;br /&gt;Ketika kita mencermati pengertian ihsan dengan sempurna—seperti yang telah kita sebutkan sebelumnya, maka kita akan mendapatkan suatu kesimpulan bahwa ihsan memiliki dua sisi: Pertama, ihsan adalah kesempurnaan dalam beramal sambil menjaga keikhlasan dan jujur pada saat beramal. Ini adalah ihsan dalam tata cara (metode). Kedua, ihsan adalah senantiasa memaksimalkan amalan-amalan sunnah yang dapat mendekatkan diri kepada Allah, selama hal itu adalah sesuatu yang diridhai-Nya dan dianjurkan untuk melakukannya.&lt;br /&gt;Untuk dapat naik ke martabat ihsan dalam segala amal, hanya bisa dicapai melalui amalan-amalan wajib dan amalan-amalan sunnah yang dicintai oleh Allah, serta dilakukan atas dasar mencari ridha Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Muamalah&lt;br /&gt;Dalam bab muamalah, ihsan dijelaskan Allah SWT pada surah an Nisaa’ ayat 36, yang berbunyi sebagai berikut : “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat maupun yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu…”&lt;br /&gt;Kita sebelumnya telah membahas bahwa ihsan adalah beribadah kepada Allah  dengan sikap seakan-akan kita melihat-Nya, dan jika kita tidak dapat melihat-Nya, maka Allah melihat kita. Kini, kita akan membahas ihsan dari muamalah dan siapa saja yang masuk dalam bahasannya. Berikut ini adalah mereka yang berhak mendapatkan ihsan tersebut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, Ihsan kepada kedua orang tua.&lt;br /&gt;Allah SWT menjelaskan hal ini dalam kitab-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu tidak menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya berumr lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua mendidik aku diwaktu kecil.” (al-Israa’: 23-24)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat di atas mengatakan kepada kita bahwa ihsan kepada ibu-bapak adalah sejajar dengan ibadah kepada Allah.&lt;br /&gt;Dalam sebuah hadist riwayat Turmuzdi, dari Ibnu Amru bin Ash, Rasulullah saw. Bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;رِضَى اللهُ فِى رِضَى اْلوَالِدَيْنِ وَ سُخْطُ اللهِ فِى سُخْطِ اْلوَاِلدَيْنِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Keridhaan Allah berada pada keridhaan orang tua, dan kemurkaan Allah berada pada kemurkaan orang tua.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil di atas menjelaskan bahwa ibadah kita kepada Allah tidak akan diterima, jika tidak disertai dengan berbuat baik kepada kedua orang tua. Apabila kita tidak memiliki kebaikan ini, maka bersamaan dengannya akan hilang ketakwaan, keimanan, dan keislaman. Dan Akhlak kepada sesama manusia yang paling utama kepada kedua orang tua, berakhlak kepada mereka adalah dengan berbakti kepada keduanya, baik ketika hidup aupun setelah wafatnya, sebagimana hadits Nabi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ أَبِي أُسَيْدٍ مَالِكِ بْنِ رَبِيعَةَ السَّاعِدِيِّ قَالَ بَيْنَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ بَنِي سَلَمَةَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ بَقِيَ مِنْ بِرِّ أَبَوَيَّ شَيْءٌ أَبَرُّهُمَا بِهِ بَعْدَ مَوْتِهِمَا قَالَ نَعَمْ الصَّلَاةُ عَلَيْهِمَا وَالِاسْتِغْفَارُ لَهُمَا وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا مِنْ بَعْدِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا تُوصَلُ إِلَّا بِهِمَا وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا(رواه ابو داود)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Usaid Malik bin Rabi’ah As-Sa’idy berkata : “Tatkala kami sedngan bersama Rasulullah SAW, tiba-tiba datang seseorang dari Bani Salamah seraya bertanya : “Ya Rasulallah apakah masih ada kesempatan untuk saya berbakti kepada Ibu Bapak saya setekah keduanya wafat?” Nabi menjawab : “Ya, dengan mendoakan keduanya, memohon ampun unyuknya, melaksanakan janjinya dan menyambung silaturrahmi dari sanak saudarnya serta memuliakan teman-temannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Ihsan kepada kerabat karib.&lt;br /&gt;Ihsan kepada kerabat adalah dengan jalan membangun hubungan yang baik dengan mereka, bahkan Allah SWT menyamakan seseorang yang memutuskan hubungan silatuhrahmi dengan perusak dimuka bumi. Allah berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan dimuka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan.?” (Muhammad: 22)&lt;br /&gt;Silaturahmi adalah kunci untuk mendapatkan keridhaan Allah. Hal ini dikarenakan sebab paling utama terputusnya hubungan seorang hamba dengan Tuhannya adalah karena terputusnya hubungan silaturahmi. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَنَا اللَّهُ وَأَنَا الرَّحْمَنُ خَلَقْتُ الرَّحِمَ وَشَقَقْتُ لَهَا مِنْ اسْمِي فَمَنْ وَصَلَهَا وَصَلْتُهُ وَمَنْ قَطَعَهَا بَتَتُّهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku adalah Allah, Aku adalah Rahman, dan Aku telah menciptakan rahim yang Kuberi nama bagian dari nama-Ku. Maka, barangsiapa yang menyambungnya, akan Ku sambungkan pula baginya dan barangsiapa yang memutuskannya, akan Ku putuskan hubunganku dengannya.” (HR. Turmuzdi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits lain, Rasulullah bersabda, “Tidak akan masuk surga, orang yang memutuskan tali silaturahmi.” (HR. Syaikahni dan Abu Dawud)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, Ihsan kepada anak yatim dan fakir miskin.&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Bukhari, Abu Dawud, dan Turmuzdi, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Aku dan orang yang memelihara anak yatim di surga kelak akan seperti ini…(seraya menunjukkan jari telunjuk jari tengahnya).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Turmuzdi, Nabi saw. Bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَبَضَ يَتِيمًا مِنْ بَيْنِ الْمُسْلِمِينَ إِلَى طَعَامِهِ وَشَرَابِهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ إِلَّا أَنْ يَعْمَلَ ذَنْبًا لَا يُغْفَرُ لَهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu Abbas bahwasanya Nabi SAW bersabda : “Barangsiapa—dari Kaum Muslimin—yang memelihara anak yatim dengan memberi makan dan minumnya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga selamanya, selama ia tidak melakukan dosa yang tidak terampuni.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, Ihsan kepada tetangga dekat,  tetangga jauh, serta teman sejawat.&lt;br /&gt;Ihsan kepada tetangga dekat meliputi tetangga dekat dari kerabat atau tetangga yang berada di dekat rumah, serta  tetangga jauh, baik jauh karena nasab maupun yang berada jauh dari rumah.&lt;br /&gt;Adapun yang dimaksud teman sejawat adalah yang berkumpul dengan kita atas dasar pekerjaan, pertemanan, teman sekolah atau kampus, perjalanan, ma’had,  dan sebagainya. Mereka semua masuk ke dalam katagori tetangga. Seorang tetangga kafir mempunyai hak sebagai tetangga saja, tetapi tetangga muslim mempunyai dua hak, yaitu sebagai tetangga dan sebagai muslim, sedang tetangga muslim dan kerabat mempunyai tiga hak, yaitu sebagai tetangga, sebagai muslim dan sebagai kerabat. Rasulullah saw. menjelaskan hal ini dalam sabdanya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يُسْلِمُ عَبْدٌ حَتَّى يَسْلَمَ قَلْبُهُ وَلِسَانُهُ وَلَا يُؤْمِنُ حَتَّى يَأْمَنَ جَارُهُ بَوَائِقَهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abdullah bin Mas’ud RA berkata, bersabda Rasulullah SAW : Demi Yang jiwaku berada di tangan-NYA tidaklah selamat seorang hamba sampai hati dan lisannya selamat (tidak berbuat dosa) dan tidaklah beriman (sempurna keimanannya) seorang hamba sehingga tetangganya merasa aman dari gangguannya. (HR.Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hadits yang lain, Rasulullah bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لاَ يُؤْمِنُ بِي مَنْ باَتَ شَبْعَانًا وَ جَارُهُ جَا ئِعٌ وَهُوَ يَعْرِفُهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak beriman kepadaku barangsiapa yang kenyang pada suatu malam, sedangkan tetangganya kelaparan, padahal ia megetahuinya.”(HR. ath-Thabrani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, Ihsan kepada ibnu sabil dan hamba sahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw. bersabda mengenai hal ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;َمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah memuliakan tamunya.” (HR. Jama’ah, kecuali Nasa’i)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, ihsan terhadap ibnu sabil adalah dengan cara memenuhi kebutuhannya, menjaga hartanya, memelihara kehormatannya, menunjukinya jalan jika ia meminta, dan memberinya pelayanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَمْ أَعْفُو عَنْ الْخَادِمِ فَصَمَتَ عَنْهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَمْ أَعْفُو عَنْ الْخَادِمِ فَقَالَ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعِينَ مَرَّةً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada riwayat yang lain, dikatakan bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw. dan berkata, “Ya, Rasulullah, berapa kali saya harus memaafkan hamba sahayaku?” Rasulullah diam tidak menjawab. Orang itu berkata lagi, “Berapa kali ya, Rasulullah?” Rasul menjawab, “Maafkanlah ia tujuh puluh kali dalam sehari.” (HR. Abu Daud dan at-Turmuzdi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِذَا صَنَعَ لِأَحَدِكُمْ خَادِمُهُ طَعَامَهُ ثُمَّ جَاءَهُ بِهِ وَقَدْ وَلِيَ حَرَّهُ وَدُخَانَهُ فَلْيُقْعِدْهُ مَعَهُ فَلْيَأْكُلْ فَإِنْ كَانَ الطَّعَامُ مَشْفُوهًا قَلِيلًا فَلْيَضَعْ فِي يَدِهِ مِنْهُ أُكْلَةً أَوْ أُكْلَتَيْنِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat yang lain, Rasulullah saw bersabda, “Jika seorang hamba sahaya membuat makanan untuk salah seorang diantara kamu, kemudian ia datang membawa makanan itu dan telah merasakan panas dan asapnya, maka hendaklah kamu mempersilahkannya duduk dan makan bersamamu. Jika ia hanya makan sedikit, maka hendaklah kamu mememberinya satu atau dua suapan.” (HR. Bukhari, Turmuzdi, dan Abi Daud)&lt;br /&gt;Adapun muamalah terhadap pembantu atau karyawan dilakukan dengan membayar gajinya sebelum keringatnya kering, tidak membebaninya dengan sesuatu yang ia tidak sanggup melakukannya, menjaga kehormatannya, dan menghargai pridainya. Jika ia pembantu rumah tangga, maka hendaklah ia diberi makan dari apa yang kita makan, dan diberi pakaian dari apa yang kita pakai.&lt;br /&gt;Pada akhir pembahasan mnegenai bab muamalah ini, Allah SWT  menutupnya firman-Nya yang berbunyi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari nikmat.” (al-Hajj: 38)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat di atas merupakan isyarat yang sangat jelas kepada siapa saja yang tidak berlaku ihsan. Bahkan, hal itu adalah pertanda bahwa dalam dirinya ada kecongkakan dan kesombongan, dua sifat yang sangat dibenci oleh Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam, Ihsan dengan perlakuan dan ucapan yang baik kepada manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا اَوْ لِيَصْمُتْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Kiamat, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih riwayat dari Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda   :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قَوْلُ اْلمَعْرُوْفِ صَدَقَةٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ucapan yang baik adalah sedekah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Bagi manusia secara umum, hendaklah kita melembutkan ucapan, saling menghargai dalam pergaulan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegahnya dari kemungkaran, menunjukinya jalan jika ia tersesat, mengajari mereka yang bodoh, mengakui hak-hak mereka, dan tidak mengganggu mereka dengan tidak melakukan hal-hal dapat mengusik serta melukai mereka.Ketujuh, Ihsan dengan berlaku baik kepada binatang.&lt;br /&gt;      Berbuat ihsan terhadap binatang adalah dengan memberinya makan jika  ia lapar, mengobatinya jika ia sakit, tidak membebaninya diluar kemampuannya, tidak menyiksanya jika ia bekerja, dan mengistirahatkannya jika ia lelah. Bahkan, pada saat menyembelih, hendaklah dengan menyembelihnya dengan cara yang baik, tidak menyiksanya, serta menggunakan pisau yang tajam.&lt;br /&gt;      Inilah sisi-sisi  ihsan yang datang dari nash Al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      ·  Beberapa contoh ihsan dalam hal muamalah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Perang Uhud, orang-orang Quraisy membunuh paman Rasulullah saw, yaitu Hamzah. Mereka mencincang tubuhnya, membelah dadanya, serta memecahkan giginya, kemudian seorang sahabat meminta Rasulullah saw.  berdoa agar mereka diazab oleh Allah. Akan tetapi, Rasulullah malah berkata   :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اَلَّلهُمَّ اهْدِ قَوْ مِيْ فَاِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah, ampunilah mereka, karena mereka adalah kaum yang bodoh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh kedua, suatu hari, Umar bin Abdul Aziz berkata kepada hamba sahaya perempuannya, “Kipasilah aku sampai aku tertidur.” Lalu, hambanya pun  mengipasinya sampai ia tertidur. Karena sangat mengantuk, sang hamba pun tertidur. Ketika Umar bangun,  beliau mengambil kipas tadi dan mengipasi hamba sahayanya. Ketika hamba sahaya itu terbangun, maka ia pun berteriak  menyaksikan tuannya melakukan hal tersebut. Umar kemudian berkata, “Engkau adalah manusia biasa seperti diriku dan mendapatkan kebaikan seperti halnya aku, maka aku pun melakukan hal ini kepadamu,  sebagaimana engkau melakukannya padaku”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C.  Akhlak&lt;br /&gt;Ihsan dalam akhlak sesungguhnya merupakan buah dari ibadah dan muamalah. Seseorang akan mencapai tingkat ihsan dalam akhlaknya apabila ia telah melakukan ibadah seperti yang menjadi harapan Rasulullah dalam hadits yang telah dikemukakan di awal tulisan ini, yaitu menyembah Allah seakan-akan melihat-Nya, dan jika kita tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah senantiasa melihat kita. Jika hal ini telah dicapai oleh seorang hamba, maka sesungguhnya itulah puncak ihsan dalam ibadah. Pada akhirnya, ia akan berbuah menjadi akhlak atau perilaku, sehingga mereka yang sampai pada tahap ihsan dalam ibadahnya akan terlihat jelas dalam perilaku dan karakternya.&lt;br /&gt;Jika kita ingin melihat nilai ihsan pada diri seseorang—yang diperoleh dari hasil maksimal ibadahnya, maka kita akan menemukannya dalam muamalah kehidupannya. Bagaimana ia bermuamalah dengan sesama manusia, lingkungannya,  pekerjaannya, keluarganya, dan bahkan terhadap dirinya sendiri. Berdasarkan ini semua, maka Rasulullah saw. mengatakan dalam sebuah hadits   :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ اْلأَ خْلَاقِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku diutus hanyalah demi menyempurnakan akhlak yang mulia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ihsan adalah puncak prestasi dalam ibadah, muamalah, dan akhlak. Oleh karena itu, semua orang yang menyadari akan hal ini tentu akan berusaha dengan seluruh potensi diri yang dimilikinya agar sampai pada tingkat tersebut. Siapa pun kita, apa pun profesi kita, dimata Allah tidak ada yang lebih mulia dari yang lain, kecuali mereka yang telah naik ketingkat ihsan dalam seluruh sisi dan nilai hidupnya. Semoga kita semua dapat mencapai hal ini, sebelum Allah SWT mengambil ruh ini dari kita. Wallahu a’lam bish-shawwab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2606071805279753426-2841105225371364706?l=tarbiyahilalhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/feeds/2841105225371364706/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2009/12/ihsan-berbuat-yang-terbaik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/2841105225371364706'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/2841105225371364706'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2009/12/ihsan-berbuat-yang-terbaik.html' title='Ihsan, Berbuat Yang Terbaik'/><author><name>Dhany</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06267143366179759089</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sy2ltTN_HwI/AAAAAAAAADI/ubrHlxmxRnw/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/SzojOubWdKI/AAAAAAAAAEI/54uMkOE-gUo/s72-c/bunga-di-es2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2606071805279753426.post-6687746009933098469</id><published>2009-12-29T07:31:00.000-08:00</published><updated>2009-12-29T07:35:47.875-08:00</updated><title type='text'>Tiga Langkah Menjadi Manusia Terbaik</title><content type='html'>Ada hadits pendek namun sarat makna dikutip Imam Suyuthi dalam bukunya Al-Jami’ush Shaghir. Bunyinya, “Khairun naasi anfa’uhum linnaas.” Terjemahan bebasnya: sebaik-baik manusia adalah siapa yang paling banyak bermanfaat bagi orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Derajat hadits ini ini menurut Imam Suyuthi tergolong hadits hasan. Syeikh Nasiruddin Al-Bani dalam bukunya Shahihul Jami’ush Shagir sependapat dengan penilaian Suyuthi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah aksioma bahwa manusia itu makhluk sosial. Tak ada yang bisa membantah. Tidak ada satu orangpun yang bisa hidup sendiri. Semua saling berketergantungan. Saling membutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena saling membutuhkan, pola hubungan seseorang dengan orang lain adalah untuk saling mengambil manfaat. Ada yang memberi jasa dan ada yang mendapat jasa. Si pemberi jasa mendapat imbalan dan penerima jasa mendapat manfaat. Itulah pola hubungan yang lazim. Adil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ada orang yang mengambil terlalu banyak manfaat dari orang lain dengan pengorbanan yang amat minim, naluri kita akan mengatakan itu tidak adil. Orang itu telah berlaku curang. Dan kita akan mengatakan seseorang berbuat jahat ketika mengambil banyak manfaat untuk dirinya sendiri dengan cara yang curang dan melanggar hak orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah hati sanubari kita, selalu menginginkan pola hubungan yang saling ridho dalam mengambil manfaat dari satu sama lain. Jiwa kita akan senang dengan orang yang mengambil manfaat bagi dirinya dengan cara yang baik. Kita anggap seburuk-buruk manusia orang yang mengambil manfaat banyak dari diri kita dengan cara yang salah. Apakah itu menipu, mencuri, dan mengambil paksa, bahkan dengan kekerasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun yang luar biasa adalah orang lebih banyak memberi dari mengambil manfaat dalam berhubungan dengan orang lain. Orang yang seperti ini kita sebut orang yang terbaik di antara kita. Dermawan. Ikhlas. Tanpa pamrih. Tidak punya vested interes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang selalu menebar kebaikan dan memberi manfaat bagi orang lain adalah sebaik-baik manusia. Kenapa Rasulullah saw. menyebut seperti itu? Setidaknya ada empat alasan. Pertama, karena ia dicintai Allah swt. Rasulullah saw. pernah bersabda yang bunyinya kurang lebih, orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Siapakah yang lebih baik dari orang yang dicintai Allah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan kedua, karena ia melakukan amal yang terbaik. Kaidah usul fiqih menyebutkan bahwa kebaikan yang amalnya dirasakan orang lain lebih bermanfaat ketimbang yang manfaatnya dirasakan oleh diri sendiri. Apalagi jika spektrumnya lebih luas lagi. Amal itu bisa menyebabkan orang seluruh negeri merasakan manfaatnya. Karena itu tak heran jika para sahabat ketika ingin melakukan suatu kebaikan bertanya kepada Rasulullah, amal apa yang paling afdhol untuk dikerjakan. Ketika musim kemarau dan masyarakat kesulitan air, Rasulullah berkata membuat sumur adalah amal yang paling utama. Saat seseorang ingin berjihad sementara ia punya ibu yang sudah sepuh dan tidak ada yang merawat, Rasulullah menyebut berbakti kepada si ibu adalah amal yang paling utama bagi orang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, karena ia melakukan kebaikan yang sangat besar pahalanya. Berbuat sesuatu untuk orang lain besar pahalanya. Bahkan Rasulullah saw. berkata, “Seandainya aku berjalan bersama saudaraku untuk memenuhi suatu kebutuhannya, maka itu lebih aku cintai daripada I;tikaf sebulan di masjidku ini.” (Thabrani). Subhanallah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, memberi manfaat kepada orang lain tanpa pamrih, mengundang kesaksian dan pujian orang yang beriman. Allah swt. mengikuti persangkaan hambanya. Ketika orang menilai diri kita adalah orang yang baik, maka Allah swt. menggolongkan kita ke dalam golongan hambanya yang baik-baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu ketika lewat orang membawa jenazah untuk diantar ke kuburnya. Para sahabat menyebut-nyebut orang itu sebagai orang yang tidak baik. Kemudian lewat lagi orang-orang membawa jenazah lain untuk diantar ke kuburnya. Para sahabat menyebut-nyebut kebaikan si mayit. Rasulullah saw. membenarkan. Seperti itu jugalah Allah swt. Karena itu di surat At-Taubah ayat 105, Allah swt. menyuruh Rasulullah saw. untuk memerintahkan kita, orang beriman, untuk beramal sebaik-baiknya amal agar Allah, Rasul, dan orang beriman menilai amal-amal kita. Di hari akhir, Rasul dan orang-orang beriman akan menjadi saksi di hadapan Allah bahwa kita seperti yang mereka saksikan di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk bisa menjadi orang yang banyak memberi manfaat kepada orang lain, kita perlu menyiapkan beberapa hal dalam diri kita. Pertama, tingkatkan derajat keimanan kita kepada Allah swt. Sebab, amal tanpa pamrih adalah amal yang hanya mengharap ridho kepada Allah. Kita tidak meminta balasan dari manusia, cukup dari Allah swt. saja balasannya. Ketika iman kita tipis terkikis, tak mungkin kita akan bisa beramal ikhlas Lillahi Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika iman kita memuncak kepada Allah swt., segala amal untuk memberi manfaat bagi orang lain menjadi ringan dilakukan. Bilal bin Rabah bukanlah orang kaya. Ia hidup miskin. Namun kepadanya, Rasulullah saw. memerintahkan untuk bersedekah. Sebab, sedekah tidak membuat rezeki berkurang. Begitu kata Rasulullah saw. Bilal mengimani janji Rasulullah saw. itu. Ia tidak ragu untuk bersedekah dengan apa yang dimiliki dalam keadaan sesulit apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, untuk bisa memberi manfaat yang banyak kepada orang lain tanpa pamrih, kita harus mengikis habis sifat egois dan rasa serakah terhadap materi dari diri kita. Allah swt. memberi contoh kaum Anshor. Lihat surat Al-Hasyr ayat 9. Merekalah sebaik-baik manusia. Memberikan semua yang mereka butuhkan untuk saudara mereka kaum Muhajirin. Bahkan, ketika kaum Muhajirin telah mapan secara financial, tidak terbetik di hati mereka untuk meminta kembali apa yang pernah mereka beri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ketiga, tanamkan dalam diri kita logika bahwa sisa harta yang ada pada diri kita adalah yang telah diberikan kepada orang lain. Bukan yang ada dalam genggaman kita. Logika ini diajarkan oleh Rasulullah saw. kepada kita. Suatu ketika Rasulullah saw. menyembelih kambing. Beliau memerintahkan seoran sahabat untuk menyedekahkan daging kambing itu. Setelah dibagi-bagi, Rasulullah saw. bertanya, berapa yang tersisa. Sahabat itu menjawab, hanya tinggal sepotong paha. Rasulullah saw. mengoreksi jawaban sahabat itu. Yang tersisa bagi kita adalah apa yang telah dibagikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah. Yang tersisa adalah yang telah dibagikan. Itulah milik kita yang hakiki karena kekal menjadi tabungan kita di akhirat. Sementara, daging paha yang belum dibagikan hanya akan menjadi sampah jika busuk tidak sempat kita manfaatkan, atau menjadi kotoran ketika kita makan. Begitulah harta kita. Jika kita tidak memanfaatkannya untuk beramal, maka tidak akan menjadi milik kita selamanya. Harta itu akan habis lapuk karena waktu, hilang karena kematian kita, dan selalu menjadi intaian ahli waris kita. Maka tak heran jika dalam sejarah kita melihat bahwa para sahabat dan salafussaleh enteng saja menginfakkan uang yang mereka miliki. Sampai sampai tidak terpikirkan untuk menyisakan barang sedirham pun untuk diri mereka sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, kita akan mudah memberi manfaat tanpa pamrih kepada orang lain jika dibenak kita ada pemahaman bahwa sebagaimana kita memperlakukan seperti itu jugalah kita akan diperlakukan. Jika kita memuliakan tamu, maka seperti itu jugalah yang akan kita dapat ketika bertamu. Ketika kita pelit ke tetangga, maka sikap seperti itu jugalah yang kita dari tetangga kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, untuk bisa memberi, tentu Anda harus memiliki sesuatu untuk diberi. Kumpulkan bekal apapun bentuknya, apakah itu finansial, pikiran, tenaga, waktu, dan perhatian. Jika kita punya air, kita bisa memberi minum orang yang harus. Jika punya ilmu, kita bisa mengajarkan orang yang tidak tahu. Ketika kita sehat, kita bisa membantu beban seorang nenek yang menjinjing tak besar. Luangkan waktu untuk bersosialisasi, dengan begitu kita bisa hadir untuk orang-orang di sekitar kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-muhan yang sedikit ini bisa menginspirasi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2606071805279753426-6687746009933098469?l=tarbiyahilalhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/feeds/6687746009933098469/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2009/12/tiga-langkah-menjadi-manusia-terbaik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/6687746009933098469'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/6687746009933098469'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2009/12/tiga-langkah-menjadi-manusia-terbaik.html' title='Tiga Langkah Menjadi Manusia Terbaik'/><author><name>Dhany</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06267143366179759089</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sy2ltTN_HwI/AAAAAAAAADI/ubrHlxmxRnw/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2606071805279753426.post-515260532505350998</id><published>2009-12-28T07:05:00.001-08:00</published><updated>2009-12-28T07:05:41.827-08:00</updated><title type='text'>Mengenal Ilmu Tauhid</title><content type='html'>Apakah ilmu tauhid itu? Ilmu tauhid adalah ilmu yang membahas pengokohan keyakinan-keyakinan agama Islam dengan dalil-dalil naqli maupun aqli yang pasti kebenarannya sehingga dapat menghilangkan semua keraguan, ilmu yang menyingkap kebatilan orang-orang kafir, kerancuan dan kedustaan mereka. Dengan ilmu tauhid ini, jiwa kita akan kokoh, dan hati pun akan tenang dengan iman. Dinamakan ilmu tauhid karena pembahasan terpenting di dalamnya adalah tentang tauhidullah (mengesakan Allah). Allah swt. berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَفَمَن يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَى إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُواْ الأَلْبَابِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar, sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran.” (Ar-Ra’d: 19)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bidang Pembahasan Ilmu Tauhid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa saja yang dibahas? Ilmu tauhid membahas enam hal, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Iman kepada Allah, tauhid kepada-Nya, dan ikhlash beribadah hanya untuk-Nya tanpa sekutu apapun bentuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Iman kepada rasul-rasul Allah para pembawa petunjuk ilahi, mengetahui sifat-sifat yang wajib dan pasti ada pada mereka seperti jujur dan amanah, mengetahui sifat-sifat yang mustahil ada pada mereka seperti dusta dan khianat, mengetahui mu’jizat dan bukti-bukti kerasulan mereka, khususnya mu’jizat dan bukti-bukti kerasulan Nabi Muhammad saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Iman kepada kitab-kitab yang diturunkan Allah kepada para nabi dan rasul sebagai petunjuk bagi hamba-hamba-Nya sepanjang sejarah manusia yang panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Iman kepada malaikat, tugas-tugas yang mereka laksanakan, dan hubungan mereka dengan manusia di dunia dan akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Iman kepada hari akhir, apa saja yang dipersiapkan Allah sebagai balasan bagi orang-orang mukmin (surga) maupun orang-orang kafir (neraka).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Iman kepada takdir Allah yang Maha Bijaksana yang mengatur dengan takdir-Nya semua yang ada di alam semesta ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah swt berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللّهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya.” (Al-Baqarah: 285)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw. ditanya tentang iman, beliau menjawab,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iman adalah engkau membenarkan dan meyakini Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan taqdir baik maupun buruk.” (HR. Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedudukan Ilmu Tauhid di Antara Semua Ilmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemuliaan suatu ilmu tergantung pada kemulian tema yang dibahasnya. Ilmu kedokteran lebih mulia dari teknik perkayuan karena teknik perkayuan membahas seluk beluk kayu sedangkan kedokteran membahas tubuh manusia. Begitu pula dengan ilmu tauhid, ini ilmu paling mulia karena objek pembahasannya adalah sesuatu yang paling mulia. Adakah yang lebih agung selain Pencipta alam semesta ini? Adakah manusia yang lebih suci daripada para rasul? Adakah yang lebih penting bagi manusia selain mengenal Rabb dan Penciptanya, mengenal tujuan keberadaannya di dunia, untuk apa ia diciptakan, dan bagaimana nasibnya setelah ia mati?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi ilmu tauhid adalah sumber semua ilmu-ilmu keislaman, sekaligus yang terpenting dan paling utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, hukum mempelajari ilmu tauhid adalah fardhu ‘ain bagi setiap muslim dan muslimah sampai ia betul-betul memiliki keyakinan dan kepuasan hati serta akal bahwa ia berada di atas agama yang benar. Sedangkan mempelajari lebih dari itu hukumnya fardhu kifayah, artinya jika telah ada yang mengetahui, yang lain tidak berdosa. Allah swt. berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Haq) melainkan Allah.” (Muhammad: 19)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Quran adalah Kitab Tauhid Terbesar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya pembahasan utama Al-Quran adalah tauhid. Kita tidak akan menemukan satu halaman pun yang tidak mengandung ajakan untuk beriman kepada Allah, rasul-Nya, atau hari akhir, malaikat, kitab-kitab yang diturunkan Allah, atau taqdir yang diberlakukan bagi alam semesta ini. Bahkan dapat dikatakan bahwa hampir seluruh ayat Al-Quran yang diturunkan sebelum hijrah (ayat-ayat Makkiyyah) berisi tauhid dan yang terkait dengan tauhid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu tak heran masalah tauhid menjadi perhatian kaum muslimin sejak dulu, sebagaimana masalah ini menjadi perhatian Al-Quran. Bahkan, tema tauhid adalah tema utama dakwah mereka. Umat Islam sejak dahulu berdakwah mengajak orang kepada agama Allah dengan hikmah dan pelajaran yang baik. Mereka mendakwahkan bukti-bukti kebenaran akidah Islam agar manusia mau beriman kepada akidah yang lurus ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi seorang muslim, akidah adalah segala-galanya. Tatkala umat Islam mengabaikan akidah mereka yang benar -yang harus mereka pelajari melalui ilmu tauhid yang didasari oleh bukti-bukti dan dalil yang kuat– mulailah kelemahan masuk ke dalam keyakinan sebagian besar kaum muslimin. Kelemahan akidah akan berakibat pada amal dan produktivitas mereka. Dengan semakin luasnya kerusakan itu, maka orang-orang yang memusuhi Islam akan mudah mengalahkan mereka. Menjajah negeri mereka dan menghinakan mereka di negeri mereka sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah membuktikan bahwa umat Islam generasi awal sangat memperhatikan tauhid sehingga mereka mulia dan memimpin dunia. Sejarah juga mengajarkan kepada kita, ketika umat Islam mengabaikannnya akidah, mereka menjadi lemah. Kelemahan perilaku dan amal umat Islam telah memberi kesempatan orang-orang kafir untuk menjajah negeri dan tanah air umat Islam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2606071805279753426-515260532505350998?l=tarbiyahilalhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/feeds/515260532505350998/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2009/12/mengenal-ilmu-tauhid.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/515260532505350998'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/515260532505350998'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2009/12/mengenal-ilmu-tauhid.html' title='Mengenal Ilmu Tauhid'/><author><name>Dhany</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06267143366179759089</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sy2ltTN_HwI/AAAAAAAAADI/ubrHlxmxRnw/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2606071805279753426.post-8803671368184646828</id><published>2009-12-28T06:52:00.000-08:00</published><updated>2009-12-28T06:54:47.196-08:00</updated><title type='text'>Khawarij dan Sifat-sifatnya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/SzjGjSb4GcI/AAAAAAAAAEA/-rGpCmbFWWc/s1600-h/al-quran1.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 250px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/SzjGjSb4GcI/AAAAAAAAAEA/-rGpCmbFWWc/s400/al-quran1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5420300461086874050" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Surat-surat yang pertama turun adalah yang berkaitan dengan masalah aqidah. Oleh karena itu untuk memahami bagaimana Rasulullah saw. memahami aqidah, kita harus benar-benar memahami ayat-ayat atau surat-surat Makiyah tersebut. Manhaj aqidah secara umum dibagi dua: manhaj yang benar lagi menyeluruh (المنهاج الصحيح الشامل) dan manhaj yang parsial (المنهاج الجزئ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebutkan dalam atsar yang diriwayatkan Abdullah bin Umar oleh Al‑Hakim bahwa generasi umat dibagi jadi dua: (1)‑ umat yang diberi keimanan terlebih dahulu, kemudian baru diberi Al Qur’an (2)‑ umat yang mengambil pelajaran Al‑Qur’an lebih dahulu sebelum didapatkan keimanan. Kemudian Atsar itu menyebutkan perilaku dari kedua kelompok generasi itu, dimana kelompok yang pertama terdiri dari para Salafushshaleh dan pembesar‑pembesar sahabat yang mengetahui yang diwajibkan dari yang dilarang dan alasannya; sementara kelompok yang kedua cuma pandai membaca Al‑Qur’an dengan lancar dan mengkhatamkannya dengan cepat tanpa tahu mana yang diperintahkan dan mana yang dilarang serta batasan‑batasannya. Pada akhirnya kedua kelompok ini melahirkan manhaj yang berbeda, dan dari kelompok yang kedualah munculnya Al‑Firaq Al‑Bathilah (aliran‑aliran yang sesat), di antaranya Al‑Khawarij.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan pembahasan Firaq Bathilah ini agar pada kita tidak terjadi Firaq ini, sebagaimana yang pernah ditanyakan oleh Hudzaifah bin Al‑Yaman dalam sebuah haditsnya yang panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كان الناس يسألون رسول الله (ص) عن الخير وكنت اسأله عن الشر مخافة أن يدركني&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang-orang biasanya bertanya kepada Rasulullah perihal kebaikan, tapi saya bertanya kepadanya perihal keburukan karena takut hal itu menimpa diriku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu pengetahuan tentang Firaq ini menjadi kebutuhan kita untuk memberi hujjah kepada orang-orang yang mungkin memiliki sikap‑sikap yang juz’i dan menyimpang dari Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AL-KHAWARIJ (الخوارج)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara bahasa kata khawarij berarti orang-orang yang telah keluar. Kata ini dipergunakan oleh kalangan Islam untuk menyebut sekelompok orang yang keluar dari barisan Ali ibn Abi Thalib r.a. karena kekecewaan mereka terhadap sikapnya yang telah menerima tawaran tahkim (arbitrase) dari kelompok Mu’awiyyah yang dikomandoi oleh Amr ibn Ash dalam Perang Shiffin (37H/657). Jadi, nama khawarij bukanlah berasal dari kelompok ini. Mereka sendiri lebih suka menamakan diri dengan Syurah atau para penjual, yaitu orang-orang yang menjual (mengorbankan) jiwa raga mereka demi keridhaan Allah, sesuai dengan firman Allah QS. Al-Baqarah (2):207. Selain itu, ada juga istilah lain yang dipredikatkan kepada mereka, seperti Haruriah, yang dinisbatkan pada nama desa di Kufah, yaitu Harura, dan Muhakkimah, karena seringnya kelompok ini mendasarkan diri pada kalimat “la hukma illa lillah” (tidak ada hukum selain hukum Allah), atau “la hakama illa Allah” (tidak ada pengantara selain Allah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara historis Khawarij adalah Firqah Bathil yang pertama muncul dalam Islarn sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Al‑Fatawa,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إبن تيمية: أول بدعة ظهورا في الإسلام بدعة الخوارج&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bid’ah yang pertama muncul dalam Islam adalah bid’ah Khawarij.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian hadits‑hadits yang berkaitan dengan firaq dan sanadnya benar adalah hadits‑hadits yang berkaitan dengan Khawarij scdang yang berkaitan dcngan Mu’tazilah dan Syi’ah atau yang lainnya hanya terdapat dalam Atsar Sahabat atau hadits lemah, ini menunjukkan begitu besarnya tingkat bahaya Khawarij dan fenomenanya yang sudah ada pada masa Rasulullah saw. Di samping itu Khawarij masih ada sampai sekarang baik secara nama maupun sebutan (laqob), secara nama masih terdapat di daerah Oman dan Afrika Utara sedangkan secara laqob berada di mana‑mana. Hal seperti inilah yang membuat pembahasan tcntang firqah Khawarij begitu sangat pentingnya apalagi buku‑buku yang membahas masalah ini masih sangat sedikit, apalagi Rasulullah saw. menyuruh kita agar berhati‑hati terhadap firqah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta munculnya Khawarij bukanlah pada masa Ali r.a. sebagaimana sebagian para ahli sejarah menyebutkan, tapi sudah muncul pada masa Utsman r.a. baik secara ajaran maupun dalam bentuk aksi nyata. Buku sejarah banyak menyebutkan ini seperti buku sejarahnya Imam At‑Thabari dan Ibnu Katsir. Dalam buku tersebut orang yang memberontak kepada Utsman r.a. disebut Khawarij. Hal ini dikuatkan oleh fakta sejarah berikutnya dimana mereka berhasil membunuh Utsman r.a. Kemudian umat Islam membai’at Ali r.a. termasuk sebagian besar orang‑orang yang telah membunuh Utsman r.a. Sementara itu Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Aisyah, dan sahabat yang lain keluar dan menuntut pembelaan terhadap Utsman r.a. Ali r.a. berkata, “Saya setuju dengan pendapat Anda, tapi mereka sangat banyak dan bercampur dalam pasukan kami.” Ali r.a. menghendak masalah Khalifah diselesaikan dahulu baru menyelesaikan orang‑orang yang membunuh Utsman. Kemudian antara pihak Ali r.a. dan Aisyah r.a. sudah terjadi kesepakatan bahwa mereka tidak akan berperang kecuali untuk menuntut pembunuh Utsman, tapi orang‑orang yang membunuh Utsman membuat fitnah lagi dalam Perang Jamal. Mereka memisahkan diri jadi dua, sebagian bersama Ali dan sebagian bersama Aisyah; dan mereka berdua saling melempar lembing, dan satu sama lain mengatakan bahwa Ali telah berkhianat dan Aisyah telah berkhianat, maka terjadilah apa yang terjadi dalam Perang Jamal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu terjadi peperangan antara Ali r.a. dengan Muawiyah r.a., mereka juga bersama Ali dalam suatu peperangan yang terkenal dalam sejarah disebut Perang Shiffin. Dalam buku‑buku tarikh Syi’ah juga ditulis dalam buku‑buku tarikh Sunnah, disebutkan ada pihak ketiga yang netral di antaranya Abdullah bin Umar, Abu Musa Al‑Asyari, Zaid bin Tsabit, dan yang lainnya yang mencoba mengadakan ishlah pada keduanya dan mempertemukan keduanya. Terjadilah suatu dialog antara utusan Ali r.a. dengan Muawiyah bin Abi Sofyan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah Anda memerangi Ali karena Anda ingin menjadi khalifah?” Muawiyah berkata, “Saya tahu diri saya. Saya tahu diri saya jauh di bawah Ali, dan tidak ada dalam benak saya keinginan untuk menjadi khalifah. Saya keluar berperang untuk menuntut darah Utsman.” “Apa betul Anda tidak ingin menjadi khalifah?” Berkata Muawiyah, “Andaikata Ali menyerahkan siapa pembunuh Utsman niscaya saya orang yang pertama berbai’at.” Akantetapi suasana dikacaukan oleh orang‑orang tadi yang akhirnya terjadi Perang Shifiin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pihak Muawiyah hampir kalah, atas usulan Amru bin Al‑Ash untuk meletakkan mushaf di pucuk pedang sebagai tanda ingin berunding. Ali r.a. tahu bahwa ini tipu daya tetapi orang‑orang Khawarij meminta Ali untuk menerimanya bahkan memaksa dan mengancam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لئن أتيت لنفعلنّ بك كما فعلنا بعثمان لنقتلنك كما قتلنا عثمان&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika engkau menolak, kami akan memperlakukan Anda sebagaimana kami memperlakukan Utsman dan kami akan membunuh Anda sebagaimana kami telah membunuh Utsman.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Ali r.a. menerima dengan terpaksa, kemudian menyuruh panglima perangnya Asytar An‑Nakha’i untuk menerima tahkim. Tapi Asytar juga keberatan atas perintah itu karena ia tahu benar unsur tipuannya sangat besar. Namun, lagi‑lagi orang‑orang Khawarij memaksa Asytar dan mengatakan apa yang dikatakan kepada Ali r.a., maka Asytar pun menerima tahkim itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Ali r.a. tahu bahwa pihak Muawiyah mengutus Amru bin Al‑Ash, seorang yang diketahui ahli diplomasi, maka Ali r.a. mengutus Abdullah bin Al‑Abbas. Tapi lagi‑lagi orang Khawarij membuat ulah dan berkata, “Kalau Anda mengutus Ibnu Abbas apa bedanya Anda dengan Utsman. Kami memerangi Utsman karena dia selalu mengangkat keluarganya sendiri. Sekarang Anda mengutus Ibnu Abbas, keponakan anda sendiri.” Mereka meminta yang menjadi utusan dari pihak Ali adalah Abu Musa Al‑Asy’ari, tokoh netral. Tapi Ali tahu kalau Abu Musa bukanlah orang yang cocok pada masalah ini, dia terlalu lugu (ikhlash). Mereka bersikeras dan mengancam Ali r.a., sampai dalam hal ini Ali berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كنت بالأمس أميرا وكنت اليوم مأمورا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dulu saya bisa memimpin tapi saya sekarang jadi dipimpin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian setelah acara tahkim usai dengan hasil yang sangat merugikan Ali r.a., permasalahan ternyata belum selesai. Orang Khawarij membuat ulah lagi dengan mengkafrkan Ali r.a. dengan berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كفرت لأنك حكمت رجالا في حكم الله, إن الحكم إلا لله&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anda telah kafir karena Anda telah menyerahkan urusan tahkim kepada orang dalam hukum Allah. Tiada yang berhak menghukum melainkan Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan mereka keluar dari pasukan Ali –jumlah mereka sebanyak 12.000 orang–, maka terpaksa Ali menghadapi mereka dan menyuruh Ibnu Abbas untuk berdiskusi dengan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena sikap Khawarij banyak terjadi sekarang dan biasa disebut Neokhawarijisme bahkan bisa jadi dekat dengan kita, apalagi hal itu telah diprediksi oleh Rasulullah saw. Ibnu Abbas ketika mengadakan dialog dengan mereka menyebutkan beberapa ciri‑ciri di antaranya: Mereka sangat wara’, pakaiannya sangat sederhana, muka mereka pucat karena jarang tidur malam, jidatnya hitam, telapak tangan dan kakinya kapalan, dan meraka disebut qura’ yaitu orang yang bagus bacaannya dan lama bila membaca Al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk melihat sifat‑sifat mereka lebih jauh, kita lihat hadits‑hadits Rasul saw. yang membicarakan hal ini, diantaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن أبي سعيد الخذري قال: بينما نحن عند رسول الله (ص) وهو يقسم قسما أتاه ذوالقويصرة وهو رجل من بني تميم فقال: يا رسول الله اعدل. قال رسول الله (ص) ويلك ومن يعدل إن لم اعدل؟ قد خبتُ وخسرتُ إن لم اعدل. فقال عمر بن خطاب (ض) يا رسول الله ائذن لي فيه اضرب عنقه. قال رسول الله (ص) دعه فإن له أصحابا يحقر أحدكم صلاته مع صلاتهم وصيامه مع صيامهم يقرئون القران لا يجاوز تراقيهم ويمرقون من الإسلام كما يمرق السهم من الرمية&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abi Said Al‑Khudry berkata, Tatkala kami bersama Rasulullah saw. dan beliau sedang membagikan ghanimah, datang Dzul Khuwaishirah salah seorang dari Bani Tamim dan berkata, “Wahai Rasulullah berbuat adillah!” Berkata Rasulullah saw., “Celaka! Siapa yang akan berbuat adil jika saya tidak berbuat adil? Niscaya saya celaka dan binasa jika saya tidak adil.” Berkata Umar bin Khattab, “Wahai Rasulullah! Ijinkan saya memenggal lehernya.” Berkata Rasulullah saw., “Biarkanlah dia. Sesunggulinya dia mempunyai banyak teman, dirnana dianggap remeh shalat di antara kalian dibanding shalat mereka, puasa kalian dibanding puasa mereka, mereka membaca Al‑Qur’an tidak sampai kecuali pada tenggorokan mereka. Mereka keluar dari Islam sebagaimana lepasnya anak panah dari busur.” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada hari Hunain Rasulullah saw. mengutamakan sebagian manusia dalam pembagian ghanimah. Beliau memberi Al‑Aqra bin Habis Al‑Handhaly 100 unta, memberi Uyainah bin Badrul Fijary dengan jumlah yang serupa dan memberi para pembesar Arab, beliau mengutamakan mereka dalam pembagian. Maka berkata salah seorang, “Demi Allah, pembagian ini tidak adil dan tidak bertujuan untuk mencari ridha Allah!” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وفي رواية: إن من ضئضئ هذا قوما يقرئون القرآن لا يجاوز حناجرهم يقتلون أهل الإسلام ويدعون أهل الأوثان يمرقون الإسلام كما يمرق السهم من الرمية لئن أدركتهم لأقتلنهم قتل عاد&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat yang lain: “Sesungguhnya dari keturunan ini ada kaum yang membaca Al-Qur’an yang tidak sampai kecuali pada kerongkongan, mereka membunuh orang Islam dan membiarkan penyembah berhala, mereka keluar dari Islam sebagaimana lepasnya anak panah dari busurnya, jika saya menjumpai mereka pasti akan saya bunuh mereka seperti membunuh kaum Aad.” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;سيخرج في آخر الزمان قوم أحدث الأسنان سفهاء الأحلام&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akan keluar di akhir zaman suatu kaum yang usia mereka masih muda, dan bodoh, mereka mengatakan sebaik‑baiknya perkataan manusia, membaca Al‑Qur’an tidak sampai kecuali pada kerongkongan mereka. Mereka keluar dari din (agama Islam) sebagaimana anak panah keluar dan busurnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يخرج قوم من أمتي يقرئون القرآن يحسبون لهم وهو عليهم لاتجاوز صلاتهم تراقيهم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Suatu kaum dari umatku akan keluar membaca Al‑Qur’an, mereka mengira bacaan Al-Qur’an itu menolong dirinya padahal justru membahayakan dirinya. Shalat mereka tidak sampai kecuali pada kerongkongan mereka.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يحسنون القيل ويسيئون الفعل يدعون إلى كتاب الله وليسوا منه في شيء&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka baik dalam berkata tapi jelek dalam berbuat, mengajak untuk mengamalkan kitab Allah padahal mereka tidak menjalankannya sedikitpun.” (HR. Al-Hakim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لايزالون يخرجون حتى يخرج آخرهم مع المسيح الدجال&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka akan senantiasa keluar sampai pada yang terakhir bersama Al-Masih Ad-Dajjal. Jika kalian bertemu mereka, maka bunuhlah; merekalah sejelek-jelek penciptaan dan sejelek-jelek makhluk.” (HR. An-Nasa’i dan Al-Hakim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الخوارج كلاب أهل النار&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Al-Khawarij adalah anjingnya ahli neraka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hadits-hadits di atas dapat disimpulkan sifat-sifat, nilai, fenomena, dan kedudukan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat‑sifat Khawarij&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. Mencela dan Menyesatkan (الطعن والتضليل)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang‑orang Khawarij sangat mudah mencela dan menganggap sesat Muslim lain, bahkan Rasul saw. sendiri dianggap tidak adil dalam pembagian ghanimah. Kalau terhadap Rasul sebagai pemimpin umat berani berkata sekasar itu, apalagi terhadap Muslim yang lainnya, tentu dengan mudahnya mereka menganggap kafir. Mereka mengkafirkan Ali, Muawiyah, dan sahabat yang lain. Fenomena ini sekarang banyak bermunculan. Efek dari mudahnya mereka saling mengkafirkan adalah kelompok mereka mudah pecah disebabkan kesalahan kecil yang mereka perbuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Buruk Sangka (سوء الظن)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena sejarah membuktikan bahwa orang‑orang Khawarij adalah kaum yang paling mudah berburuk sangka. Mereka berburuk sangka kepada Rasulullah saw. bahwa beliau tidak adil dalam pembagian ghanimah, bahkan menuduh Rasulullah saw. tidak mencari ridha Allah. Mereka tidak cukup sabar menanyakan cara dan tujuan Rasulullah saw. melebihkan pembesar‑pembesar dibanding yang lainnya. Padahal itu dilakukan Rasulullah saw. dalam rangka dakwah dan ta’liful qulub. Mereka juga menuduh Utsman sebagai nepotis dan menuduh Ali tidak mempunyai visi kepemimpinan yang jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Berlebih‑lebihan dalam ibadah (المبالغة في العبادة)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini dibuktikan oleh kesaksian Ibnu Abbas. Mereka adalah orang yang sangat sederhana, pakaian mereka sampai terlihat serat‑seratnya karena cuma satu dan sering dicuci, muka mereka pucat karena jarang tidur malam, jidat mereka hitam karena lama dalam sujud, tangan dan kaki mereka ‘kapalan’. Mereka disebut quro’ karena bacaan Al-Qur’annya bagus dan lama. Bahkan Rasulullah saw. sendiri membandingkan ibadah orang‑orang Khawarij dengan sahabat yang lainnya, termasuk Umar bin Khattab, masih tidak ada apa‑apanya, apalagi kalau dibandingkan dengan kita. Ini menunjukkan betapa sangat berlebih‑lebihannya ibadah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Keras terhadap sesama Muslim dan memudahkan yang lainnya (التشدد على المسلمين والترخص على غيرهم)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits Rasulullah saw. menyebutkan bahwa mereka mudah membunuh orang Islam, tetapi membiarkan penyembali berhala. Ibnu Abdil Bar meriwayatkan, “Ketika Abdullah bin Habbab bin Al‑Art berjalan dengan isterinya bertemu dengan orang Khawarij dan mereka meminta kepada Abdullah untuk menyampaikan hadits‑hadits yang didengar dari Rasulullah saw., kemudian Abdullah menyampaikan hadits tentang terjadinya fitnah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;القاعد فيها خير من القائم والقائم فيها خير من الماشي&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang duduk pada waktu itu lebih baik dari yang berdiri, yang berdiri lebih baik dari yang berjalan….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bertanya, “Apakah Anda mendengar ini dari Rasulullah?” “Ya,” jawab Abdullah. Maka serta-merta mereka langsung memenggal Abdullah. Dan isterinya dibunuh dengan mengeluarkan janin dari perutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain tatkala mereka di kebun kurma dan ada satu biji kurma yang jatuh kemudian salah seorang dari mereka memakannya, tetapi setelah yang lain mengingatkan bahwa kurma itu bukan miliknya, langsung saja orang itu memuntahkan kurma yang dimakannya. Dan ketika mereka di Kuffah melihat babi langsung mereka bunuh, tapi setelah diingatkan bahwa babi itu milik orang kafir ahli dzimmah, langsung saja yang membunuh babi tadi mencari orang yang mempunyai babi tersebut, meminta maaf dan membayar tebusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Sedikit pengalamannya (قلة التجربة)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini digambarkan dalam hadits bahwa orang‑orang Khawarij umurnya masih muda‑muda yang hanya mempunyai bekal semangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Sedikit pemahamannya (قلة الفقه)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebutkan dalam hadits dengan sebutan Sufahaa-ul ahlaam (orang bodoh), berdakwah pada manusia untuk mengamalkan Al‑Qur’an dan kembali padanya, tetapi mereka sendiri tidak mengamalkannya dan tidak memahaminya. Merasa bahwa Al‑Qur’an akan menolongnya di akhirat, padahal sebaliknya akan membahayakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Nilai Khawarij&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang‑orang Khawarij keluar dari Islam sebagaimana yang disebutkan Rasulullah saw., “Mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah keluar dari busurnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Fenomena Khawarij&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka akan senantiasa ada sampai hari kiamat. “Mereka akan senantiasa keluar sampai yang terakhir keluar bersama Al‑Masih Ad‑Dajjal”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Kedudukan Khawarij&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedudukan mereka sangat rendah. Di dunia disebut sebagai seburuk-buruk makhluk dan di akhirat disebut sebagai anjing neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Sikap terhadap Khawarij&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw. menyuruh kita untuk membunuh jika menjumpai mereka. “Jika engkau bertemu dengan mereka, maka bunuhlah mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibroh (Pelajaran) yang kita dapat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Berhati‑hati supaya tidak terjatuh pada Khawarijisme (التخذير من الوقوع)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara sosial politik Khawarij bisa muncul kapan saja. Kemunculan pertama Khawarij dimulai dari ketidakpercayaan (‘adamuts tsiqah) sebagian mereka kepada pemimpin kaum Muslimin, yaitu Utsman bin Affan yang mereka anggap tidak adil, nepotisme, dan mengangkat orang‑orang dekatnya. Ditambah ada sosok lain yang tidak suka dengan Islam, yaitu Abdullah bin Saba, yang sangat besar pengaruhnya dalam memecah belah umat Islam. Melihat sejarah awal munculnya Khawarij, sekarang ini fenomena itu tampaknya ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bertaubat jika sudah terjatuh (الإنقاذ إن وَقَعَ)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah pun telah membuktikan banyak umat Islam yang sudah terjatuh pada fitnah Khawarijisme. Di Mesir pada tahun 60‑an banyak kelompok yang keluar dari jama’ah yang benar dan menuduh pemimpinnya lemah, bahkan menuduh sesama muslim sebagai kafir. Untuk menghadapi orang‑orang yang sudah terjatuh pada Khawarij minimal dibutuhkan tiga cara: (1) memilih orang yang cocok untuk menghadapi mereka, (2) cara yang benar, (3) memeranginya jika diperlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali, Ibnu Abbas, dan Umar bin Abdul Aziz dianggap orang yang cocok untuk menghadapi Khawarij disamping mereka bertiga memiliki ilmu yang dalam dan bijaksana serta pandai memilih cara yang tepat untuk menghadapi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat Ali r.a. menghadapi mereka, beliau bertanya, “Apa yang Anda rasa berat dari saya?” Mereka menjawab, “Karena Anda menyerahkan hak menghukum kepada manusia, padahal tidak ada yang berhak rnenghukum kecuali Allah.” Jawab Ali, “Apakah jika saya mendatangkan dengan dalil Al‑Qur’an kepada Anda, Anda akan kembali?” Mereka menjawab, “Kenapa tidak?” Maka Ali mengambil dalil dari Al‑Qur’an surat An‑Nisa ayat 35 yang artinya, “Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakim dari keluarga laki‑laki dan seorang hakim dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakim itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami istri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” “Kalau pada masalah pernikahan saja Allah membolehkan mengambil hakim dari manusia apalagi masalah Khilafah!” Maka sebanyak 4.000 orang dari Khawarij bertaubat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga Ibnu Abbas sebagai sosok yang mampu menghadapi orang‑orang Khawarij. Suatu saat Ali mengutusnya untuk menghadapi Khawarij, maka Ibnu Abbas bertanya pada mereka, “Hal apakah yang membuat Anda dendam kepada Ali?” Mereka menjawab, “Ada tiga, pertama, dalam hal agama Allah, Ali bertahkim pada manusia; kedua, ia berperang tapi tidak menawan pihak musuh dan tidak mengambil harta rarnpasan; ketiga, waktu bertahkim ia rela meninggalkan keamirannya.” Maka jawab lbnu Abbas, “Mengenai bertahkim pada manusia apa salahnya, kemudian beliau membacakan ayat 95 dari surat AI‑Maidah. Tentang ucapan Anda, ia berperang tidak melakukan penawanan, apakah Anda menghendaki agar Aisyah, istri Rasul saw., jadi tawanan? Adapun Ali menanggalkan kekhalifahannya, Ali mencontoh Rasulullah saw. pada saat perjaniian Hudaibiyah.” Demikianlah setelah Ibnu Abbas menyelesaikan dialognya dengan sangat bijaksana, sekitar 20.000 orang Khawarij bertaubat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga Umar bin Abdul Aziz melakukan yang serupa dimana pada masa daulah Bani Umayyah yang paling membahayakan adalah orang‑orang Khawarij. Bahkan daulah punya pasukan khusus untuk menghadapi mereka yang dipimpin oleh Al‑Muhalab bin Abi Shufroh. Suatu saat Umar berdialog dengan salah seorang dari mereka yang bernama Al‑Bistom dan berkata, “Kami siap kembali kepada Anda dengan syarat Anda bertaubat dan melaknati Bani Umayyah.” Umar berkata, “Baiklah, apakah hal ini ada sanad tarikhnya bahwa orang yang bertaubat harus melaknati leluhurnya?” Umar melanjutkan, “Apakah Anda pernah melaknati iblis dan Fir’aun? Mengapa Anda menyuruh saya untuk melaknati orang yang kemungkinan lslamnya masih besar?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukti dari ini semua menunjukkan bahwa Ali, Ibnu Abbas, dan Umar adalah figur yang cocok untuk menghadapi Khawarij berkat ilmunya yang sangat dalam dan kebijaksanaannya. Mereka juga memiliki metodologi yang baik dalam menghadapi mereka. Kebaikan cara dan kebijaksanaan Ali terbukti ketika ditanya, “Apakah Khawarij itu kafir?” Jawab Ali, “Mereka adalah orang yang berusaha lari dari kekafiran.” “Apakah mereka munafik?” Jawab Ali, “Orang munafik tidak menyebut Allah kecuali sedikit, padahal mereka orang yang banyak menyebut nama Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok Khawarij ini sangat unik. Hal ini terlihat pada kasus ketika mereka mengadakan kesepakatan untuk membunuh Ali, Muawiyah, dan Amru bin Al‑Ash. Salah seorang yang ditugaskan untuk membunuh Ali adalah Abdurrahman bin Muljam. Abdurrahman sebenarnya enggan diberi tugas untuk membunuh Ali, tapi ketika lewat pada perkampungan Khawarij dia mendapatkan orang yang tercantik di kampung itu dan bapak serta kakaknya sudah tewas terbunuh oleh Ali dalam peristiwa Harura. Perempuan itu bernama Qutom dan sangat dendam pada Ali. Ibnu Muljam berkata pada perempuan itu, “Saya ingin mengawini Anda!” “Boleh, tapi mahar apa yang akan engkau berikan pada saya?” jawab Qutom. “Apa saja yang engkau minta niscaya aku kabulkan,” balas Ibnu Muljam. Maka Qutom mengatakan, “Saya minta 30.000 hamba sahaya, budak yang bisa menyanyi, dan membunuh Ali.” “Kalau yang tiga pertama dapat saya kabulkan, tapi yang terakhir engkau jangan berharap.” Qutom kemudian berkata, “Jika Anda bisa melakukannya, saya akan sembuh dari sakit hati, Anda bisa menikahi saya. Tapi kalau tidak, maka akhirat lebih baik bagi Anda dari dunia dan segala isinya.” Maka terjadilah apa yang sudah terjadi. Dari kasus ini menunjukkan ada kasus yang terselubung dan tidak murni dalam pembunuhan Ali oleh Ibnu Muljam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk keunikan lain, mereka adalah kelompok yang mudah dibodohi. Maka, untuk menghadapi mereka diperlukan cara khusus. Hal ini pernah terjadi pada Amru bin Ubaid, salah seorang tokoh Mu’tazilah. Suatu saat ia lewat perkampungan Khawarij dengan ternan‑temannya dan dihadang oleh mereka seraya berkata, “Mana kawan‑kawan Anda, tadi kelihatan banyak?” Jawab Arnru dengan menyitir ayat 6 surat At‑Taubah, “Kami orang yang musyrik yang meminta perlindungan agar dapat mendengar firman Allah.” “Boleh, kami melindungi Anda sekalian. Pergilah, Anda mendapat perlindungan.” Tapi Amru merasa belum aman karena perkampungan Khawarij masih panjang, maka dia berkata, “Tidak begitu. Antarkanlah ia ke tempat yang aman.” Maka orang‑orang Khawarij tadi mengantarkannya. Peristiwa ini menunjukkan pemikiran orang-orang Khawarij yang sangat sederhana yang mengakibatkan mudah diperdaya dengan logika yang sangat sederhana. Sehingga untuk menghadapi mereka, dibutuhkan cara yang tepat dan tidak perlu logika yang berat‑berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara yang ketiga, memeranginya jika dianggap perlu. Hal ini terbukti ampuh dan juga pernah dilakukan Ali r.a. Pada masa Daulah Abbasiyah kekuatan mereka secara politis sudah bisa dilumpuhkan, kalaupun masih ada hanya bekas‑bekas atau pengaruh pemikiran mereka dan dalam bentuk nilai seperti menyesatkan dan menganggap kafir orang muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Mensyukuri pemahaman yang benar (الشكر على الفهم الصحيح)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita melihat betapa orang yang ibadahnya sangat rajin, pandai bahasa Arab, masih bisa salah dalam memahami Islam bahkan dicap oleh Rasul sebagai anjingnya ahli neraka, ini menunjukkan betapa besarnya nikmat pemahaman yang benar yang diberikan Allah pada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang ulama salaf berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لا أدري بآية إحدى النعمتين أشكر أبالفهم الصحيح أوالتجنيب من البدع&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya tidak tahu bagaimana saya harus bersyukur dengan nikmat memahami Islam dengan benar atau mampu menjauhi dari bid’ah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh-tokoh Khawarij&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Abdullah ibn Wahhab Al-Rasyibi pemimpin sekte Al-Muhakkimat. Beliau adalah tokoh utama dari 12.000 orang yang keluar dari barisan Ali r.a. dan menjadikan Haruriah sebagai basis pergerakan. Di desa itu, Abdullah bersama kroninya mendirikan “khilafah baru” dengan pemimpinnya Abdulllah sendiri.&lt;br /&gt;   2. Nafi’ ibn al-Azraq merupakan salah seorang pengikut sekte Muhakkimah yang tersisa dalam peprangan di Nahrawan. Bersama kroni-kroninya, ia kembali menyebarkan paham khawarij dengan berganti baju Al-Azariqah&lt;br /&gt;   3. Najdah ibn Amir al-Hanafi, pemimpin sekte al-Najd, merupakan koalisi dari beberapa tokoh Khawarij –seperti Abu Fudaik, Rasyid Al-Tawil, Atiah Al-Hanafi, dan Najdah sendiri– akibat kekecewaan terhadap kepemimpinan Nafi’ Al-Azraq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide-ide Pemikiran aliran Khawarij&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Menganggap kafir orang-orang yang berseberangan dengan mereka, terutama yang terlibat dalam Perang Shiffin. Karenanya, tidak ada istilah damai untuk penentang Khawarij, mengingat yang dimaksud ishlah dalam QS. Al-Hujurat: 9 adalah sesama orang Islam, tidak dengan orang kafir.&lt;br /&gt;   2. Orang Islam yang berbuat dosa besar, seperti berzina dan pembunuh adalah kafir dan selamanya masuk neraka.&lt;br /&gt;   3. Hak khilafah tidak harus dari kerabat nabi atau suku Quraisy khususnya, dan orang Arab umumnya. Seorang khalifah harus dipilih oleh kaum Muslimin melalui pemilihan yang bebas. Khalifah yang taat kepada Tuhan wajib ditaati. Sebaliknya, khalifah yang mengingkari Tuhan dan umat yang durhaka kepada khilafah yang wajib ditaati, boleh diperangi dan dibunuh.&lt;br /&gt;   4. Orang musyrik adalah yang melakukan dosa besar, tidak sepaham dengan mereka, atau orang yang sepaham tetapi tidak ikut hijrah dan berperang bersama mereka. Orang musyrik itu halal darahnya. Nasib mereka bersama anak-anaknya akan kekal di neraka.&lt;br /&gt;   5. Mereka menganggap bahwa hanya daerahnya yang disebut dar al-Islam, dan daerah orang yang melawan mereka adalah dar al-harb. Karenanya, orang yang tinggal dalam wilayah dar al-harb, baik anak-anak maupun wanita, boleh dibunuh.&lt;br /&gt;   6. Ajaran agama yang harus diketahui hanya ada dua, yakni mengetahui Allah dan rasul-Nya. Selain dua hal itu tidak wajib diketahui.&lt;br /&gt;   7. Melakukan taqiyyah (menyembungikan keyakinan demi keselamatan diri), baik secara lisan maupun perbuatan adalah dibolehkan bila keselamatan diri mereka terancam.&lt;br /&gt;   8. Dosa kecil yang dilakukan secara terus menerus akan berubah menjadi dosa besar dan pelakunya menjadi musyrik.&lt;br /&gt;   9. Imam dan khilafah bukanlah suatu keniscayaan. Tanpa imam dan khilafah, kaum muslimin bisa hidup dalam kebenaran dengan cara saling menasihati dalam hal kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemunculan gerakan Khawarij sangat kental dengan nuansa politiknya. Persoalan teologi hanya dijadikan komoditi politik untuk melegitimasi gerakan mereka. Allahu a’lam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2606071805279753426-8803671368184646828?l=tarbiyahilalhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/feeds/8803671368184646828/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2009/12/khawarij-dan-sifat-sifatnya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/8803671368184646828'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/8803671368184646828'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2009/12/khawarij-dan-sifat-sifatnya.html' title='Khawarij dan Sifat-sifatnya'/><author><name>Dhany</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06267143366179759089</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sy2ltTN_HwI/AAAAAAAAADI/ubrHlxmxRnw/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/SzjGjSb4GcI/AAAAAAAAAEA/-rGpCmbFWWc/s72-c/al-quran1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2606071805279753426.post-7730008024109595415</id><published>2009-12-26T07:54:00.000-08:00</published><updated>2009-12-26T07:59:00.409-08:00</updated><title type='text'>Loyalitas dalam Islam (Al-Wala’) (bag. 3)</title><content type='html'>Konsep al-wala’ -loyalitas- dalam akidah Islam harus dipahami oleh setiap muslim apabila ingin benar-benar menegakkan nilai-nilai Islam dalam ruang kehidupannya. Muslim yang tidak mengenal dan memahami akidah ini akan terombang-ambing dalam gelombang al-wala’ yang tidak jelas, bahkan ia akan menjadikan musuh-musuh Islam sebagai kekasih-kekasihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat syahadat terdiri nafi (la) manfi (ilaha), itsbat (illa) dan mutsbit (Allah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Laa Ilaha Illa Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Laa (tidak ada – penolakan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata penolakan yang mengandung pengertian menolak semua unsur yang ada di belakang kata tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Ilaha (sembahan – yang ditolak)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembahan yaitu kata yang ditolak oleh laa tadi, yaitu segala bentuk sembahan yang bathil (lihat A3). Dua kata ini mengandung pengertian bara’ (berlepas diri).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Illa (kecuali – peneguhan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata pengecualian yang berarti meneguhkan dan menguatkan kata di belakangnya sebagai satu-satunya yang tidak ditolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Allah (yang diteguhkan atau yang dikecualikan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata yang dikecualikan oleh illa. Lafzul Jalalah (Allah) sebagai yang dikecualikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Q.16: 36, inti dakwah para Nabi adalah mengingkari sembahan selain Allah dan hanya menerima Allah saja sebagai satu-satunya sembahan.&lt;br /&gt;    * Q.4: 48, 4: 116, bahaya menyimpang dari Tauhid. Syirik merupakan dosa yang tidak diampuni.&lt;br /&gt;    * Q.47: 19, dosa-dosa manusia diakibatkan kelalaian memahami makna tauhid.&lt;br /&gt;    * Q.7: 59,65,73, beberapa contoh dakwah para nabi yang memerintahkan pengabdian kepada Allah dan menolak ilah-ilah yang lain.&lt;br /&gt;    * Hadits. Ikatan yang paling kuat dari pada iman adalah mencintai karena Allah dan membenci karena Allah.&lt;br /&gt;    * Hadits. Bara’ng-siapa yang mencintai karena Allah,membenci karena Allah, memberi karena Allah dan melarang karena Allah, maka ia telah mencapai kesempurnaan Iman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bara’ (pembebasan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merupakan hasil kalimat Laa ilaha illa yang artinya membebaskan diri daripada segala bentuk sembahan. Pembebasan ini berarti: mengingkari, memisahkan diri, membenci, memusuhi dan memerangi. Keempat perkara ini ditunjukkan pada segala ilah selain Allah samada berupa sistem, konsep maupun pelaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Q.60: 4, contoh sikap bara’ yang diperlihatkan Nabi Ibrahim AS dan pengikutnya terhadap kaumnya. Mengandung unsur mengingkari, memisahkan diri, membenci dan memusuhi.&lt;br /&gt;    * Q.9: 1, sikap bara’ berarti melepaskan diri seperti yang dilakukan oleh Rasul terhadap orang-orang kafir dan musyrik.&lt;br /&gt;    * Q.47: 7, sikap bara’ adalah membenci kekufuran, kefasikan dan kedurhakaan.&lt;br /&gt;    * Q.58: 22, sikap bara’ dapat diartikan juga memerangi dan memusuhi meskipun terhadap familinya. Contohnya Abu Ubaidah membunuh ayahnya, Umar bin Khattab membunuh bapa saudaranya, sedangkan Abu Bakar hampir membunuh putranya yang masih musyrik. Semua ini berlangsung di medan perang.&lt;br /&gt;    * Q.26: 77, Nabi Ibrahim menyatakan permusuhan terhadap berhala-berhala sembahan kaumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Hadam (penghancuran).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap bara’ dengan segala akibatnya melahirkan upaya menghancurkan segala bentuk pengabdian terhadap tandingan-tandingan maupun sekutu-sekutu selain Allah, apakah terhadap diri, keluarga maupun masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Q.21: 57-58, Nabi Ibrahim berupaya menghancurkan berhala-berhala yang membodohi masyarakatnya pada masa itu. Cara ini sesuai pada masa itu tetapi pada masa Rasulullah, Rasul Saw menghancurkan akidah berhala dan fikrah yang menyimpang terlebih dahulu. Setelah fathu Mekkah, kemudian 360 berhala di sekitar Ka’bah dihancurkan oleh Rasul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Al Wala’ (loyalitas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat Illa Allah berarti pengukuhan terhadap wilayatulLlah (kepemimpinan Allah). Artinya: selalu mentaati, selalu mendekatkan diri, mencintai sepenuh hati, dan membela, mendukung dan menolong. Semua ini ditujukan kepada Allah dan segala yang diizinkan Allah seperti Rasul dan orang yang beriman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Q.5: 7, 2: 285, Iman terhadap kalimat suci ini berarti bersedia mendengar dan taat.&lt;br /&gt;    * Q.10: 61,62, jaminan Allah terhadap yang menjadi wali (kekasih) Allah karena selalu dekat kepada Nya.&lt;br /&gt;    * Q.2: 165, wala’ kepada Allah menjadikan Allah sangat dicintai, lihat 9: 24.&lt;br /&gt;    * Q.61: 14, sebagai bukti dari wala’ adalah selalu siap mendukung atau menolong dien Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Al Bina (membangun).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap wala’ beserta segala akibatnya merupakan sikap mukmin membangun hubungan yang kuat dengan Allah, Rasul dan orang-orang mukmin. Juga berarti membangun sistem dan aktivitas Islam yang menyeluruh pada diri, keluarga, maupun masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Q.22: 41, ciri mukmin adalah senantiasa menegakkan agama Allah.&lt;br /&gt;    * Q.24: 55, posisi kekhilafahan Allah peruntukkan bagi manusia yang membangun dienullah.&lt;br /&gt;    * Q.22: 78, jihad di jalan Allah dengan sebenarnya jihad adalah upaya yang tepat membangun dienullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Ikhlas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keikhlasan yaitu pengabdian yang murni hanya dapat dicapai dengan sikap bara’ terhadap selain Allah dan memberikan wala’ sepenuhnya kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Q.98: 5, mukmin diperintah berlaku ikhlas dalam melakukan ibadah.&lt;br /&gt;    * Q.39: 11,14, sikap ikhlas adalah inti ajaran Islam dan pengertian dari Laa ilaha illa Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Muhammad Rasulullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep Wala’ dan Bara’ ditentukan dalam bentuk:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah sebagai sumber. Allah sebagai sumber wala’, dimana loyalitas mutlak hanya milik Allah dan loyalitas lainnya mesti dengan izin Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasul sebagai cara (kayfiyat). Pelaksanaan Wala’ terhadap Allah dan Bara’ kepada selain Allah mengikuti cara Rasul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mukmin sebagai pelaksana. Pelaksana Wala’ dan Bara’ adalah orang mukmin yang telah diperintahkan Allah dan dicontohkan Rasulullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pelasaksanaan Bara’, Rasulullah memisahkan manusia atas muslim dan kafir. Hizbullah dengan Hizbus Syaithan. Orang-orang mukmin adalah mereka yang mengimani Laa ilaha illa Allah dan Muhammad Rasulullah sedangkan orang kafir adalah mereka yang mengingkari salah satu dari dua kalimah syahadat atau kedua-duanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang beriman wajib mengajak orang kafir kepada jalan Islam dengan dakwah secara hikmah dan pengajaran yang baik. Apabila mereka menolak, kemudian menghalangi jalan dakwah maka mereka boleh diperangi sampai mereka mengakui ketinggian kalimah Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan kekeluargaan seperti ayah, ibu, anak tetap diakui selama bukan dalam kemusyrikan atau maksiat terhadap Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian pelaksanaan Wala’ dan Bara’ telah ditentukan caranya. Kita hanya mengikut apa yang telah dicontohkan Rasulullah Saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Q.5: 55-56, Allah, Rasul dan orang-orang mukmin adalah wali orang yang beriman.&lt;br /&gt;    * Q.4: 59, ketaatan diberikan hanya kepada Allah, Rasul dan Ulil Amri dari kalangan mukmin.&lt;br /&gt;    * Q.5: 56, orang-orang yang memberikan wala’ kepada Allah, Rasul dan orang-orang mukmin adalah Hizbullah (golongan Allah), lihat pula 58: 22. Selain golongan ini adalah Hizbus Syaithan.&lt;br /&gt;    * Q.60: 7-9, kebolehan bergaul dengan orang kafir dengan batas-batas tertentu. Asbabun Nuzul ayat ini berkaitan dengan Asma binti Abu Bakar yang tidak mengizinkan ibunya masuk rumahnya sebelum mendapat izin dari Rasulullah, lihat pula 31: 15&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, konsep al-wala’ dalam akidah Islam harus dipahami oleh setiap Muslim apabila ingin benar-benar menegakkan nilai-nilai Islam dalam ruang kehidupannya. Muslim yang tidak mengenal dan memahami akidah ini akan terombang-ambing dalam gelombang samudera al-wala’ yang tidak jelas, dan ia akan menjadikan musuh-musuh Islam sebagai kekasih-kekasihnya. Akhirnya, ia cenderung mendukung apa saja yang dilakukan musuh-musuh Islam dan membenci bahkan menyalahkan kaum Muslimin, seperti kasus Ambon, Poso, Palestina, dan yang lainnya. Maka, dengan memahami konsep al-wala’ semakin jelaslah posisi yang hak dan batil: mana yang menjadi musuh dan mana yang menjadi sahabat; mana yang menjadi lawan dan mana yang menjadi kawan. Wallahu a’lam bish-shawwab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2606071805279753426-7730008024109595415?l=tarbiyahilalhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/feeds/7730008024109595415/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2009/12/loyalitas-dalam-islam-al-wala-bag-3.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/7730008024109595415'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/7730008024109595415'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2009/12/loyalitas-dalam-islam-al-wala-bag-3.html' title='Loyalitas dalam Islam (Al-Wala’) (bag. 3)'/><author><name>Dhany</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06267143366179759089</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sy2ltTN_HwI/AAAAAAAAADI/ubrHlxmxRnw/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2606071805279753426.post-3981281196245310008</id><published>2009-12-26T07:52:00.000-08:00</published><updated>2009-12-26T07:53:48.244-08:00</updated><title type='text'>Loyalitas dalam Islam (Al-Wala’) (bag. 2)</title><content type='html'>Berdasarkan beberapa ayat dan hadits, aqidah al-wala’ dan al-bara’ merupakan suatu kewajiban yang harus ditegakkan dalam syariat Islam. Ia merupakan salah satu konsekuensi dan syarat sahnya syahadat. Seorang Muslim tidak mungkin lepas dari akidah ini dalam setiap dimensi kehidupannya. Ia harus mencintai Allah SWT, Rasul, dan hamba-hamba yang beriman, dengan segala pengorbanannya. Pada saat yang sama, ia harus menegakkan permusuhan terhadap kekufuran dan manusia-manusia yang mendukung kekufuran tersebut. Perhatikan ayat-ayat Allah berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah, ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (At-Taubah: 24)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Bara’ngsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).” (Ali Imran: 28)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu tidak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak, atau saudara-saudara, ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.” (Al-Mujadilah: 22)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidaklah beriman salah seorang di antara kamu hingga aku lebih ia cintai daripada anaknya, bapaknya, dan seluruh manusia.” (Muttafaqun ‘Alaih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ جَامَعَ الْمُشْرِكَ وَسَكَنَ مَعَهُ فَإِنَّهُ مِثْلُهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang berkumpul dengan orang musyrik dan tinggal (merasa tenang) dengannya, maka ia sama dengannya.” (HR Abu Daud dari Samurah bin Jundub)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hak-Hak Loyalitas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa hak yang berkaitan dengan akidah al-wala’ dalam syariat Islam, sebagaimana penjelasan berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, hijrah, yaitu hijrah dari negeri kafir ke negeri muslim, kecuali bagi orang yang lemah atau tidak dapat berhijrah karena kondisi geografis dan politik kontemporer yang tidak memungkinkan. Allah berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya, ‘Dalam keadaan bagaimana kamu ini?’ Mereka menjawab, ‘Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah).’ Para malaikat berkata, ‘Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?’ Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali, kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau perempuan, ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah), mereka itu, mudah-mudahan Allah memaafkannya. Dan adalah Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” (An-Nisa: 97-99)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, membantu dan menolong kaum muslimin dengan lisan, harta, dan jiwa di manapun ia berada dan dalam semua kebutuhan, baik dunia maupun agama. Allah berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertoIongan (kepada orang-orang Muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikit pun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Al-Anfal: 72)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا وَشَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang mukmin terhadap orang mukmin yang lain bagaikan bangunan yang sebagian menyangga sebagian yang lain.” (HR Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tolonglah saudara kamu baik yang melakukan kezhaliman atau yang dizhalimi.” (HR Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain, ia tidak meremehkannya, tidak menghinakannya, dan tidak menyerahkannya (kepada musuh).” (HR Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, terlibat dalam harapan-harapan dan kesedihan-kesedihan kaum Muslimin. Rasulullah saw. bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perumpamaan kaum Muslimin dalam cinta, kekompakan, dan kasih sayang bagaikan satu tubuh, jika salah satu anggota tubuhnya mengeluh sakit, maka seluruh anggota tubuh juga ikut menjaga dan berjaga.” (HR Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, hendaklah ia mencintai saudara Muslim sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri, baik berupa kebaikan maupun menolak keburukan. Ia wajib menasihati mereka, tidak menyombongkan diri dan atau mendendam terhadap mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, tidak mengejek, melecehkan, mencari aib, dan ber-ghibah serta menyebarkan namimah terhadap sesama kaum Muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan)yang buruk sesudah iman, dan bara’ngsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim.” (Al-Hujurat: 11-12)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan ‘jangan mencela dirimu sendiri’ ialah mencela antara sesama mukmin karena orang-orang mukmin seperti satu tubuh. Dan ‘panggilan yang buruk’ ialah gelar yang tidak disukai oleh orang yang digelari, seperti panggilan kepada orang yang sudah beriman, dengan panggilan seperti “Hai, Fasik”, “Hai, Kafir,” dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam, mencintai kaum Muslimin dan berusaha untuk berkumpul bersama mereka. Rasulullah saw. bersabda, “Adalah wajib bagiku mencintai orang-orang yang saling menziarahi.” (HR Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ikatan iman yang paling kuat adalah mencintai karena Allah dan membenci karena Allah.” (HR At-Thabrani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Al-Kahfi: 28)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketujuh, melakukan apa saja yang menjadi hak kaum Muslimin, seperti menjenguk yang sakit atau mengantar jenazah, tidak curang dalam bergaul dengan mereka, tidak memakan harta mereka dengan cara yang batil, dan lainnya. Rasulullah saw. bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang curang terhadap kami, maka dia bukan dari golongan kami.” (HR Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ قِيلَ مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hak seorang Muslim atas seorang Muslim yang lain ada enam.” Ada yang bertanya, ‘Apa saja ya Rasululllah?’ Beliau menjawab,  bila kamu berjumpa dengannya ucapkan salam, jika ia mengundangmu penuhilah, jika ia meminta nasihat kepadamu nasihatilah, jika ia bersin dan memuji Allah hendaknya kamu mendoakannya, dan jika ia sakit jenguklah, dan jika ia mati antarkanlah jenazahnya….” (HR Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedelapan, bersikap lembut terhadap Muslimin, mendoakan dan memohonkan ampun bagi mereka. Allah berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mu’min, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.” (Muhammad: 19)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa tidak menyayangi maka ia tidak akan disayangi.” (HR Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesembilan, menyuruh mereka kepada yang makruf dan mencegah mereka dari kemungkaran, serta menasihati mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الدِّينُ النَّصِيحَةُ قُلْنَا لِمَنْ قَالَ لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Agama adalah nasihat.’ Kami bertanya, ‘Untuk siapakah, ya, Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Untuk Allah, Rasul, kitab-kitab, pemimpin kaum Muslimin, dan untuk mereka semua.’” (HR Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa di antara kamu yang melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangan; maka apabila tidak mampu hendaklah (ia lakukan) dengan lisannya; dan apabila tidak mampu, hendaklah (ia lakukan) dengan hatinya, dan itulah selemah-lemah iman.” (HR Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesepuluh, tidak mencari-cari aib dan kesalahan kaum Muslimin serta membeberkan rahasia mereka kepada musuh-musuh Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan mereka…” (Al-Hujurat: 12)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesebelas, bergabung ke dalam jamaah kaum Muslimin dan tidak berpisah dengan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu jadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Ali Imran: 103)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An-Nisa: 115)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduabelas, tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (Al-Maidah: 2) Allahu A’lam (bersambung)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2606071805279753426-3981281196245310008?l=tarbiyahilalhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/feeds/3981281196245310008/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2009/12/loyalitas-dalam-islam-al-wala-bag-2.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/3981281196245310008'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/3981281196245310008'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2009/12/loyalitas-dalam-islam-al-wala-bag-2.html' title='Loyalitas dalam Islam (Al-Wala’) (bag. 2)'/><author><name>Dhany</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06267143366179759089</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sy2ltTN_HwI/AAAAAAAAADI/ubrHlxmxRnw/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2606071805279753426.post-2774862481613770059</id><published>2009-12-26T06:58:00.000-08:00</published><updated>2009-12-26T07:31:39.625-08:00</updated><title type='text'>Loyalitas dalam Islam (Al-Wala’)</title><content type='html'>Ma’rifatullah berasal dari kata ma’rifah dan Allah. Ma’rifah artinya mengetahui, mengenal. Mengenal Allah bukan melalui zat Allah tetapi mengenal-Nya lewat tanda-tanda kebesaran-Nya (ayat-ayat-Nya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pentingnya Mengenal Allah&lt;br /&gt;Seseorang yang mengenal Allah pasti akan tahu tujuan hidupnya, tujuan mengapa ia diciptakan (QS.52:56) dan tidak tertipu oleh dunia. Sebaliknya orang yang tidak mengenal Allah akan menjalani hidupnya untuk dunia saja (QS.47:12).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ma’rifatullah merupakan ilmu yang tertinggi yang harus dipahami manusia (QS.6:122). Hakikat ilmu adalah memberikan keyakinan kepada yang mendalaminya. Ma’rifatullah adalah ilmu yang tertinggi, sebab jika dipahami akan memberikan keyakinan mendalam. Memahami ma’rifatullah juga akan mengeluarkan manusia dari kegelapan kebodohan kepada cahaya hidayah yang terang (QS.6:122).&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;Hal-hal yang menghalangi Ma’rifatullah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesombongan (QS.7:146, 25:21). Sebagaimana lazimnya orang yang sombong yang tidak mau mengenal sesamanya, begitu pula manusia yang sombong terhadap Rabbnya, yang enggan berhubungan dengan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zalim (QS.4:153). Perbuatan zalim yang besar, menyebabkan Allah mengunci hati manusia. Padahal lewat hati inilah Allah memberikan hidayah-Nya. Sedangkan awal hidayah seseorang ialah mengenal hakikat-Nya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersandar pada panca indera (QS.2:55). Mereka tidak beriman kepada Allah dengan dalih tidak bisa melihat Allah, padahal banyak sesuatu yang tidak bisa mereka lihat, tapi mereka yakin keberadaannya, seperti gaya gravitasi bumi, arus listrik, akalpikiran, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dusta (QS.7:176). Lazimnya seorang yang dusta, yang tidak sama antara hati dan ucapannya,perbuatannya. Begitu pula manusia yang berdusta terhadap Allah. Sebenarnya hati mengakui keberadaan Allah, namun hawa nafsunya menolak dan mengajaknya berdusta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membatalkan janji dengan Allah (QS.2:26-27)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalai (QS.21:1-3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak berbuat maksiat. Satu perbuatan maksiat bagaikan satu titik noda hitam yang mengotori hati manusia. Bila manusia banyak berbuat maksiat sedangkan ia tidak bertaubat, niscaya hati tersebut akan tertutup noda-noda hitam hingga menghalangi masuknya hidayah Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ragu-ragu (QS.6:109-10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua sifat di atas merupakan bibit-bibit kekafiran kepada Allah yang harus dibersihkan dari hati. Sebab, kekafiranlah yang menyebabkan Allah mengunci mati, menutup mata dan telinga manusia serta menyiksa mereka di neraka (QS.2:6-7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang mengenali Allah dengan benar adalah orang yang mampu mewarnai dirinya dengan segala macam bentuk ibadah. Kita akan mendapatinya sebagai orang yang rajin shalat, pada saat lain kita dapati ia senantiasa berdzikir, tilawah, pengajar, mujahid, pelayan masyarkat, dermawan, dst. Tidak ada ruang dan waktu ibadah kepada Allah, kecuali dia ada di sana. Dan tidak ada ruang dan waktu larangan Allah kecuali ia menjauhinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebagian ulama yang mengatakan : “Duduk di sisi orang yang mengenali Allah akan mengajak kita kepada enam hal dan berpaling dari enam hal, yaitu : dari ragu menjadi yakin, dari riya menjadi ikhlash, dari ghaflah (lalai) menjadi ingat, dari cinta dunia menjadi cinta akhirat, dari sombong menjadi tawadhu’ (randah hati), dari buruk hati menjadi nasehat”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ma’rifatullah adalah puncak kesadaran yang akan menentukan perjalanan hidup manusia selanjutnya. Karena ma’rifatullah akan menjelaskan tujuan hidup manusia yang sesungguhnya. Ketiadaan ma’rifatullah membuat banyak orang hidup tanpa tujuan yang jelas, bahkan menjalani hidupnya sebagaimana makhluk hidup lain (binatang ternak). QS.47:12&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ma’rifatullah adalah asas (landasan) perjalanan ruhiyyah (spiritual) manusia secara keseluruhan. Seorang yang mengenali Allah akan merasakan kehidupan yang lapang. Ia hidup dalam rentangan panjang antara bersyukur dan bersabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang mengenali Allah akan selalu berusaha dan bekerja untuk mendapatkan ridha Allah, tidak untuk memuaskan nafsu dan keinginan syahwatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ma’rifatullah inilah manusia terdorong untuk mengenali para nabi dan rasul, untuk mempelajari cara terbaik mendekatkan diri kepada Allah. Karena para Nabi dan Rasul-lah orang-orang yang diakui sangat mengenal dan dekat dengan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ma’rifatullah ini manusia akan mengenali kehidupan di luar alam materi, seperti Malaikat, jin dan ruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ma’rifatullah inilah manusia mengetahui perjalanan hidupnya, dan bahkan akhir dari kehidupan ini menuju kepada kehidupan Barzahiyyah (alam kubur) dan kehidupan akherat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarana yang mengantarkan seseorang pada ma’rifatullah adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabda Nabi : “Berfikirlah tentang ciptaan Allah dan janganlah kamu berfikir tentang Allah, karena kamu tidak akan mampu” HR. Abu Nu’aim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenali asma (nama) dan sifat Allah disertai dengan perenungan makna dan pengaruhnya bagi kehidupan ini menjadi sarana untuk mengenali Allah. Cara inilah yang telah Allah gunakan untuk memperkenalkan diri kepada makhluk-Nya. Dengan asma dan sifat ini terbuka jendela bagi manusia untuk mengenali Allah lebih dekat lagi. Asma dan sifat Allah akan menggerakkan dan membuka hati manusia untuk menyaksikan dengan seksama pancaran cahaya Allah.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;Keindahan Al-Qur’an (QS.2:23)&lt;br /&gt;- Pemberitahuan tentang umat yang lampau (QS.9:70)&lt;br /&gt;- Pemberitahuan tentang kejadian yang akan datang (QS.30:1-3, 8:7, 24:55)&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;Lewat memahami Asma’ul Husna&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;Buah Ma'rifatullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang ahli ibadah akan optimis dalam hidupnya. Ia optimis bahwa Allah akan menolong dan mengarahkan hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua yang ada di alam ini mutlak ada dalam kekuasaan Allah. Ketika melihat fenomena alam, idealnya kita bisa ingat kepada Allah. Puncak ilmu adalah mengenal Allah (ma'rifatullah). Kita dikatakan sukses dalam belajar bila dengan belajar itu kita semakin mengenal Allah. Jadi percuma saja sekolah tinggi, luas pengetahuan, gelar prestisius, bila semua itu tidak menjadikan kita makin mengenal Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenal Allah adalah aset terbesar. Mengenal Allah akan membuahkan akhlak mulia. Betapa tidak, dengan mengenal Allah kita akan merasa ditatap, didengar, dan diperhatikan selalu. Inilah kenikmatan hidup sebenarnya. Bila demikian, hidup pun jadi terarah, tenang, ringan, dan bahagia. Sebaliknya, saat kita tidak mengenal Allah, hidup kita akan sengsara, terjerumus pada maksiat, tidak tenang dalam hidup, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri orang yang ma'rifat adalah laa khaufun 'alaihim wa lahum yahzanuun. Ia tidak takut dan sedih dengan urusan duniawi. Karena itu, kualitas ma'rifat kita dapat diukur. Bila kita selalu cemas dan takut kehilangan dunia, itu tandanya kita belum ma'rifat. Sebab, orang yang ma'rifat itu susah senangnya tidak diukur dari ada tidaknya dunia. Susah dan senangnya diukur dari dekat tidaknya ia dengan Allah. Maka, kita harus mulai bertanya bagaimana agar setiap aktivitas bisa membuat kita semakin kenal, dekat dan taat kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu ciri orang ma'rifat adalah selalu menjaga kualitas ibadahnya. Terjaganya ibadah akan mendatangkan tujuh keuntungan hidup. Pertama, hidup selalu berada di jalan yang benar (on the right track). Kedua, memiliki kekuatan menghadapi cobaan hidup. Kekuatan tersebut lahir dari terjaganya keimanan. Ketiga, Allah akan mengaruniakan ketenangan dalam hidup. Tenang itu mahal harganya. Ketenangan tidak bisa dibeli dan ia pun tidak bisa dicuri. Apa pun yang kita miliki, tidak akan pernah ternikmati bila kita selalu resah gelisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, seorang ahli ibadah akan selalu optimis. Ia optimis karena Allah akan menolong dan mengarahkan kehidupannya. Sikap optimis akan menggerakkan seseorang untuk berbuat. Optimis akan melahirkan harapan. Tidak berarti kekuatan fisik, kekayaan, gelar atau jabatan bila kita tidak memiliki harapan. Kelima, seorang ahli ibadah memiliki kendali dalam hidupnya, bagaikan rem pakem dalam kendaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali akan melakukan maksiat, Allah SWT akan memberi peringatan agar ia tidak terjerumus. Seorang ahli ibadah akan memiliki kemampuan untuk bertobat. Keenam, selalu ada dalam bimbingan dan pertolongan Allah. Bila pada poin pertama Allah sudah menunjukkan jalan yang tepat, maka pada poin ini kita akan dituntun untuk melewati jalan tersebut. Ketujuh, seorang ahli ibadah akan memiliki kekuatan ruhiyah, tak heran bila kata-katanya bertenaga, penuh hikmah, berwibawa dan setiap keputusan yang diambilnya selalu tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjadi ahli ibadah kita bisa menumbuhkan ACM (Aku Cinta Masjid). Seorang Muslim dengan masjid bagikan ikan dengan air. Tidak mungkin seorang Muslim tidak betah di masjid. Diragukan keimanannya bila ia tidak akrab dengan masjid. Ikhtiar menumbuhkan kecintaan terhadap shalat dan masjid adalah dengan berusaha shalat tepat waktu, di masjid dan dilakukan secara berjamaah. Cara paling mudah untuk melaksanakannya adalah dengan datang lebih awal ke masjid untuk menunggu shalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku, di tengah kondisi yang semakin sulit, tidak ada yang bisa menolong kita selain Allah SWT. Salah satu ikhtiar untuk menggapai pertolongan Allah dengan meningkatkan pengenalan kita kepada Allah. Cara menggapainya adalah dengan ibadah secara istikamah.&lt;br /&gt;Wallaahu a'lam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2606071805279753426-2774862481613770059?l=tarbiyahilalhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/feeds/2774862481613770059/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2009/12/loyalitas-dalam-islam-al-wala.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/2774862481613770059'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/2774862481613770059'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2009/12/loyalitas-dalam-islam-al-wala.html' title='Loyalitas dalam Islam (Al-Wala’)'/><author><name>Dhany</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06267143366179759089</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sy2ltTN_HwI/AAAAAAAAADI/ubrHlxmxRnw/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2606071805279753426.post-8486475719002555684</id><published>2009-12-19T20:29:00.000-08:00</published><updated>2009-12-19T20:31:59.482-08:00</updated><title type='text'>Iri Dan Dengki….., Kenali Kemudian Jauhi !!!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sy2otC7poeI/AAAAAAAAAD4/xPUVDdFMxDU/s1600-h/hasad-dengki.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 245px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sy2otC7poeI/AAAAAAAAAD4/xPUVDdFMxDU/s400/hasad-dengki.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5417171418631217634" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; – Sebagian manusia tidak mampu mengelakkan dirinya dari sifat iri dan dengki. Dengki kepada rekan yang baru naik jabatan, dengki kepada tetangga yang punya mobil mewah, dengki kepada saudara yang anaknya sarjana dan dengki kepada seorang ustadz yang memiliki murid yang pintar dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sungguh tidak bisa dibayangkan, ketika abad globalisasi dan keterbukaan yang telah mulai membuka pintunya akan semakin memberikan peluang untuk membuka ‘kran hati’ untuk saling mendengki. Karena ukuran globalisasi identik dengan materi. Orang pun semakin tak bisa mengendalikan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa dengki dan iri baru tumbuh manakala orang lain menerima nikmat. Biasanya jika seseorang mendapatkan nikmat, maka akan ada dua sikap pada manusia. Pertama, ia benci terhadap nikmat yang diterima kawannya dan senang bila nikmat itu hilang daripadanya. Sikap inilah yang disebut hasud, dengki dan iri hati. Kedua, ia tidak menginginkan nikmat itu hilang dari kawannya, tapi ia berusaha keras bagaimana mendapatkan nikmat semacam itu. Sikap kedua ini dinamakan ghibthah (keinginan). Yang pertama itulah yang dilarang sedang yang kedua diperbolehkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa Kisah Al Qur’an tentang Orang-orang yang Dengki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa sarkasme, orang pendengki adalah orang yang senang melihat orang lain dilanda bencana, dan itu disebut syamatah. Syamatah dengan hasad selalu berkait dan berkelindan. Dari sini kita tahu, betapa jahat seorang pendengki, ia tidak rela melihat orang lain bahagia, sebaliknya ia bersuka cita melihat orang lain bergelimang lara. Allah Ta’ala menggambarkan sikap dengki ini dalam firmanNya, yang artinya: “Bila kamu memperoleh kebaikan, maka hal itu menyedihkan mereka, dan kalau kamu ditimpa kesusahan maka mereka girang karenanya.” (QS. Ali Imran: 120)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengki juga merupakan sikap orang-orang ahli Kitab. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya: “Kebanyakan orang-orang ahli Kitab menginginkan supaya mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, disebabkan karena kedengkian (hasad) yang ada dalam jiwa mereka.” (QS. Al Baqarah: 109)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedengkian saudara-saudara Yusuf kepada dirinya mengakibatkan sebagian dari mereka ingin menghabisi nyawa saudaranya sendiri, Yusuf ‘Alaihis Salam. Allah Ta’ala mengisahkan dalam firmanNya, yang artinya: “(Yaitu) ketika mereka berkata: Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai ayah kita daripada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata. Bunuhlah Yusuf atau buanglah ia ke suatu daerah (yang tak dikenal) supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik.” (QS. Yusuf: 8 – 9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhadap orang-orang pendengki tersebut Allah Ta’ala dengan keras mencela: “Apakah mereka dengki kepada manusia lantaran karunia yang Allah berikan kepadanya?” (QS. An Nisaa’: 54)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab-sebab Dengki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa dengki pada dasarnya tidak timbul kecuali karena kecintaan kepada dunia. Dan dengki biasanya banyak terjadi di antara orang-orang terdekat; antar keluarga, antarteman sejawat, antar tetangga dan orang-orang yang berde-katan lainnya. Sebab rasa dengki itu timbul karena saling berebut pada satu tujuan. Dan itu tak akan terjadi pada orang-orang yang saling berjauhan, karena pada keduanya tidak ada ikatan sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun orang yang mencintai akhirat, yang mencintai untuk mengetahui Allah, malaikat-malaikat, nabi-nabi dan kerajaanNya di langit maupun di bumi maka mereka tidak akan dengki kepada orang yang mengetahui hal yang sama. Bahkan sebaliknya, mereka malah mencintai bahkan bergembira terhadap orang-orang yang mengetahuiNya. Karena maksud mereka adalah mengetahui Allah dan mendapatkan kedudukan yang tinggi di sisiNya. Dan karena itu, tidak ada kedengkian di antara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecintaan kepada dunia yang mengakibatkan dengki antarsesama disebabkan oleh banyak hal. Di antaranya karena permusuhan. Ini adalah penyebab kedengkian yang paling parah. Ia tidak suka orang lain menerima nikmat, karena dia adalah musuhnya. Diusahakanlah agar jangan ada kebajikan pada orang tersebut. Bila musuhnya itu mendapat nikmat, hatinya menjadi sakit karena bertentangan dengan tujuannya. Permusuhan itu tidak saja terjadi antara orang yang sama kedudukannya, tetapi juga bisa terjadi antara atasan dan bawahannya. Sehingga sang bawahan misalnya, selalu berusaha menggoyang kekuasaan atasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab kedua adalah ta’azzuz (merasa paling mulia). Ia keberatan bila ada orang lain melebihi dirinya. Ia takut apabila koleganya mendapatkan kekuasaan, pengetahuan atau harta yang bisa mengungguli dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab ketiga, takabbur atau sombong. Ia memandang remeh orang lain dan karena itu ia ingin agar dipatuhi dan diikuti perintahnya. Ia takut apabila orang lain memperoleh nikmat, berbalik dan tidak mau tunduk kepadanya. Termasuk dalam sebab ini adalah kedengkian orang-orang kafir Quraisy kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang seorang anak yatim tapi kemudian dipilih Allah untuk menerima wahyuNya. Kedengkian mereka itu dilukiskan Allah Ta’ala dalam firmanNya, yang artinya: “Dan mereka berkata: Mengapa Al Qur’an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Makkah dan Thaif) ini?” (QS. Az Zukhruf: 31) Maksudnya, orang-orang kafir Quraisy itu tidak keberatan mengikuti Muhammad, andai saja beliau itu keturunan orang besar, tidak dari anak yatim atau orang biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab keempat, merasa ta’ajub dan heran terhadap kehebatan dirinya. Hal ini sebagaimana yang biasa terjadi pada umat-umat terdahulu saat menerima dakwah dari rasul Allah. Mereka heran manusia yang sama dengan dirinya, bahkan yang lebih rendah kedudukan sosialnya, lalu menyandang pangkat kerasulan, karena itu mereka mendengki-nya dan berusaha menghilangkan pangkat kenabian tersebut sehingga mereka berkata: “Adakah Allah mengutus manusia sebagai rasul?” (QS. Al-Mu’minun: 34). Allah Ta’ala menjawab keheranan mereka dengan firmanNya, yang artinya: “Dan apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepada kamu peringatan dari Tuhanmu dengan perantaraan seorang laki-laki dari golonganmu agar dia memberi peringatan kepadamu ?” (QS. Al A’raaf: 63)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab kelima, takut mendapat saingan. Bila seseorang menginginkan atau mencintai sesuatu maka ia khawatir kalau mendapat saingan dari orang lain, sehingga tidak terkabullah apa yang ia inginkan. Karena itu setiap kelebihan yang ada pada orang lain selalu ia tutup-tutupi. Bila tidak, dan persaingan terjadi secara sportif, ia takut kalau dirinya tersaingi dan kalah. Dalam hal ini bisa kita misalkan dengan apa yang terjadi antardua wanita yang memperebutkan seorang calon suami, atau sebaliknya. Atau sesama murid di hadapan gurunya, seorang alim dengan alim lainnya untuk mendapatkan pengikut yang lebih banyak dari lainnya, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab keenam, ambisi memimpin (hubbur riyasah). Hubbur riyasah dengan hubbul jah (senang pangkat/kedudukan) adalah saling berkaitan. Ia tidak menoleh kepada kelemahan dirinya, seakan-akan dirinya tak ada tolok bandingnya. Jika ada orang di pojok dunia ingin menandingi-nya, tentu itu menyakitkan hatinya, ia akan mendengkinya dan menginginkan lebih baik orang itu mati saja, atau paling tidak hilang pengaruhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab ketujuh, kikir dalam hal kebaikan terhadap sesama hamba Allah. Ia gembira jika disampaikan khabar pada-nya bahwa si fulan tidak berhasil dalam usahanya. Sebaliknya ia merasa sedih jika diberitakan, si fulan berhasil mencapai kesuksesan yang dicarinya. Orang sema-cam ini senang bila orang lain terbelakang dari dirinya, seakan-akan orang lain itu mengambil dari milik dan simpanannya. Ia ingin meskipun nikmat itu tidak jatuh padanya, agar ia tidak jatuh pada orang lain. Ia tidak saja kikir dengan hartanya sendiri, tetapi kikir dengan harta orang lain. Ia tidak rela Allah memberi nikmat kepada orang lain. Dan inilah sebab kedengkian yang banyak terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terapi Mengobati Dengki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasad atau dengki adalah penyakit hati yang paling berbahaya. Dan hati tidak bisa diobati kecuali dengan ilmu dan amal. Ilmu tentang dengki yaitu hendaknya kita ketahui bahwa hasad itu sangat membahayakan kita, baik dalam hal agama maupun dunia. Dan bahwa kedengkian itu setitikpun tidak membahayakan orang yang didengki, baik dalam hal agama atau dunia, bahkan ia malah memetik manfaat darinya. Dan nikmat itu tidak akan hilang dari orang yang kita dengki hanya karena kedengkian kita. Bahkan seandainya ada orang yang tidak beriman kepada hari Kebangkitan, tentu lebih baik baginya meninggalkan sifat dengki daripada harus menanggung sakit hati yang berkepan-jangan dengan tiada manfaat sama sekali, apatah lagi jika kemudian siksa akhirat yang sangat pedih menanti?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan kemenangan itu ada pada orang yang didengki, baik untuk agama maupun dunia. Dalam hal agama, orang itu teraniaya oleh Anda, apalagi jika kedengkian itu tercermin dalam kata-kata, umpatan, penyebaran rahasia, kejelekan dan lain sebagainya. Dan balasan itu akan dijumpai di akhirat. Adapun kemenang-annya di dunia adalah musuhmu bergembira karena kesedihan dan kedengkianmu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun amal yang bermanfaat yaitu hendaknya kita melakukan apa yang merupakan lawan dari kedengkian. Misalnya, jika dalam jiwa kita ada iri hati kepada seseorang, hendaknya kita berusaha untuk memuji perbuatan baiknya, jika jiwa ingin sombong, hendaknya kita melawannya dengan rendah hati, jika dalam hati kita terbetik keinginan menahan nikmat pada orang lain maka hendaknya kita berdo’a agar nikmat itu ditambahkan. Dan hendaknya kita teladani perilaku orang-orang salaf yang bila mendengar ada orang iri padanya, maka mereka segera memberi hadiah kepada orang tersebut. Dan sebagai penutup tulisan ini, ada baiknya kita renungkan kata-kata Ibnu Sirin: “Saya tidak pernah mendengki kepada seorangpun dalam urusan dunia, sebab jika dia penduduk Surga, maka bagaimana aku menghasudnya dalam urusan dunia sedangkan dia berjalan menuju Surga. Dan jika dia penduduk Neraka, bagaimana aku menghasud dalam urusan dunianya sementara dia sedang berjalan menuju ke Neraka.”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2606071805279753426-8486475719002555684?l=tarbiyahilalhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/feeds/8486475719002555684/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2009/12/iri-dan-dengki-kenali-kemudian-jauhi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/8486475719002555684'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/8486475719002555684'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2009/12/iri-dan-dengki-kenali-kemudian-jauhi.html' title='Iri Dan Dengki….., Kenali Kemudian Jauhi !!!'/><author><name>Dhany</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06267143366179759089</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sy2ltTN_HwI/AAAAAAAAADI/ubrHlxmxRnw/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sy2otC7poeI/AAAAAAAAAD4/xPUVDdFMxDU/s72-c/hasad-dengki.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2606071805279753426.post-249141211104042574</id><published>2009-12-19T20:22:00.000-08:00</published><updated>2009-12-19T20:27:07.788-08:00</updated><title type='text'>MAKNA LAA ILAAHA ILLALLAH</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sy2njO1OPnI/AAAAAAAAADw/Zg7fv6dratg/s1600-h/shahdah_110.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 282px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sy2njO1OPnI/AAAAAAAAADw/Zg7fv6dratg/s400/shahdah_110.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5417170150515162738" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;– LAA ILAAHA ILLALLAH adalah sebuah kata yang sedemikian akrab dengan kita. Sejak kecil (kalau kita hidup di tengah keluarga muslim), kita akan begitu familiar dengan ucapan tersebut. Mungkin karena terlalu biasa mengucapkan kita sering tak peduli dengan makna yang hakiki dari kalimat tersebut. Malahan boleh jadi kita belum paham dengan maknanya. Sehingga bisa saja perilaku kita terkadang bertentangan dengan kandungan dari laa ilaaha illallah itu sendiri tanpa kita sadari.&lt;br /&gt;Hal ini tentunya sangat berbahaya bagi kehidupan keagamaan kita. Kalimat tersebut secara pasti menentukan bahagia dan celakanya kehidupan seseorang di dunia dan akhirat. Terus apakah terlambat bagi kita untuk tahu tentang makna syahadat tersebut di usia kita sekarang ini.? Jawabnya tidak ada kata terlambat sebelum nyawa sampai di tenggorokan kita, mari kita mulai dari sekarang untuk memahaminya. Untuk itu marilah kita mencoba mengangkat masalah makna syahadat ini untuk kemudian dipahami, agar melempangkan jalan kita meraih kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita tinjau sebenarnya kalimat LAA ILAAHA ILLALLAH  mengandung dua makna, yaitu makna penolakan segala bentuk sesembahan selain Allah, dan makna menetapkan bahwa satu-satunya sesembahan yang benar hanyalah Allah semata. Berkaitan dengan mengilmui kalimat ini Allah ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka ketahuilah(ilmuilah) bahwasannya tidak ada sesembahan yang benar selain Allah“&lt;br /&gt;(QS Muhammad : 19)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan ayat ini, maka mengilmui makna syahadat tauhid adalah wajib dan mesti didahulukan daripada rukun-rukun islam yang lain. Disamping itu nabi kita pun menyatakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barang siapa yang mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAH dengan ikhlas maka akan masuk ke dalam surga” ( HR Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan ikhlas di sini adalah mereka yang memahami, mengamalkan dan mendakwahkan kalimat tersebut sebelum yang lainnya, karena di dalamnya terkandung tauhid yang Allah menciptakan alam karenanya. Rasul mengajak paman beliau Abu Thalib, Ketika maut datang kepada Abu Thalib dengan ajakan “wahai pamanku ucapkanlah LAA ILAAHA ILLALLAH sebuah kalimat yang aku akan jadikan ia sebagai hujah di hadapan Allah” namun Abu Thalib enggan untuk mengucapkan dan meninggal dalam keadaan musyrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tinggal selama 13 tahun di makkah menggajak orang-orang dengan perkataan beliau “Katakan LAA ILAAHA ILLALLAH” maka orang kafir pun menjawab “Beribadah kepada sesembahan yang satu, kami tidak pernah mendengar hal yang demikian dari orang tua kami”. Orang qurays di Zaman nabi sangat paham makna kalimat tersebut, dan barangsiapa yang mengucapkannya tidak akan menyeru/berdoa kepada selain Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LAA ILAAHA ILLALLAH adalah asas dari Tauhid dan Islam dengannya terealisasikan segala bentuk ibadah kepada Allah dengan ketundukan kepada Allah, berdoa kepadanya semata dan berhukum dengan syariat Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang ulama besar Ibnu Rajabb mengatakan: Al ilaah adalah yang ditaati dan tidak dimaksiati, diagungkan dan dibesarkan dicinta, dicintai, ditakuti, dan dimintai pertolongan harapan. Itu semua tak boleh dipalingkan sedikit pun kepada selain Allah. Kalimat LAA ILAAHA ILLALLAH bermanfaat bagi orang yang mengucapkannya selama tidak membatalkannya dengan aktifitas kesyirikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah sekilas tentang makna LAA ILAAHA ILLALLAH yang pada intinya adalah pengakuan bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah ta’ala semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu untuk diketahui, bahwa telah banyak penafsiran yang bathil yang beredar ditengah masyarakat muslim Indonesia secara khususnya mengenai makna LAA ILAAHA ILLALLAH, dan semoga kita terhindar dari kebathilan ini, yakni:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laa ilaaha illallah artinya:&lt;br /&gt;“Tidak ada sesembahan kecuali Allah.” Ini adalah batil, karena maknanya: Sesungguhnya setiap yang disembah, baik yang hak maupun yang batil, itu adalah Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laa ilaaha illallah artinya:&lt;br /&gt;“Tidak ada pencipta selain Allah.” Ini adalah sebagian dari arti kalimat tersebut. Akan tetapi bukan ini yang dimaksud, karena arti hanya mengakui tauhid rububiyah saja, dan itu belum cukup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laa ilaaha illallah artinya:&lt;br /&gt;“Tidak ada hakim (penentu hukum) selain Allah.” Ini juga sebagian dari makna kalimat laa ilaaha illallah. Tapi bukan ini yang dimaksud, karena makna tersebut belum cukup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua tafsiran di atas adalah batil atau kurang. Kami menghimbau dan memperingati  di sini karena tafsir-tafsir itu ada dalam kitab-kitab yang banyak beredar. Sedangkan tafsir yang benar menurut salaf dan para muhaqqiq (ulama peneliti) Laa ilaaha illallah ma’buuda bihaqqin illallah (tidak ada sesembahan yang hak selain Allah) seperti tersebut di atas.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2606071805279753426-249141211104042574?l=tarbiyahilalhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/feeds/249141211104042574/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2009/12/makna-laa-ilaaha-illallah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/249141211104042574'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/249141211104042574'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2009/12/makna-laa-ilaaha-illallah.html' title='MAKNA LAA ILAAHA ILLALLAH'/><author><name>Dhany</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06267143366179759089</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sy2ltTN_HwI/AAAAAAAAADI/ubrHlxmxRnw/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sy2njO1OPnI/AAAAAAAAADw/Zg7fv6dratg/s72-c/shahdah_110.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2606071805279753426.post-4732748296163057381</id><published>2009-12-18T01:11:00.000-08:00</published><updated>2009-12-18T01:15:13.087-08:00</updated><title type='text'>MAKRIFATULLAH</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/SytIA6CzRVI/AAAAAAAAADA/sSvAqG-Wrk0/s1600-h/alam.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/SytIA6CzRVI/AAAAAAAAADA/sSvAqG-Wrk0/s400/alam.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5416502157261358418" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ma’rifatullah berasal dari kata ma’rifah dan Allah. Ma’rifah artinya mengetahui, mengenal. Mengenal Allah bukan melalui zat Allah tetapi mengenal-Nya lewat tanda-tanda kebesaran-Nya (ayat-ayat-Nya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pentingnya Mengenal Allah&lt;br /&gt;Seseorang yang mengenal Allah pasti akan tahu tujuan hidupnya, tujuan mengapa ia diciptakan (QS.52:56) dan tidak tertipu oleh dunia. Sebaliknya orang yang tidak mengenal Allah akan menjalani hidupnya untuk dunia saja (QS.47:12).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ma’rifatullah merupakan ilmu yang tertinggi yang harus dipahami manusia (QS.6:122). Hakikat ilmu adalah memberikan keyakinan kepada yang mendalaminya. Ma’rifatullah adalah ilmu yang tertinggi, sebab jika dipahami akan memberikan keyakinan mendalam. Memahami ma’rifatullah juga akan mengeluarkan manusia dari kegelapan kebodohan kepada cahaya hidayah yang terang (QS.6:122).&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;Hal-hal yang menghalangi Ma’rifatullah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesombongan (QS.7:146, 25:21). Sebagaimana lazimnya orang yang sombong yang tidak mau mengenal sesamanya, begitu pula manusia yang sombong terhadap Rabbnya, yang enggan berhubungan dengan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zalim (QS.4:153). Perbuatan zalim yang besar, menyebabkan Allah mengunci hati manusia. Padahal lewat hati inilah Allah memberikan hidayah-Nya. Sedangkan awal hidayah seseorang ialah mengenal hakikat-Nya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersandar pada panca indera (QS.2:55). Mereka tidak beriman kepada Allah dengan dalih tidak bisa melihat Allah, padahal banyak sesuatu yang tidak bisa mereka lihat, tapi mereka yakin keberadaannya, seperti gaya gravitasi bumi, arus listrik, akalpikiran, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dusta (QS.7:176). Lazimnya seorang yang dusta, yang tidak sama antara hati dan ucapannya,perbuatannya. Begitu pula manusia yang berdusta terhadap Allah. Sebenarnya hati mengakui keberadaan Allah, namun hawa nafsunya menolak dan mengajaknya berdusta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membatalkan janji dengan Allah (QS.2:26-27)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalai (QS.21:1-3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak berbuat maksiat. Satu perbuatan maksiat bagaikan satu titik noda hitam yang mengotori hati manusia. Bila manusia banyak berbuat maksiat sedangkan ia tidak bertaubat, niscaya hati tersebut akan tertutup noda-noda hitam hingga menghalangi masuknya hidayah Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ragu-ragu (QS.6:109-10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua sifat di atas merupakan bibit-bibit kekafiran kepada Allah yang harus dibersihkan dari hati. Sebab, kekafiranlah yang menyebabkan Allah mengunci mati, menutup mata dan telinga manusia serta menyiksa mereka di neraka (QS.2:6-7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang mengenali Allah dengan benar adalah orang yang mampu mewarnai dirinya dengan segala macam bentuk ibadah. Kita akan mendapatinya sebagai orang yang rajin shalat, pada saat lain kita dapati ia senantiasa berdzikir, tilawah, pengajar, mujahid, pelayan masyarkat, dermawan, dst. Tidak ada ruang dan waktu ibadah kepada Allah, kecuali dia ada di sana. Dan tidak ada ruang dan waktu larangan Allah kecuali ia menjauhinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebagian ulama yang mengatakan : “Duduk di sisi orang yang mengenali Allah akan mengajak kita kepada enam hal dan berpaling dari enam hal, yaitu : dari ragu menjadi yakin, dari riya menjadi ikhlash, dari ghaflah (lalai) menjadi ingat, dari cinta dunia menjadi cinta akhirat, dari sombong menjadi tawadhu’ (randah hati), dari buruk hati menjadi nasehat”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ma’rifatullah adalah puncak kesadaran yang akan menentukan perjalanan hidup manusia selanjutnya. Karena ma’rifatullah akan menjelaskan tujuan hidup manusia yang sesungguhnya. Ketiadaan ma’rifatullah membuat banyak orang hidup tanpa tujuan yang jelas, bahkan menjalani hidupnya sebagaimana makhluk hidup lain (binatang ternak). QS.47:12&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ma’rifatullah adalah asas (landasan) perjalanan ruhiyyah (spiritual) manusia secara keseluruhan. Seorang yang mengenali Allah akan merasakan kehidupan yang lapang. Ia hidup dalam rentangan panjang antara bersyukur dan bersabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang mengenali Allah akan selalu berusaha dan bekerja untuk mendapatkan ridha Allah, tidak untuk memuaskan nafsu dan keinginan syahwatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ma’rifatullah inilah manusia terdorong untuk mengenali para nabi dan rasul, untuk mempelajari cara terbaik mendekatkan diri kepada Allah. Karena para Nabi dan Rasul-lah orang-orang yang diakui sangat mengenal dan dekat dengan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ma’rifatullah ini manusia akan mengenali kehidupan di luar alam materi, seperti Malaikat, jin dan ruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ma’rifatullah inilah manusia mengetahui perjalanan hidupnya, dan bahkan akhir dari kehidupan ini menuju kepada kehidupan Barzahiyyah (alam kubur) dan kehidupan akherat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarana yang mengantarkan seseorang pada ma’rifatullah adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabda Nabi : “Berfikirlah tentang ciptaan Allah dan janganlah kamu berfikir tentang Allah, karena kamu tidak akan mampu” HR. Abu Nu’aim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenali asma (nama) dan sifat Allah disertai dengan perenungan makna dan pengaruhnya bagi kehidupan ini menjadi sarana untuk mengenali Allah. Cara inilah yang telah Allah gunakan untuk memperkenalkan diri kepada makhluk-Nya. Dengan asma dan sifat ini terbuka jendela bagi manusia untuk mengenali Allah lebih dekat lagi. Asma dan sifat Allah akan menggerakkan dan membuka hati manusia untuk menyaksikan dengan seksama pancaran cahaya Allah.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;Keindahan Al-Qur’an (QS.2:23)&lt;br /&gt;- Pemberitahuan tentang umat yang lampau (QS.9:70)&lt;br /&gt;- Pemberitahuan tentang kejadian yang akan datang (QS.30:1-3, 8:7, 24:55)&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;Lewat memahami Asma’ul Husna&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;Buah Ma'rifatullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang ahli ibadah akan optimis dalam hidupnya. Ia optimis bahwa Allah akan menolong dan mengarahkan hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua yang ada di alam ini mutlak ada dalam kekuasaan Allah. Ketika melihat fenomena alam, idealnya kita bisa ingat kepada Allah. Puncak ilmu adalah mengenal Allah (ma'rifatullah). Kita dikatakan sukses dalam belajar bila dengan belajar itu kita semakin mengenal Allah. Jadi percuma saja sekolah tinggi, luas pengetahuan, gelar prestisius, bila semua itu tidak menjadikan kita makin mengenal Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenal Allah adalah aset terbesar. Mengenal Allah akan membuahkan akhlak mulia. Betapa tidak, dengan mengenal Allah kita akan merasa ditatap, didengar, dan diperhatikan selalu. Inilah kenikmatan hidup sebenarnya. Bila demikian, hidup pun jadi terarah, tenang, ringan, dan bahagia. Sebaliknya, saat kita tidak mengenal Allah, hidup kita akan sengsara, terjerumus pada maksiat, tidak tenang dalam hidup, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri orang yang ma'rifat adalah laa khaufun 'alaihim wa lahum yahzanuun. Ia tidak takut dan sedih dengan urusan duniawi. Karena itu, kualitas ma'rifat kita dapat diukur. Bila kita selalu cemas dan takut kehilangan dunia, itu tandanya kita belum ma'rifat. Sebab, orang yang ma'rifat itu susah senangnya tidak diukur dari ada tidaknya dunia. Susah dan senangnya diukur dari dekat tidaknya ia dengan Allah. Maka, kita harus mulai bertanya bagaimana agar setiap aktivitas bisa membuat kita semakin kenal, dekat dan taat kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu ciri orang ma'rifat adalah selalu menjaga kualitas ibadahnya. Terjaganya ibadah akan mendatangkan tujuh keuntungan hidup. Pertama, hidup selalu berada di jalan yang benar (on the right track). Kedua, memiliki kekuatan menghadapi cobaan hidup. Kekuatan tersebut lahir dari terjaganya keimanan. Ketiga, Allah akan mengaruniakan ketenangan dalam hidup. Tenang itu mahal harganya. Ketenangan tidak bisa dibeli dan ia pun tidak bisa dicuri. Apa pun yang kita miliki, tidak akan pernah ternikmati bila kita selalu resah gelisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, seorang ahli ibadah akan selalu optimis. Ia optimis karena Allah akan menolong dan mengarahkan kehidupannya. Sikap optimis akan menggerakkan seseorang untuk berbuat. Optimis akan melahirkan harapan. Tidak berarti kekuatan fisik, kekayaan, gelar atau jabatan bila kita tidak memiliki harapan. Kelima, seorang ahli ibadah memiliki kendali dalam hidupnya, bagaikan rem pakem dalam kendaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali akan melakukan maksiat, Allah SWT akan memberi peringatan agar ia tidak terjerumus. Seorang ahli ibadah akan memiliki kemampuan untuk bertobat. Keenam, selalu ada dalam bimbingan dan pertolongan Allah. Bila pada poin pertama Allah sudah menunjukkan jalan yang tepat, maka pada poin ini kita akan dituntun untuk melewati jalan tersebut. Ketujuh, seorang ahli ibadah akan memiliki kekuatan ruhiyah, tak heran bila kata-katanya bertenaga, penuh hikmah, berwibawa dan setiap keputusan yang diambilnya selalu tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjadi ahli ibadah kita bisa menumbuhkan ACM (Aku Cinta Masjid). Seorang Muslim dengan masjid bagikan ikan dengan air. Tidak mungkin seorang Muslim tidak betah di masjid. Diragukan keimanannya bila ia tidak akrab dengan masjid. Ikhtiar menumbuhkan kecintaan terhadap shalat dan masjid adalah dengan berusaha shalat tepat waktu, di masjid dan dilakukan secara berjamaah. Cara paling mudah untuk melaksanakannya adalah dengan datang lebih awal ke masjid untuk menunggu shalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku, di tengah kondisi yang semakin sulit, tidak ada yang bisa menolong kita selain Allah SWT. Salah satu ikhtiar untuk menggapai pertolongan Allah dengan meningkatkan pengenalan kita kepada Allah. Cara menggapainya adalah dengan ibadah secara istikamah.&lt;br /&gt;Wallaahu a'lam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2606071805279753426-4732748296163057381?l=tarbiyahilalhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/feeds/4732748296163057381/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2009/12/makrifatullah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/4732748296163057381'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/4732748296163057381'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2009/12/makrifatullah.html' title='MAKRIFATULLAH'/><author><name>Dhany</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06267143366179759089</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sy2ltTN_HwI/AAAAAAAAADI/ubrHlxmxRnw/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/SytIA6CzRVI/AAAAAAAAADA/sSvAqG-Wrk0/s72-c/alam.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2606071805279753426.post-7797032773636775356</id><published>2009-08-25T09:41:00.000-07:00</published><updated>2009-08-25T09:43:00.715-07:00</updated><title type='text'>मर्हबन या RAMADHAN</title><content type='html'>Marhaban ya Ramadhan...Selamat Menunaikan ibadah puasa buat semua muslimin, semoga amal dan ibadah kita lebih ditingkatkan di bulan yang penuh berokah ini. Amin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اَللّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَب وَشَعْبَانَ، وَبَلِّغْنَا شَهْرَ رَمَضَانَ، واَعِنَّا عَلَى الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ وَحِفْظِ اللِّسَانِ وَغَضِّ الْبَصَرِ، وَلاَ تَجْعَلْ حَظَّنَا مِنْهُ الْجُوعَ وَالْعَطَش&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"ALLOHUMMA BARIKLANA FI RAJABA WA SYA'BAN WA BALLIGHNA RAMADHAN"&lt;br /&gt;Ya Alloh, berkahi kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikan kami ke bulan Ramadhan. Bantulah kami untuk melaksanakan puasa, melakukan shalat malam, menjaga lisan dan memelihara pandangan; dan jangan jadikan puasa kami hanya sekedar lapar dan dahaga. (Kitab Mafatihul Jinan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon Maaf kalo ada salah dan khilaf..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2606071805279753426-7797032773636775356?l=tarbiyahilalhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/feeds/7797032773636775356/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2009/08/ramadhan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/7797032773636775356'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2606071805279753426/posts/default/7797032773636775356'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tarbiyahilalhaq.blogspot.com/2009/08/ramadhan.html' title='मर्हबन या RAMADHAN'/><author><name>Dhany</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06267143366179759089</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_W-kKcQVZOMc/Sy2ltTN_HwI/AAAAAAAAADI/ubrHlxmxRnw/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
